Semua lampu di rumah itu menyala. Samesta melirik jam yang melingkar di tangan sebelum beralih melepas safety drive kursi samping dimana putra bungsunya terlelap. Sansan tepar setelah lelah bermain games di kantor bersama karyawan Sames Studios. Orang-orang di kantor menyukai Sansan. Setiap ke sana selalu ada yang mengajaknya bermain.
Samesta mengitari moncong mobil kemudian membawa Sansan ke dalam gendongan. Tak terasa putranya yang kecil menggemaskan telah tumbuh dengan cepat, sekarang Samesta kewalahan menjawab setiap pertanyaan si cerdas ini. Dia cerewet pada orang terdekat saja. Tingkahnya seperti ... Raya.
“Ayah!”
Begitu pintu terbuka, seorang gadis melompat dari sofa ruang tengah. Membuat Raya terkejut. Sup yang sedang ia sajikan ke dalam mangkuk hampir terjun bebas.
“Luna ... jangan teriak-teriak!” tegas Raya dari dapur memperingati putri sulungnya.
Sedangkan Saluna sendiri cekikikan. Samesta menyilangkan telunjuk di depan mulut agar Saluna tidak mengeluarkan teriakan kedua yang bisa mengusik tidur Sansan. Di atas sofa Samesta menidurkan Sansan. Mematikan televisi agar tidak mengganggu. Selama itu Saluna mengekori pergerakannya.
“Kenapa?” Samesta menghela napas menghadap Saluna.
Lantas Saluna tersenyum lebar seperti sudah mendapatkan pintu keluar sebuah masalah. Samesta tahu kalau Saluna sudah mengekori sampai memegang ujung bajunya—sedang ada maunya.
“Yah, ini bagus enggak?”
Layar ponsel di tangan Saluna menunjukkan tampilan toko belanja online. Samesta mengernyitkan dahi sulit memahami. “Baju?”
Saluna mengangguk sekaligus mengadu. “Ada konser idola aku dari Korea seminggu lagi. Aku suka baju ini, tapi kata Mama celananya kependekan. Padahal kan Luna belum punya baju kayak gini.”
Menurut Samesta juga—maksudnya sebagai seorang ayah—gambar pakaian yang ditunjukkan Saluna terlalu terbuka. Ia tentu tidak ingin putrinya menjadi bahan tontonan orang-orang tak senonoh. Apalagi Samesta tahu dengan siapa lagi Saluna pergi kalau bukan Langit. Walau Langit bisa dipercaya, tetap saja dia hanya anak tetangga dan seorang pemuda yang dalam masa puber. Entahlah, Samesta sungkan mengizinkan. Sepertinya Raya juga berpikiran sama.
“Kenapa malah minta pendapat Ayah? Mama kamu lebih tahu soal pakaian anak perempuan, Luna ....”
“Justru aku juga enggak ngerti, kenapa setiap belanja baju minta pendapat Ayah,” kata Saluna berubah murung. “Tapi memang selera Ayah bagus sih. Baju-baju Mama juga yang sering beli Ayah, kan?”
Sebentar Samesta menatap kedatangan Raya yang bolak-balik membawa hidangan makan malam ke atas meja makan. Seperti biasa, Raya membiarkan Samesta bingung sendiri. Raya pura-pura sibuk dengan pekerjaan yang tidak seberapa.
“Ayah beli baju-baju mamamu karena kalau enggak gitu pasti bakal pakai bajunya ituuuu terus. Mamamu kan paling malas belanja. Sekalinya belanja lama banget milihnya, kalau bukan karena udah capek kayaknya baju satu mal enggak ada yang masuk seleranya.”
Sejak awal pernikahan, Samesta tiba-tiba melakukan sesuatu yang kemudian berlangsung rutin dan menjadi kewajiban. Ia memang sangat memerhatikan gaya. Melihat penampilan orang terdekatnya yang sangat biasa dan sederhana, Samesta tergerak untuk mengubah si sederhana itu menjadi hal yang perlahan membuatnya jatuh hati. Entah ketergantungan atau bagaimana, sampai sekarang Samesta yang mengatur isi lemari Raya.
“Mama tuh terlalu ribet. Suka cari yang enggak semua orang punya.”
“Mamamu itu selalu melihat suatu hal dari sudut pandang berbeda,” tambah Samesta setengah terbengong melihat istrinya mengusap keringat di pelipis dengan punggung tangannya. “Dia enggak mau disama-samakan.”
Saluna melirik ayahnya. “Kata lainnya adalah ribet. Karena itu Mama dapetin Ayah.”
“Apa hubungannya?” Samesta mengernyit.
“Tuh, Ayah pura-pura enggak tau lagi.” Bahu Saluna turun. “Aku merasa Ayah bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih segalanya dari Mama. Dari segi fisik misalnya. Bukan aku merendahkan ibu sendiri, gimana pun aku lahir dari rahimnya, tapi mukaku turunan Ayah banget, kan? Ada untungnya juga sikap pemilih Mama itu. Mama pinter milih.”
Dia menyadari fisiknya mirip Samesta versi perempuan. “Kebalik. Malah Ayah yang beruntung mendapatkan mamamu. Sempat nyesal juga dulu ...,”
Dulu banyak menyakiti Raya agar perempuan itu pergi dan menjauh. Bahkan untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya sendiri, Samesta tidak berani. Masa lalunya bukan hal menyenangkan yang bisa dibagi. Bisa jadi malah Saluna membencinya. Karena dalam satu kesalahan, Samesta pernah hampir kehilangan mereka.
“Dulu apa?” tanya Saluna penasaran cerita ayahnya digantung.
“Enggak ada,” jawab Samesta disahuti dengkusan lawan bicara. “ Kalau lagi cemberut gitu, kamu lebih mirip mamamu.”
Samesta tertawa, langkahnya diikuti Saluna ke meja makan. Di sana Raya membaca situasi yang sedang terjadi antara suami dan putrinya. Mereka terlihat serius tadi, entah membicarakan apa.
***
“Kalau bertemu lagi seseorang dari masalalu, kamu bakal gimana?”
Di tengah hening ruangan yang temaram, pertanyaan Samesta menghentikan ketikan jemari lentik Raya di atas keyboard. Samesta tidak lagi terlentang menghadap langit-langit, tubuhnya miring kiri ke arah Raya sambil menyangga kepala. Walau ruangan hanya diterangi lampu duduk di atas nakas pinggir tempat tidur, Raya masih bisa melihat bagaimana raut suaminya yang serius.
“Kenapa ... tiba-tiba?”
Pertanyaan Samesta terdengar aneh cenderung melantur. Di balik itu sesungguhnya Raya malah teringat pertemuan-pertemuan tidak terduganya bersama Paris. Setelah belasan tahun, tentu perasaan suka waktu muda dulu hilang entah kemana, namun tetap saja Raya enggan menceritakan Paris pada Samesta. Takut Samesta salah paham.
“Penasaran aja.”
“Kamu ketemu seseorang? Akhir-akhir ini aku merasa kamu agak ... aneh.”
Seperti perkatan Raya itu menyerang tepat di titik kegelisahan, Samesta jadi tidak setenang tadi. Ia berdeham, tiba-tiba tenggorongannya kering. “Enggak. Aku enggak ketemu siapa-siapa. Kalau ada ketemu teman lama juga pasti aku akan cerita.”
Itu berlaku kalau teman lamanya bukan Lintang, lanjut Samesta dalam hati. Ia selalu ragu untuk jujur bahwa hampir dua minggu ini bertemu Lintang secara rutin akibat mengantar-jemput Sansan sekolah. Bebohong membuat Samesta berdebar, tapi ini terpaksa dilakukan demi kelangsungan pernikahan mereka.
“Jadi ..., kalau kamu ketemu teman lama tanpa sengaja, terus pertemuannya jadi rutin. Apa yang akan kamu lakukan?” ulang Samesta.
“Hm ..., aku?” Raya menggaruk belakang telingannya. “Biasanya aku yang suka nanya hal-hal aneh gini buat kepentingan kerjaanku. Pas kamu yang nanya jujur aja aku bingung. Ada sesuatu ya?”
Punya teman hidup yang bekerja di bidang seni itu punya kepekaan yang melebihi orang biasa. Selain moodnya mudah naik-turun, pekerjaan yang menuntut campuran perasaan menjadikan Raya cepat memahami perasaan orang lain.
“Emangnya pertanyaan aku aneh ya?”
“Enggak juga sih. Cuma kayak ... hm oke mau aku jawab nih?” Samesta mengangguk. “Kalau aku ketemu lagi seseorang yang aku kenal di masalalu ya tergantung peran dia di masalalu di kehidupan aku gimana? Kalau kita cuma kenal ya biasa aja, tapi mungkin kalau di masalalu kita ada sesuatu aku bakal ngerasa canggung.”
“Iya ....” Tanpa sadar Samesta menjawab. Mendapati Raya menatapnya heran Samesta tergagap. “Y-ya ... maksudnya aku juga sama bakal gitu.”
Dalam diam Samesta meraba perasaan sendiri. Mengingat bagaimana kisah yang pernah terjadi antara dirinya dan Lintang di masa-masa suram sebelum menemukan tempat pulang sesungguhnya, Raya. Sorot tajam Samesta mengawang jauh, lebih dari langit-langit kamar, mungkin menembus atap rumah.
“Aku ngantuk. Tidur duluan, Ray.” Samesta membalikkan badan membelakangi Raya. Menyembunyikan bingungnya. Mungkin tidur bisa memberikan sedikit ketenangan, namun sekeras apa pun Samesta berusaha masuk ke alam bawah sadarnya, ia hanya bisa menutup mata. Semua masih terdengar dan terekam.
Pemandangan itu agaknya mengganggu konsentrasi Raya. Melirik ke samping, punggung Samesta membelakanginya. Ia berinisiatif menaikan selimut hingga menutupi bahu suaminya.
Tanpa Raya ketahui mata Samesta terbuka merasakan selimutnya dinaikkan, mendengar helaan napas pelan, juga bagaimana berjam-jam kemudian Raya terjaga berteman suara jemarinya menari di tuts papan ketikan. Entah berapa lama Samesta diam di posisi pura-pura tidur. Ia baru berbalik ketika harmoni cepat papan ketikan tidak terdengar lagi menyisakan sunyi. Raya tertidur dengan posisi duduk bersandar di kepala ranjang. Tangannya terkulai sedangkan macbook di pangkuannya berlayar gelap, hanya powernya yang menandakan benda itu masih menyala. Penuh kehati-hatian Samesta memindahkan benda di pangkuan Raya ke atas meja. Ia memperbaiki pula posisi tidur istrinya. Tidur di posisi duduk begitu semalaman bukan hal baik saat bangun pagi nanti.
Samesta menatap wajah tenang dalam lelap itu. Setelah sekian lama mereka bersama, baru kali ini merasakan takutnya kehilangan Raya.
--Sweet Delusion--
Gimana perasaan baca part ini??
Hoho
Makasii udah baca cerita ini dan terus dukung ya~~
Tap love satu kali ?