Kalau Raya tahu Samesta terlambat satu setengah jam dari waktu menjemput Sansan seharusnya, alamat tidur di luar. Raya itu sangat patuh aturan. Semisal mereka janji bertemu jam sembilan, Raya sudah nangkring jam segitu di tempat janjian. Bagi Raya time is on time. Tidak ada penawaran. Sulit mengimbangi kedisiplinan Raya. Samesta juga sering kewalahan apalagi kalau sudah ribut sampai adu argumen, sehebat-hebatnya Samesta memenangkan debat OSIS dan BEM dulu akan kalah juga di hadapan Raya. Samesta sempat salah duga dalam pernikahan ini istrinya akan menjadi pihak yang bilang iya saja terhadap keputusan Samesta. Ternyata jauh dari sangkaan.
Hobi ke-ontime-an itu Raya bikin orang lain keki. Orang lain telat, Raya masih bisa senyum memakljmi. Lain hal dengan Samesta, tidak ada ampunan baginya, bahkan sama alasan lupa yang sudah jadi penyakit Samesta dari lama. Raya tetap marah. Samesta akan kelimpungan menghadapi amarah Raya yang kebanyakan diamnya. Percayalah lebih baik mendengar amarah daripada didiamkan begitu lama.
Sampai di kindergarden, Samesta bergerak cepat dari tempat parkir mencari putranya. Untung Sansan mulai mengerti. Anak itu menunggu di pos satpam mengamati setiap kendaraan lewat, berharap yang datang adalah ayahnya. Samesta bisa bernapas lega. Setidaknya ada orang dewasa menemani Sansan. Anak itu terlalu welcome terhadal orang baru, ditakutkan akan ikut saja bila diajak orang asing.
Seperti biasa, Sansan berlari melihat kedatangan Samesta. Menubrukan tubuh kecilnya agar digendong sang ayah. Samesta juga senang melakukan itu. Seruan anak-anaknya memanggil Samesta dengan sebutan "Ayah" dari kejauhan sembari berlari mengirim kehangat tak terduga. Ia merasa telah menjadi ayah sesungguhnya.
"Maaf ya, ayah lama jemput Sansan, tadi ada tamu dulu di kantor. Sansan nunggu lama, ya? Laper enggak, nak?"
"Iya, lama banget sampe Sansan ngantuk," gumam anak itu di bahu Samesta. "Sansan laper, Bu Guru Cantik beliin Sansan bakso. Nanti ayah ganti ya uangnya?"
Nama itu tersebut lagi. Samesta menghidu rambut Sansan, bau keringat. Ia telah memikirkan banyak kemungkinan jika terus mengantar jemlut Sansan ke tempat ini. Mengingat ada kisah masa lalu yang bisa membuat kesalahpahaman, Samesta berniat menceritakan soal Lintang yang menjadi guru favorit Sansan pada Raya. Sembunyi-sembunyi begini mendebarkan bagi Samesta.
"Siang, Mesta."
Sapaan itu membuat Samesta berbalik. Baru saja dipikirkan, orangnya sudah datang.
"Eh Lin, siang. Kamu nungguin anakku?" Lintang mendekat pelan. "Makasih ya, jadi ngerepotin terus. Pake dibeliin makan segala. Berapa tadi? Sansan makannya banyak ya?"
"Ah enggak kok. Aku enggak repot. Sansan itu anaknya manis, bikin orang-orang seneng denger suaranya," kekeh Lintang sedikit menunduk menyelipkan helaian rambutnya. "Aku senang bisa jaga Sansan sambil nunggu jam anakku pulang juga. Oh, iya ini tasnya Sansan."
"Waduh makasih banyak sekali lagi Lin. Ini Sansannya langsung tidur. Kecapean sama kenyang katanya habis ditraktir bakso."
"Gak apa-apa, Ta. Jam segini memang waktunya anak-anak tidur siang. Kalau gitu aku duluan ya?"
"Boleh aku antar?" cegah Samesta. Setiap perkataan mengandung kepedulian yang keluar dari mulut Samesta selalu bisa merekahkan kembang-kembang di hati perempuan. Hal itu sering disadari Samesta, terkadang buntut dari kesalahpahaman sangat menyedihkan. "Mau jemput anak kamu, kan? Dimana sekolahnya? Masa kamu udah nungguin anakku lama-lama, aku enggak balas apapun. Ayo!"
Setelah memastikan Sansan tertidur senyaman mungkin di kursi belakang, Samesta membukakan pintu depan. Lintang bersikeras menolak, namun bukan Samesta namanya bila gagal memenangkan negosiasi. Wanita mana pun akan sulit menolak permintaan Samesta.
Akhirnya Lintang masuk ke dalam mobil teman lamanya. Dalam diam Lintang menggigit bibir dalam, debaran itu masih sama hampir mendobrak rongga d**a.
"Anak kamu sekolah dimana?"
"Hah? Oh... em di De Zoeklicht School." jawab Lintang, lalu memalingkan wajah pada jendela. Jantungnya menggila.
Sedangkan Samesta langsung termenung, seingatnya sekolah itu untuk anak-anak berkebutuhan khusus.
"Sekolah berkebutuhan khusus. Anakku bisu," ujar Lintang seolah sedang membaca pikiran Samesta.
***
Sekolah bergaya arsitektur Erofa itu berdiri gagah dengan tiang-tiang tinggi di bagian depan seperti dalam film dewa-dewi Yunani. Bel berbunyi kemudian muncul anak-anak dari balik gerbang. Mereka tampak ceria mendapat sambutan orang tuanya. Ada yanh bermain dulu baru mau pulang. Ada yang pasrah kursi rodanya didorong. Lintang banyak tersenyum memerhatikan gerakan tangan seorang anak perempuan sambil berjalan. Dari mimik muka anak itu, sepertinya sedang menceritakan hal yang lucu.
"Ayo, kasih salam dulu sama Om Samesta," pinta Lintang begitu kembali dan duduk di kursi depan. Lintang menggerakan kedua tangannya, membentuk pola-pola rumit yang kemungkinan adalah sebuah bahasa.
Samesta tersenyum kikuk mencoba menduga-duga apa yang sedang mereka bicarakan. Apalagi ditatap heran oleh gadis yang kira-kira ... hm 9 tahun? Itu merupakan tatapan mengenali. Anak kecil sering begitu bila bertemu teman orang tuanya atau orang asing.
"Hai, namanya siapa?"
Gadis itu menoleh ke arah ibunya. Lintang senantiasa menggerakkan jemarinya dengan cepat sehingga Samesta kesulitan memahami. Kemudian pandang Samesta dan Lintang saling beradu.
"Maaf, Ta. Anakku enggak bisa dengar. Aku baru saja menjelaskan apa yang kamu bilang. Namanya Pelangi."
Samesta takjub. Baru kali ini ia merasakan kesusahan menanyakan nama pada seseorang dan rasanya bisa sesenang ini.
"Kamu udah ngenalin aku siapa?"
"Iya. Aku bilang kamu teman lama aku."
"Ini pengalaman pertama aku," ujar Samesta.
"Enggak apa-apa, Ta. Awal-awal aku setres banget menghadapi Pelangi harus bagaimana. Karena enggak mungkin aku enggak ngajak dia komunikasi, aku masukin dia sekolah khusus dan aku belajar bahasa yang bisa bikin kita ngobrol."
"Jadi asik ya, kalo ada rahasia enggak usah bisik-bisik."
Lintang terkekeh. Di pangkuan Lintang, Pelangi memperhatikan ibunya dengan seorang pria. Dari pergerakan mulutnya, mereka terlihat sedang bercakap-cakap. Hanya suara mereka yang tidak terdengar. Pelangi memperhatikan lagi bagaimana ibunya tersenyum. Garis-garis halus tercipta di ujung matanya. Ia belum pernah melihat Lintang sebahagia itu.
Pelangi jadi penasaran siapa yang menjemputnya sekolah siang ini. Kenapa ibunya tidak menjemputnya naik taksi seperti biasa?
"Tempat tinggal kamu masih sama?"
"Iya, masih di sana. Sepeninggal ibu dan ayah, aku yang menjaga rumah."
"Aku dengar kabar soal kedua orang tua kamu dari Umi. Turut berduka cita ya, Lin."
"Makasih, Ta. Ini sudah jadi takdir. Eh, kita sebentar lagi sampai rumah, Pelangi. Bilang makasih dulu sama Om Samesta, ayo."
Pelangi membalas bahasa isyarat ibunya. Samesta berhasil melipirkan kendaraan di dekat gang kecil menuju rumah Lintang. Kemudian merasakan haru ketika jemari mungil gadis itu menyentuh tangan Samesta. Ia menggerakan jemarinya di udara membentuk isyarat. Samesta melihat ke belakang bahu gadis itu dan menemukan Lintang bicara tanpa suara.
"Makasih, Om."
Samesta tersenyum, mengusap kepala Pelangi dengan lembut. "Sama-sama, Gadis Manis."