Bab 10 Kenangan dan Hujan

592 Kata
Kepergian Faris dibuntuti hujan besar. Orang-orang berlarian mencari tempat teduh. Nasib mujur bagi kedai roti di pengkolan jalan itu kedatangan banyak pelanggan. Hujan menggiring mereka berteduh di tempat terdekat sambil menikmati secangkir cokelat panas dan kopi. Raya bertopang dagu menghadap jendela besar mengabaikan kebisingan. Posisinya strategis menatap kehidupan ini berhias derai air hujan. Petrikor ikut menghujani Raya dengan kenangan. Hujan punya memori tersendiri baginy. Ketika segerombolan anak berseragam putih-merah berlarian begitu senangnya di bawah hujan mengingatkan Raya pada masa kecil. Di mana dia berlarian di bawah hujan bersama teman-teman penuh tawa. Hampir semua teman Raya laki-laki, terkadang dia jadi satu-satunya makhluk yang memakai rok saat bermain. Ibunya sangat memperempuankan Raya, selalu dipakaikan rok atau gaun, rambut selalu panjang sepunggung. Sedangkan kesukaan Raya lari-larian, memanjat pohon, main bola, dan itu menyenangkan. Raya mengulum senyum. Anak-anak dan hujan adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Sansan juga sangat menyukai hujan. Bila sedang di rumah dan hujan, Sansan akan segera memakai jas hujan dan sepatu boots plastik. Zahra membawakan s**u jahe dan mantel ke meja Raya. Akibat lama mengenal, Zahra jadi hapal, Raya tidak bisa kedinginan atau akan sakit. "Di minum, Mbak. Biar nggak masuk angin, biar Mas Samesta nggak ngomelin saya. Oh iya, di dapur, Mukti sama anak-anak lagi bakar jagung. Mbak, mau saya bawakan?" Raya menempelkan kedua telapak tangannya pada permukaan gelas panas. "Makasih, Zah. Kalian duluan aja. Aku lagi lihatin hujan." Zahra enggan berkomentar. Aneh memang kelakuan bosnya, tapi dia mengerti, Raya sedang mode merangkai ide. Raya kan seorang penulis. Zahra pun menggedikkan bahu, kembali bekerja. Raya menyelimuti punggung dengan mantel pemberian Zahra. Tubuhnya menghangat. Penglihatannya tertuju pada bis merah yang baru saja berhenti di depan kedai. Seorang wanita mendekap balita turun dari bis itu. Payungnya hampir terbang ditiup angin kencang. Walau begitu wanita itu terus menghadap badai bukannya berhenti. Raya jadi teringat momen tak terlupakan ketika hujan bersama ibu. Dulu ketika ayahnya tak kunjung kembali, Raya berhenti berharap ayahnya akan datang lagi. Hari-harinya penuh penantian, awalnya. Kemudia Raya melihat dunia luar. Ternyata sangat menyenangkan di tempat baru, teman-teman baru, dan kegiatan baru. Ibunya mulai menggarap tanah yang lama terbengkalai. Raya sering ikut ibu ke kebun. Waktu itu musim penghujan, sama seperti sekarang. Jalan menuju kebun licin berlumpur. Hujan tiba-tiba turun ketika ibunya belum menyelesaikan pekerjaan. Panen jagung kali itu hampir gagal karena hama tikus. Mereka pulang dengan sedikit jagung. Raya berada di atas tumpukan jagung di punggung ibunya ditutupi sehelai plastik agar terlindung dari hujan. Raya tertawa merasa lucu seperti sedang berada dalam rumah siput. Padahal siapa tahu di bawah gemuruh hujan lebat, ibunya menangis sepanjang jalan di bawah, menangisi nasib. *** "Loh, Mama enggak ikut, Kak Zah?" "Mbak Raya lagi enggak bisa diganggu, Sal. Anteng lihatin hujan," jawab Zahra begitu masuk dapur, dimana rekan kerja dan anak bosnya sedang memakan jagung bakar. "Lihatin hujan?" Saluna heran. Tingkah Mamanya makin ada-ada saja. Khawatir karena itu sudah masuk jam makan siang, sedangkan ibunya baru minum kopi saja. Saluna segera mendatanginya. Raya sedang duduk menghadap jendela besar lantai satu. Benar saja, mamanya sedang memperhatikan hujan deras di jalanan. "Ma?" Begitu saja Saluna tertegun. Raya menoleh dan Salina menangkap gerakan mamanua mengusap air mata terlebih dahulu, memaksakan senyuman. Pantas saja perasaan Saluna aneh sekali ingin menemui Raya. Ternyata mamanya sedang bersedih entah karena apa. "Mama mau jagung bakar?" Sebetulnya Saluna ingin bertanya, "Mama baik-baik aja?", tapi sepertinya sekarang belum tepat. "Jagung bakar?" Raya terdiam beberapa lama. Raut wajahnya kembali murung sembari menyaksikan hujan berjatuhan. Selain air, kemungkinan setiap tetesan hujan mengandung kenangan yang sempat terlupakan. Raya akan terus bersinggungan dengan masa lalu menyedihkannya, sulit menghindar. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN