Gemerincing di pintu masuk terdengar siang itu. Hal lumrah tanda seseorang datang. Entah atas dasar apa Raya menaruh kembali roti panasnya bergegas keluar dari dapur. Membuat Mukti melongo sesaat.
Di pantry, Zahra menerima kantung keresek putih dari seseorang berjaket hijau. Warna jaket e-commerce jasa pengantaran yang khas mengingatkan Raya pada seseorang. Tingkat debaran jantungnya tiba-tiba meningkat.
Raya menggeleng, segera mengenyahkan bayangan dirinya kembali bertemu dengan orang itu di sini. Jaket hijau tidak identik dengan masa lalu. Banyak orang memakainya. Tapi kenapa suara laki-laki berjaket hijau bisa sefamiliar ini.
"Totalnya enam puluh tujuh ribu sudah termasuk bea jasa."
"Verify." balas Zahra membayar.
"Makasih, Mbak. Jangan lupa kasih bintang. Tapi Mbak, emang boleh ya bawa makanan dari luar ke sini? Saya baru tahu."
"Enggak boleh, Mas. Ini pesanan bos. Mas mau kenalan sama bos saya?"
"Paris?"
Kehidupan Raya kembali dipermainkan. Laki-laki yang dulu membuat harinya berbunga-bunga diselingi tangis cemburu hadir kembali untuk kali kedua setelah belasan tahun. Dia masih punya sorot mata yang sialnya Raya suka, berbinar dan bicara. Tingkah laki-laki itu juga tidak banyak berubah, menggoda perempuan yang dia jumpa. Raya sulit mengendalikan perasaan ini. Dia memangkas jarak hingga tanpa sadar tengah tenggelam dalam tatapan rindu netra hitam itu.
"Mbak Ray, kebetulan ini ayam gepreknya udah sampai."
Zahra membuyarkan kilasan memori putih-abu di depan mata. Faris membagi perhatian antara Raya dan Zahra. Dugaan-dugaan itu membayanginya, bila terbukti, Faris lebih memilih menenggelamkan diri saja.
"Ray kamu... di sini?"
"Umh... iya, Ris. Ketemu lagi. Apa kabar?"
Paris melebarkan senyuman. Tidak pernah sesenang ini, batinnya. "Baik. Kamu?"
****
"Inget peribahasa tiga kali ketemu gak disengaja berarti jodoh, gak?" Paris tersenyum lebar.
"Emang ada?"
"Ada, gue yang bilang barusan. Hehe."
Raya tak membalas, malah menaruh segelas capuccino di hadapan teman lamanya. Paris jadi duduk canggung.
"Maaf, bercanda."
"Gak apa-apa," jawab Raya menghentikan tawa haring orang di depannya.
Keheningan tiba-tiba mengacaukan suasana. Paris sangat gatal akan situasi ini, kecuali Raya yang sepertinya sudah terbiasa.
"Kamu." Mereka malah berkata bersamaan.
Raya berdeham mengusir kecanggungan. Sedangkan Paris menyengih malu. Pada akhirnya mereka terkekeh bersama.
"Kamu dulu."
"Gak apa-apa, kamu dulu aja."
Di bagian pantry Zahra memerhatikan kegugupan keduanya dengan mata menyipit. Sangat aneh bos mereka yang terkenal dingin pada lawan jenis, secanggung itu di hadapan kang ojol. Pasti ada sesuatu. Zahra berjengit kaget karena tepukan keras Nabil. Tanpa sadar sedari tadi dia sudah mengabaikan pelanggan. Untungnya Nabil mengambil alih.
"Kenapa sih?"
"Itu kang ojol yang sering godain gue ternyata kenal sama Mbak Raya. Kok bisa ya?"
"Langganan ojol kali, atau temen lama. Hm, apa harus aku pap ke Mas Samesta? Siapa tahu kenal, kan?"
"Woeeeh jangan gila kamu. Kalau Mbak Raya sama Mas Samesta berantem gimana?"
"Apa jangan-jangan kamu cemburu tatapan cinta kang ojol pindah ke Mbak Raya?"
"Hih! Enggak, ya!"
Nabil terkikik. Membayangkan si bos bertengkar dengan suaminya yang super tampan itu gara-gara kang ojol jadi orang ketiga dalam hubungan mereka.
"Aku baru tahu pemilik kedai roti Rames ini kamu, Ray. Dunia sempit ya? Padahal aku sering loh ambil pesanan roti ke sini."
Suara Paris berlatar musik R&B. Raya menggenggam cangkir kopimiliknya.
"Iya," balas Raya singkat.
Bingung menerapkan kata apa lagi. Bertanya kabar sudah, menyuguhi tamu dengan minuman sudah. Normalnya bertemu teman lama pasti mengomentari perubahan pribadi lawan bicara. Bagi Raya, itu tidaklah penting. Dunia ini sudah terlalu banyak basa-basi.
"Ngomong-ngomong, aku penasaran. Kenapa nama kedainya Rames? Bukannya kamu jualan roti ya bukan nasi?"
Tarikan di ujung bibir membuat wajah Raya cerah. Paris senang melihatnya.
"Itu nama aku sama suami. Disingkat Rames."
Lalu Paris menelan ludah kepahitan. Salah pertanyaan. Jika tahu akan berpotensi mematahkan ujung hati yang tinggal separuh lagi, ia tak bertanya asal-usul tempat ini.
"Sudah bati berapa, Ray?" Paris menyesap kopinya sambil menatap teduh. Kali ini semoga benar, mengalihkan pembicaraan.
"Dua. Yang satu sudah SMA, adiknya masih TK. Kamu, Ris?"
"Aku belum menikah," Paris memberi jeda memainkan gelas kopinya. "tapi sudah punya anak. Ceritanya panjang."
Bagi Raya pernyataan Paris terlalu aneh karena dia tahu dari dulu Parus tipe laki-laki gampang dekat dengan perempuan. Sulit dipercaya Paris belum menikah. Apa alasan laki-laki itu masih melajang karena terlalu senang bermain-main?
"Kenapa bisa?"
"Lima tahun lalu aku tunangan. Tiba-tiba ada perempuan menyerahkan anaknya. Katanya itu anakku. Pertunangan aku batal, gantinya aku harus ngasuh anak perempuan umur empat tahun." Paris melihat Raya menganggukan kepala.
"Anak itu beneran anak kamu? Eh maaf aku lancang."
"Nggak apa. Iya anak aku, ibunya mantan pacarku." Entah mengapa dirinya jadi blak-blakan di depan Raya dibanding menyembunyikan segala keberengsekannya punya anak tanpa pernikahan. "Sekarang anak aku udah kelas tiga SD. Baru-baru ini keponakanku orang tuanya meninggal, jadi dia juga ikut aku."
Paris meringis setelahnya. Terlalu jujur jadi terdengar menyedihkan.
Dugaan Faris mengenai reaksi Raya akan seperti orang lain yang tersentuh atau malah tidak nyaman karena Faris kemungkinan besar meminjam uang setelah ini. Melenceng. Dibandingkan bersimpati, Raya bersikap biasa saja. Jujur, Faris kecewa.
"Gimana rasanya ngurus anak seorang diri, Ris?"
"Hm? Ngh... berat Ray."
Raya jadi terpikirkan nasib Samesta, bila mereka berpisah dan seluruh hak asuh anak jatuh padanya. Apa Samesta akan bangkrut karena kerepotan menjalankan dua tugas sebagai kepala keluarga sekaligus ibu rumah tangga. Kemudian berakhir seperti Paris jadi tukang ojek online?
Panjang umur. Seseorang dalam pikirannya tiba-tiba tertera di layar gawai. Letaknya di atas meja menyebabkan Paris ikut melihatnya.
My Husband is calling
Paris menghela napas. Beruntung sekali laki-laki itu punya istri seorang Raya.
Raya menyentuh ikon merah. Tak lama dia segera mengetikan pesan.
Raya :
Ada apa? Aku lagi ada klien nih. Udah jemput Sansan?
My Husband :
Siapa?
Raya :
Klien.
My Husband :
Sansan lagi tidur di ruanganku.
Sebuah gambar putranya terlelap di atas sofa hitam diterima Raya. Paris menemukan garis samar di bibirnya. Jelas terlihat Raya bahagia bersama keluarganya. Mengapa Faris rasa-rasanya tidak rela?
"Ray?"
"Ya? Eh oh maaf, sampai mana tadi obrolan kita?"
"Lain kali aja. Aku ada orderan lagi." Paris beralasan, lama-lama berada di dekat perempuan ini akan menambah keinginan untuk memiliki. "Makasih ya kopinya, eh gratis kan?"
"Iya gratis."
"Oh ini." Paris memberikan sesuatu pada Raya.
"Kartu nama?" Raya menelengkan kepala. Kang ojol juga punya beginian?
Laris menggaruk kepalanya tak gatal. Memaklumi ekpresi aneh Raya. "Siapa tahu kamu butuh bantuan bisa hubungi kontak aku. Atau butuh teman ... pulang?"
"O-oh oke. Makasih ya."
Seruan seseorang mengalihkan perhatian mereka. Dua remaja memakai seragam putih-abu memasuki kedai.
"Mama!" Gadis yang berjalan lebih dulu berhambur ke pelukan Raya.