"Ta."
Samesta mengalihkan perhatian. Seseorang berjambang tipis melongokan kepala di sela pintu ruang kerjanya.
"Lo sibuk?" tanya Septian.
Setelah mengantarkan anak dan istri, Samesta menggeser segala pekerjaan. Memilih rehat sejenak. Ada rindu yang hinggap di antara jam makan siang.
Dia menonton slide bergerak potret-potret keluarganya. Terutama sebuah folder berisi pose candid Raya. Dulu sekali, Raya sangat sulit diajak tersenyum di depan kamera. Lagi-lagi karena ketidakpercayaan perempuan itu. Padahal Raya selalu cantik, menurut Samesta.
Mungkin karena efek punya anak perempuan, perlahan pribadi Raya terbuka. Sesekali akan ikut berpoto. Kebanyakan Samesta mengambil potret Raya diam-diam untuk dijadikan koleksi. Hal itu jadi hobi. Samesta sangat suka senyuman Raya yang melengkung percis bulan sabit. Tidak membuatnya bosan.
"Enggak. Kenapa?" Jemarinya menyentuh tombol persegi panjang. Slide pun terhenti.
Septian sudah sepenuhnya masuk ke ruangan Samesta. Laki-laki tambun itu membawa map merah dalam genggaman.
"Ada klien, Ta. Tapi gak mau diskusi bareng gue. Maunya sama pemilik studio. Berarti elu dong ya?"
Samesta mengernyit. Diambilnya map tersebut. Samesta sudah tidak menerima job desain lewat jalur Sames Studios. Biasanya job lain yang dia terima datang secara personal lewat kenalan. Lalu siapa yang datang-datang ingin Samesta turun tangan.
"Siapa nih?" Samesta melihat kop surat serta untaian kata tanpa minat.
"Pengusaha. Pengen bikin desain kemasan produk. Nah, desainnya mau buatan lo katanya. Dia lagi nunggu tuh di bawah," jelas Septian, kemudian berbisik. "Orang tajir, Ta."
"Terus?"
"Ya, ngomongnya hati-hati maksud gue. Kan sayang kalau dia sampai batalin kerjasama."
Samesta melempar map tersebut ke atas meja, menguap lebar. "Berarti belum rejeki."
"Serius ini, Ta. Kliennya nunggu dari tadi. Dan lo bakal jumpalitan kalau tahu berapa duit yang ditawarin cuma buat desain produk."
"Berapa emang?"
"Mending nanti dulu deh, daripada lo kena serangan jantung."
"Seriusan gue, Sep."
Septian memutar bola mata. "Ya seriusanlah. Makanya apa guna gue bawa beginian ke mari. Tawaran mereka ada di kertas itu," kata Septian melirik Samesta membuka map kembali. Temannya langsung melotot tak percaya. "Kalau lo setuju, kayaknya gak jadi masalah lo minta lebih dari itu."
Gila! Ini sih namanya pembelian harga diri. Samesta marah tidak, terkejut iya, sangat. Belum pernah dia melihat satuan angka punya nol sebanyakan itu di belakangnya. Mereka bakal jadi milik Samesta cuma dengan satu tanda tangan kontrak.
Samesta menuruni tangga dari ruang kerja. Penasaran seperti apa orang berduit yang Septian bilang. Di titian terakhir langkahnya memelan. Samesta mendapati seorang pria duduk di samping jendela besar. Pemandangan jalan raya siang ini tidak terlalu padat kendaraan. Hanya berteman polusi.
"Selamat siang, Pak," sapa Samesta lebih dulu.
Pria itu menoleh. Sudah berumur untuk seorang pengusaha sukses. Maksud Samesta, tidak mengherankan. Besar kemungkinan orang itu menghabiskan masa muda dengan kerja keras sampai pencapaiannya sebesar ini. Atau keluarganya memang kaya raya sejak lahir.
Pria itu berdiri memyambut jabatan tangan Samesta. Disertai senyuman tipis membiarkan kerutan-kerutan di ujung mata bicara perbedaan usia mereka.
"Selamat siang." Suaranya berat.
Seketika Samesta terkesima, orang ini punya kharisma luar biasa. Apa karena aura tajirnya, jadi mampu menundukkan lawan bicara? Samesta kurang paham. Apalagi setiap detail dikenakan pria ini menambah kesan bungkusan mahal. Samesta masih meraba hal aneh dalam dadanya bersamaan datang perasaan mereka pernah bertemu sebelumnya. Tapi dimana, atau Samesta lupa. Entah mengapa dia juga seperti sedang berhadapan dengan Alam. Pria ini versi tua kakaknya.
Kesan pertama yang diberikannya lewat jabatan hangat berhasil melempar Samesta ke tempat asing namun nyaman. Ini cukup menarik.
"Saya Samesta, Founder Sames Studios. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Samesta berusaha menetralkan kegugupan.
"Saya Handoko," balas pria itu kemudian melepas jabatan tangan. Kembali duduk setelah gerakan Samesta memintanya sopan. "Senang bisa bertemu langsunh Founder Sames Studios. Langsung saja, kedatangan saya ingin menawarkan kerjasama,"
Samesta menganguk. Karyawan Sames menaruh dua gelas kopi di atas meja menjeda percakapan. Samesta menggumamkan terimakasih karenanya.
"Ya, jadi bagaimana, Pak?"
"Sepertinya Anda sudah melihat harga yang perusahaan saya tawarkan." Pria itu duduk bertumpang kaki tampak tenang meneliti Samesta. "Jika ada penawaran lain dari pihak Sames saya persilahkan."
Samesta membasahi bibirnya. Bingung menghadapi orang kaya. "Sepertinya bapak bukan pekerja lapangan. Apa yang membawa Pak Handoko sampai ke tempat kecil ini?"
Desain kemasan produk, Samesta menggeleng tak percaya. Menengok sebuah mobil di depan studio juga seseorang bersikap berwaspada tidak jauh duduk dari tempat Samesta dan Handoko. Agaknya menjelaskan orang-orang sejenis Handoko pantasnya menghadiri rapat dewan atau melakukan deal dengan para investor besar di sebuah hotel dekat pantai. Turun dari jet pribadi, lalu saling melempar candaan ala orang gedeaan di restoran nuansa negeri tirai bambu. Bukan duduk di atas single sofa dekat jalan raya menikmati secangkir kopi instan. Apa semua orang kaya begini.
"Hal sekecil apapun bisa mempengaruhi citra perusahaan saya.Tidak akan jadi kerugian bisa mendengarkan saran dari seorang Samesta Wijaya. Segalanya akan berhasil baik bila ditangani orang yang tepat, bukan?" Pak Handoko menyesap kopi. "Kopinya enak. Apa seperti isi kepala Anda?" Kemudian terkekeh.
Agak kasar. Samesta hanya tersenyum masam. Itu kopi instan, harganya murah.
"Baiklah, dari mana saya harus mulai?"
Mungkin Samesta sedikit tertantang? Mungkin saja.
***
"Terimakasih telah mempercayakan projek ini pada kami. Semoga hasil kerja kami memuaskan Pak Handoko." Samesta ikut berdiri begitu kontrak kerjasama ditanda tanganinya.
Handoko mengangguk sekilas, mengancingkan jas mahalnya sebelum bertabatan tangan. "Saya tunggu progresnya."
Setelahnya Samesta merasakan kelegaan luar biasa selama momen tegang di hadapan klien. Pria kaya itu dikawal seseorang yang mengamati dari jauh sejak tadi. Mereka pergi bersama mobil mentereng di halaman Sames Studios.
"Ta, makan siang dimana?" Septian menepuk bahu sahabatnya. "Kenapa muka lo, sakit? Pucet amat."
"Gila Sep, Pak Handoko tajir ampun-ampunan. Masa gue minta tambahan seratus juta padahal gue cuma bercanda, langsung diiyain, dia malah nawarin mobil yang belasan milyar itu."
Septian tergelak. "Lo terima kagak?"
"Ya kagaklah. Gila kali tuh orang. Kudu ganti sama apa? Sama nyawa gue juga gak yakin laku segitu."
"Bego lu mah," decak Septian. "Tapi kok pas pertama gue lihat bapak-bapak itu langsung keinget lo ya. Dia mirip lo gak sih?"
"Justru gue ngerasa lagi ngobrol sama Bang Alam. Kayak Pak Handoko itu versi tuanya Bang Alam."
"Ya sama aja kayak mirip lo. Bang Alam sama lo kan mirip. Udah deh gue laper, ikut gak ke warteg depan?"
"Eh jam berapa sekarang?"
"Jam setengah satu."
"Mampus. Gue lupa jemput Sansan!"
Septian geleng kepala, menyaksikan Samesta terpontang-panting berlarian turun ke parkiran.
"Kenapa balik lagi? Nggak jadi?"
"Kunci mobil ketinggalan."