--Masa Lalu--
Samesta menyadari bahwa ia terlahir untuk menjadi silau di tengah keramaian. Setiap tempat yang dia pijak akan menjadikan dirinya bintang yang bersinar.
Ketenaran telah bersandingan dengan Samesta sejak lama. Itu terjadi alami. Samesta tidak pernah melakukan hal-hal yang menarik perhatian banyak pasang mata. Hanya aura dan nasib beruntunglah yang menjadikannya sorotan masa.
Bukan berarti Samesta modal tampang doang. Begitu sadar dirinya bisa menarik banyak perhatian, Samesta menyeimbanginya dengan menggunakan otaknya yang sedikit lebih level up. Dia melakukan segala hal dengan nilai sempurna, karena Umi suka anak pintar.
Keberuntungan demi keberuntungan menyertai Samesta. Namanya santer dibicarakan. Hingga suatu hari Umi mengatakan, “Ini sudah saatnya kamu tahu. Ayahmu punya hutang sangat besar. Dia berjanji akan melunasinya, tapi kalau tidak dia akan menyerahkan kamu sebagai suami dari anak mereka. Kamu mengerti kan sekarang situasinya bagaimana? Bagaimana mau melunasi hutangnya, wujudnya saja tidak ada di sini. Umi harap kamu bisa menerima ini. Datangi keluarga itu.”
Samesta harus membayar hutang pria yang sangat ia dibenci. Pria yang mengaku sebagai sosok ayah dan kabur saat Umi sakit keras.
“Umi tahu kamu akan menolak, tapi ... anggap saja ini demi Umi. Temui dulu keluarga mereka. Ajak mereka bicara. Lalu kita bisa memutuskannya.”
“Tapi kenapa aku, Umi? Kenapa enggak Bang Alam? Dia sudah mapan, punya pekerjaan tetap—“
“dan punya seorang tunangan,” sambung Umi tersenyum lembut. “Kamu ingin menghancurkan hidup kakakmu, Samesta?”
“Jadi Umi menyetujui hubungak Bang Alam dan Kak Clare?”
Hubungan sang kakak sangat rumit. Keluarga menentang Alam menikahi seorang model keturunan Jerman bernama Clare. Selain perbedaan budaya—mengingat Clare sering tampil dengan busana kurang bahan—mereka juga berbeda keyakinan. Umi pribadi yang sangat terbuka. Namun untuk satu hal ini, agaknya dipertimbangkan cukup lama.
“Orang tua hanya pemberi restu. Yang menjalani kehidupan dan hubungan adalah kalian. Di larang bagaimana pun, kakakmu akan tetap menikahi wanita itu.”
Sudah Samesta duga ini akan terjadi. Umi akan menyerah dan menyetujui mereka. Ada kemungkinan Umi menyetujui pernikahan mereka karena masih punya harapan pada perjodohan Samesta.
“Lalu Samesta? Umi enggak masalah hidup Samesta yang hancur?”
Begitu marahnya Samesta saat itu sampai tanpa sadar menepis tangan ibunya. Samesta memiliki kekasih. Hubungan mereka baru berjalan beberapa bulan. Dengan tersampaikannya kabar ini, maka artinya mau tidak mau Samesta harus menuruti perkataan ibunya. Samesta tidak pernah negosiasi perkataan Umi.
“Ibu mana yang rela kehidupan anak-anaknya hancur, hm?”
Samesta terus memalingkan muka tampannya menghindari tatap sendu sang ibu.
“Setelah kamu menemui keluarga itu dan gadis yang ... dijodohkan dengan kamu. Keputusan seluruhnya ada di tangan kamu. Umi tidak akan memaksa. Pernikahan atas dasar terpaksa bukan hal baik.”
“Ya sudah Samesta menolak perjodohan itu sekarang. Perjanjiannya akan batal kalau Samesta tidak menemui keluarga mereka, kan? Bukannya terkesan jadi Samesta pengen banget perjodohan ini terjadi? Lagian Samesta juga enggak kenal mereka siapa, cewek yang mau dijodohkan sama Samesta itu gimana, umurnya, kepribadiannya, muka—ya ... enggak dipungkuri Samesta suka yang cantik.”
Umi terkekeh mendengar penuturan putranya. Sontak kening Samesta berlipa-lipat. “Kenapa Umi ketawa?”
Perasaannya tidak ada yang lucu.
“Umi cuma baru sadar Samesta putra kesayangan Umi sudah besar,” katanya diselingi dehaman menghilangkan sisa-sisa tawa.
Samesta menelengkan kepala. “Artinya Samesta sudah punya pilihan sendiri.”
“Iya.” Umi mengangguk-angguk. “Tapi kamu pernah bermain satu kali dengan gadis keluarga itu waktu kecil. Umi pernah bawa kamu ke sana. Kalian langsung akrab dan bermain bersama. Waktu itu kamu 8 entah 9 tahun. Raya masih kecil mungkin baru masuk TK. Kamu pasti lupa kejadian itu.”
“Raya?” Samesta mengernyit.
“Iya. Namanya Raya. Anak yang membuat ibu sangat menginginkan anak perempuan.”
***
Sejak nama itu terdengar. Satu per satu konsentrasi andalan Samesta berguguran. Setiap melakukan berbagai pekerjaan ada saja terlintas suara ibunya menyebut “Raya” mengalun bersama angin.
Umi menginginkan anak perempuan. Tiga kali melahirkan selalu seorang putra. Jadi tidak heran jika setiap melihat anak perempuan Umi langsung gemas dan ingin membawanya pulang. Anehnya, begitu mendengar “Raya” .... Samesta merasakan asing namun menyenangkan. Samesta suka mendengar nama sederhana itu. Seakan cocok disandingan dengannya menjadi Samesta Raya.
“Setiap ketemu anak perempuan juga Umi selalu gitu. Suka, gemes, pengen punya anak perempuan juga,” cibir Samesta.
Pasalnya kesal ditanyakan kapan Samesta pergi menemui keluarga itu.
Umi yang sedang membuat nasi tumpeng untuk syukuran telah terpilihnya Samesta sebagai ketua organisasi menyahut, “Umi memang pengen banget punya anak perempuan, tapi Raya tuh beda. Dia punya binar mata yang cantik, baik, polos,” puji Umi sambil senyum-senyum mengenang.
“Itu ... belasan tahun lalu, kan? Maksudnya bisa aja orang berubah. Gimana kalau ternyata Raya yang Umi temui dulu berbeda? Bikin Umi kecewa?”
Umi tidak menjawab. Tatapnya berubah sendu. Agaknya menyetujui perkataan Samesta.
Kali ini Samesta boleh tersenyum memenangkan argumen. Sesekali manusia diperbolehkan berimajinasi. Sayangnya ini kehidupan nyata. Kejadian-kejadian ini hanya terjadi dalam sinetron. Samesta tidak akan mengalaminya.
Alhasil percakapan soal “Raya” hilang dari peradaban. Lenyap dari deretan hal yang mengusik Samesta. Selain sesekali muncul karena satu dua hal seperti jalan raya, Bandung Raya, perayaan, hari raya, pekan raya, dan sedikit membangunkan ingatan Samesta tentang hal itu. Selebihnya Samesta menikmati kehidupan sempurnanya. Ketenarannya makin naik, akademis seimbang dengan kegiatan berganisasi, ia punya pacar yang mendukung dan selalu ada.
Satu tahun berlalu. Waktu yang cukup lama dalam menjalin hubungan. Semua perlahan berubah. Begitu pun Alam dan Clare yang mengucap janji sehidup semati beberapa waktu lalu. Luput dari perhatian Samesta masih ada harapan orang lain tentang hidupnya. Umi datang kembali mengetuk kamarnya malam itu. Lama sekali terakhir kali Umi datang malam-malam dan duduk di ujung tempat tidur sambil menatap Samesta yang serius di depan laptop mengerjakan tugas.
“Ada apa, Mi?” Samesta mengalihkan perhatiannya sebentar.
“Kamu setuju saja ya menemui keluarga Raya?”
Begitu tiba-tiba. Di saat Samesta berhasil lupa.
Pandangan Samesta tidak lagi lurus pada laptop di pangkuan. Membiarkan kursor berkedip-kedip di tengah halaman kosong. Salah satu tombol tanpa sengaja terpijik sehingga pekerjaan yang susah payah Samesta kerjakan hampir bernasib nahas.
“Apa, Mi?” Samesta menaruh pekerjaannya, duduk di sisi sang ibu. Takut dirinya salah dengar.
Umi menggenggam tangan Samesta. “Kita tidak bisa membiarkan perjanjian itu begitu saja. Janji harus ditepati, kan?”
Harapan terpancar jelas dari dorot mata Umi. Lewat genggaman hangatnya yang menguat, Samesta mendapatan beban baru. Kali ini harus dipenuhi atas nama ibu.
Dalam gemingnya Samesta gundah. Apa yang membuat Umi kembali mengungkit masalah ini.
“Apa Umi enggak suka Lintang?”
Sebulan lalu Samesta membawa Lintang menghadiri pernikahan Alam dan Claire. Lintang perempuan pertama yang Samesta kenalkan pada keluarga. Kecuali Umi, semua anggota keluarga tampak hangat menyambut kekasih Samesta.
“Kalau kamu sayang Umi, kamu pasti akan melakukan apa pun yang Umi bilang.”
Umi seolah lupa perkataannya dulu bahwa orang tua hanya memberi restu sedangkan kehidupan dan hubungan ada di tangan anak-anaknya.
“Mi, bagaimana dengan Lintang? Aku enggak masalah datang ke sana bicara dengan keluarga itu. Kalau mereka menyetujui perjodohan ini gimana hubungan aku dan Lintang? Mungkin Lintang bukan sosok yang Umi harapkan, tapi semua ... bisa diperbaiki, kan, Mi? Lintang bisa memenuhi harapan Umi dengan caranya sendiri, kan, Mi?”
“Samesta—“
“Mi, berapa hutangnya? Kita bisa menyicilnya sedikit-sedikit. Samesta ada tabungan. Mungkin jauh dari kata cukup, tapi bisa ditambahkan. Sebentar lagi juga Samesta skripsi. Samesta akan cari kerja—“
“Satu tahun ini Umi tidak membahas perjodohan ini lagi karena mau memberi kamu waktu. Umi mengira nanti kamu bisa lebih siap,” potong Umi. “Ini bukan soal uang. Mereka tidak akan menerima itu. Umi sudah melakukannya dulu. Secepatnya Umi mau dengar kabar baik. Kamu harus ke sana menemui mereka. Apa pun kesimpulannya nanti. Kita hanya bisa mengikuti. Bisa janji sama Umi kalau kamu akan memenuhi permintaan Umi?”
--Sweet Delusion--
Makasii tap love dan dukungannya yaa
Semoga suka cerita ini sampai akhir :)