12. Kalau Kita Bersama?

1325 Kata
Ternyata bertemu kembali Paris setelah 18 tahun mampu mengukir senyum Raya saat memasak. Pertemuannya dengan Paris tadi tidak semuanya dihapus hujan. Tidak pula dibawa aliran air dari hulu ke muara. Terutama tatap tajam milik Paris yang seakan mengajaknya bicara tanpa mengeluarkan suara itu. Perasaan Raya terombang-ambing karenanya. Ini membuktikan kehadiran Paris masih bisa mendatangkan gelenyar aneh. Entah apa rencana Tuhan dari pertemuan tidak sengaja itu. Raya hanya berharap ini bukan awal dari masalah besar. Saat menatap punggung Paris keluar kedai, kemudian menoleh sambil tersenyum sekilas—Raya melihat Paris versi anak sekolahan memakai baju putih-abu. Seseorang yang pernah Raya kenal. Yang riang dan berbuat seenaknya. Pemuda jahil yang sering kena marah guru karena terlambat masuk kelas. Dulu memang Raya sempat terbawa perasaan. Hanya tidak menduga saja sekarang percikan perasaannya masih ada. Ini bukan hal yang baik. Terutama keadaan sekarang sudah jauh berbeda. Raya punya keluarga, Paris juga. Walau katanya Paris belum menikah, dia punya seorang anak. Artinya dia seorang ayah, kan? Dia punya seseorang yang menunggu di rumah. Hah! Raya pernah berandai bagaimana jika dirinya dan Paris menikah. Gimana ya kehidupannya sekarang? Apa Raya masih bisa menulis? “Mama lagi bahagia ya? Senyam-senyum sendiri.” Kedatangan Saluna sangat mengagetkan. Raya sampai tersentak. Gadis itu tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya sambil memakan wortel mentah. “Mama tiap hari gini kok,” deham Raya melunturkan lengkungan di bibirnya. Iya juga, kenapa dirinya senyum-senyum tidak jelas? Saluna mengerucutkan bibir mendapatkan jawaban ibunya yang terkesan ketus. “Tau dong. Karena teman lama Mama itu, kan?” Sontak Raya menoleh dengan pelototan. Saluna makin senang saja jawabannya mengundang perhatian Raya. “Tuh, kan, bener. Kalian ada masa lalu, ya? Kayaknya sih iya kalau dilihat dari mata Om ... ke Mama. Om siapa namanya tadi? Paris?” “Apaan deh kamu. Mama dan Om Paris biasa aja. Awas, Mama mau ambil piring.” “Hm ..., masa?” Saluna menggeser posisinya, namun semakin menggoda Raya. Anak ini memang kurang ajar sama orang tua. Raya banyak menghela napas tiap menghadapi Saluna. “Sebelum nikah sama Ayah, kaliah pernah pacaran ya?” “Siapa?” “Mama sama Om Paris lah,” jawab Saluna sambil menaik-turunkan kedua alisnya. “Setahu aku Mama sama Ayah enggak ada pacaran. Kalian dijodohkan. Jadi Om Paris ya cowok kesukaan Mama dulu?” “Saluna ....” Sumpah, anak ini suka sekali mengulik informasi untuk dibocorkan dan menjadikannya ancaman. Raya sudah hapal soal itu. “Nenek yang cerita kalau orang tua Luna hasil perjodohan. Nenek nawarin cucu-cucu temannya waktu aku ke sana libur sekolah semester lalu. Sampai sekarang masih aja ditanyain aku mau cowok yang mana.” Raya terkekeh geli, perkataan putrinya soal perjodohan terdengar seperti sedang membicarakan perkawinan silang tanaman. “Terus kamu udah menentukan pilihan yang mana?” “Mama mah ....” Saluna mencebik merasa diledeki ibu sendiri. Tak elak perkataan Saluna membuat bibir Raya berkedut. Memang benar pernikahan mereka atas dasar perjanjian kedua keluarga, pada awalnya. Raya tidak menyangka pernikahannya dengan Samesta bisa melewati tahun-tahun yang kejam bagai duri kaktus di gurun pasir. Pasalnya dulu, Raya dan Samesta sama-sama terpaksa. “Aku masih bisa cari calon suami sendiri. Aku kan masih muda.” “Mama dijodohkan dengan ayah kamu seumuran kamu,” sanggah Raya. Agak terkenang awal pertemuannya dengan Samesta. “Makanya Mama ninggalin Om Paris gitu?” Namun demikian sangat tidak nyaman membicarakan tentang Paris atau masa lalu Raya yang kurang mengenakan bersama anak sendiri. Paris itu bagian dari masa lalu. Sayangnya, Saluna terlanjur memahami bahwa ibunya tidak bisa berbohong. Raya menghela napas. “Enggak ada kayak gitu. Kami hanya teman.” “Oh ya? Aku ngelihatnya bukan kayak git—“ Deru mobil memasuki halaman rumah. Beruntung Raya terselamatkan dari kecerewetan Saluna. “Sana, bukain pintu buat Ayah.” “Iya ..., iya ....” Malas-malasan Saluna melangkahkan kaki ke ruang tengah, membuka pintu utama. Samesta muncul di sana menggendong Sansan. Entah apa yang direngekan Saluna pada Samesta. Gadis itu tidak henti mengekori ayahnya yang tampak kelelahan pulang kerja. Raya menggelengkan kepala. Ada-ada saja kelakuan Saluna. “Luna jangan teriak-teriak!” Semoga tegurannya sedikit membantu Samesta menghadapi anak gadis mereka. Sesekali Raya melirik dua orang di ruang tengah itu. Mereka seperti sedang membicarakan hal serius. Samesta menatap Raya sebentar saat mendengarkan Saluna bicara. Sayang, obrolan mereka tidak terdengar. Tiba-tiba Raya gelisah, takut kalau Saluna mengatakan sesuatu yang buruk pada Samesta. Tentang pertemuannya dengan Paris, misalnya. Itu sangat buruk. Raya pernah cerita soal Paris. Walau respon Samesta biasa saja, tapi siapa yang tahu kan kalau Paris yang pernah Raya ceritakan sekarang muncul? Pergi ke mana-mana saja Samesta melarang kalau dia atau orang yang tidak dikenal yang menemani Raya. Ganteng-ganteng begitu, Samesta cukup posesif. *** “Kalau bertemu lagi seseorang dari masalalu, kamu bakal gimana?” Ketika Raya sedang menyelam di dunia cerita yang ia ciptakan, jemarinya berhenti mengetik. Samesta tengah memandangnya dengan posisi berbaring menunggu tanggapan. “Tumben kamu nanya hal random. Biasanya aku yang tanya-tanya hal begitu untuk kebutuhan naskah. Kenapa kamu? Mau pindah profesi jadi penulis juga ya?” Raya setengah bercanda sebenarnya mengatakan itu, namun Samesta sedang agak sensitif mungkin. Samapi menghadapi candaan istrinya dengan nada memelas. “Aku serius.” “Oke ..., ada yang mengganggu pikiran kamu? Masalah perusahaan, investor, tender, atau ...” Hm ... sesungguhnya Raya tidak paham soal bisnis dan perusahaan meski memiliki suami seorang pengusaha. Ia hanya mengetahui hal-hal dasar perihal bisnis karena kebutuhan naskah novelnya. “Perusahaan baik-baik aja per tanggal ini,” jawab Samesta lesu membuat Raya membulatkan mulutnya. “Jadi kalau kamu tiba-tiba bertemu teman lama, gimana reaksi kamu?” Raya kembali lagi mengalihkan perhatian dari papan ketikan. Mengundang kegugupan Samesta. “Aku cuma nanya, siapa tahu, kan ...?” Sekian lama bersama, Raya hapal bagaimana Samesta. Suaminya ini orang yang tidak akan tiba-tiba memhasa sesuatu kalau tanpa alasan. Dugaan Raya kali ini Samesta bertemu dengan seseorang. Atau yang lebih parah .... Bagaimana kalau Samesta mengetahui tadi siang Raya ngopi bareng bersama Paris di kedai? Ah, tidak mungkin. Raya geleng-geleng kepala. Tidak mungkin karyawannya sendiri mengkhianati. “Kalau aku bertemu kembali dengan seseorang setelah lama banget. Ya ... sikapku akan tergantung bagaimana hubungan kita di masa lalu. Kalau ada sesuatu mungkin aku akan gugup. Kalau kita hanya sekadar kenal, ya biasa aja.” Samesta mengangguk-angguk. Ia seketika mendongak saat mendapatkan pertanyaan dari Raya. “Kalau kamu? Gimana?” “H-ha?” gagap Samesta. “Hm ... aku .... Aku juga bakal begitu. Normal, kan?” katanya dengan senyum yang dipaksakan. “Normal." Hatinya berusaha menutupi berbagai pertanyaan. Samesta selalu cerita masalahnya. Mungkin sekarang belum saatnya. “Aku ngantuk. Tidur duluan, Ray.” Samesta membalikkan badan membelakangi Raya. Sejenak Raya melirik punggung tegap Samesta yang berbaring membelakanginya. Lama-lama pemandangan itu agaknya mengganggu konsentrasi. Ia menaikan selimut dengan sangat hati-hati hingga menutupi bahu Samesta. Tanpa Raya ketahui mata Samesta terbuka merasakan selimutnya dinaikkan. Setelahnya berjam-jam kemudian Raya terjaga berteman suara jemari menari di papan ketikan. Kata demi kata berhasi dirangkai dengan indah. Ia bekerja sebagai pencipta cerita. Lewat jemarinya ciptaannya hidup. Malam semakin larut dan Raya terkantuk-kantuk. Pegal hal biasa baginya. Duduk di depan layar menyala bagai makanan sehari-hari. Memang sangat melelahkan, namun jika ditinggalkan sebentar saja rasanya hampa. Raya merasa kosong. Perlahan penglihatannya buram oleh kantuk yang menggelayut. Harmoni cepat papan ketikan tidak terdengar lagi dan menyisakan sunyi. Raya jatuh tertidur dengan posisi duduk bersandar di kepala ranjang. Tangannya terkulai sedangkan macbook di pangkuannya berlayar gelap, hanya powernya yang menandakan benda itu masih menyala. Samesta berbalik menyadari Raya tidak lagi terjaga. Penuh kehati-hatian Samesta memindahkan benda di pangkuan Raya ke atas meja. diperbaiki pula posisi tidur Raya berbaring dengan nyaman di tempat tidur. Samesta mengabiskan malam dengan memandangi wajah lugu istrinya yang terlelap kelelahan dari samping. Sesekali ia menyingkirkan helaian anak rambut yang jatuh di wajah Raya.  --Sweet Delusion--  Kalian pernah seperti Raya ketemu seseorang yang berpengaruh di kehidupan masa lalu? Gimana perasaannya? Haha  Makasii buat tap love dan dukungannya yaa Moga suka cerita ini dan lanjut terus sampai tamat  See you~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN