14. Tak Tenang

1423 Kata
--Masa Lalu-- Katanya bertemu orang tanpa sengaja berturut-turut adalah jodoh. Tiga kali satu kelas dengan seorang Paris malah membosankan. Tingkat jahilnya semakin meningkat dari hari ke hari. Raya sang korban menjadi terbiasa. Ia tidak seheboh orang lain yang sering mengutuk Paris jadi batu atau kodok akibat kesal. Jika dihitung Paris bisa mendapatkan gelar orang paling banyak mendapatkan kutukan sedunia. Hebat, hingga kini dia sehat. Kebal. Paris tidak bisa diam. Ada saja tingkahnya. Melempari potongan kecil ke arah meja Raya adalah salah satu keisengan yang tidak dilakukan Paris pada orang lain. Paris akan cekikikan kalau berhasil membuat Raya geram. Kesenangannya menarik perhatian. Berbanding terbalik dengan mereka setiap kesal mengutuk Paris, Raya hanya menghela napas. Dalam hati dia berdoa supaya Paris berubah menjadi anak kalem. Raya selalu dibuat jengkel. Lelaki itu sering membuat konsentrasinya buyar saat menghapal rumuh tenses. Paris akan menimbrung di meja Raya jika pelajaran matematika tiba. Dari semua itu Raya paling benci kalau omongan Paris benar dan Raya kalah debat. Ego Raya selalu mendadak tinggi jika di hadapan Paris. Padahal dirinya pribadi pesimis. Paris mampu menggugah semangatnya. Raya belum menyadari itu. Di mata Raya, Paris hanya pura-pura bodoh dan mengerjainya. Ia mengerti orang nakal sejenis Paris sebenarnya cerdas. Terkadang mereka punya sesuatu yang tidak terpikirkan. Raya mengenal seseorang yang begitu. Kakaknya sendiri. Berhadapan dengan Paris bisa membuat Raya membayangkan saat sekolah kakak keduanya juga pasti begitu. Jarang masuk kelas, keluar-masuk ruang konseling, wali kelas observasi ke rumah. Hanya saja bedanya Paris belum sampai di drop out pihak sekolah karena kebanyakan meliburkan diri sendiri. Wali kelas tahun ini menitipkan Paris pada Raya. Katanya Paris kelihatan lebih jinak berada di dekat Raya. Sebagai pemegang juara satu berturut-turut selama hampir tiga tahun, Raya menyetujuinya (terpaksa). Siapa sih yang senang berhadapan dengan tingkah kekanakan Paris? Apalagi harus menjadi pengasuhnya secara gratis. Raya puyeng dengan kehidupannya sendiri harus ditambah beban satu lagi. Sesekali Rian membantu Raya menangani Paris. Tingkah Paris malah menjadi setiap Rian ikut campur. “Ray, kerjain LKS PKN gue dong, Ray!” Paris duduk di tengah-tengah mereka, menggeser posisi Rian. “Yah, yah, yah, Ray?” “Kamu benaran enggak bisa tenang sebentar ya? Itu tugas kamu. Harus diselesaikan sendiri.” “Ada yang ngomong, tapi enggak kelihatan wujudnya hiiiii.” Rian mendengkus keras sambil menyabet bukunya yang tertindih lengan Paris. Membuat Paris yang tidak siap hampir jatuh. Sempat Raya lihat wajah Rian merah padam menahan amarah. Begitu tatap mereka bertemu, Rian mendadak tersenyum. “Lihatnya ke sini aja.” Paris menarik dagu Raya hingga menghadap ke arahnya. Senyum lebar Paris lantas mengembang. Dalam beberapa sekon sekitar terasa senyap. Tatapan mereka beradu. “Ganteng emang gue tuh,” celetuk Paris membuat semuanya buyar. Raya berdeham kembali menghadap depan. Membuka-buka buku secara acak. Entah apa yang membuatnya begitu gugup. Ia tidak sedang mencari sesuatu di dalam buku, namun di saat bersamaan Raya perlu mengalihkan perhatian dari orang menyebalkan di sampingnya ini. “Ray,” panggil Paris. Tangannya menyangga kepala di atas meja. Menatap Raya lurus. Raya yang serius bagi Paris sangat cantik. Ia selalu suka duduk di samping gadis ini ketika Raya mengerjakan sesuatu. Memerhatikan setiap mimik muka yang mengatakan banyak arti. Setiap keningnya mengkerut, kedua alis naik, tiap mataya berbinar karena menemukan jawaban soal, tiap dia cemberut sambil menghela napas .... Paris suka semuanya. Hanya saja sulit menyadarkan Raya tentang perasaan itu. raya terlalu berkutat dengan dunia ciptaannya. Menganggap kelakuan jahil Paris hanya kerikil kecil yang kapan saja bisa dia tendang. Raya tidak pernah sadar yang Paris lakukan hanya demi menarik perhatian lawan jenis. “Mau enggak jadi istri gue?” “Ogah!” Jawaban Raya tanpa pikir panjang terlebih dahulu. Ia mengira pertanyaan Paris hanya hal biasa mengingat sepanjang mereka kenal Raya hampir lupa kapan Paris serius. Raya begitu tanpa tahu bahwa sejak itu semua berubah. Si anak nakal tidak lagi menjahili Raya. Ada yang berbeda dari Paris, cenderung menghindar. Paris sering kedapatan mengobrol seru dengan cewek-cewek di kelas. Entah mengapa Raya merasa ada unsur kesengajaan di balik ini semua. Satu waktu jam kelas kosong. Paris yang setia duduk di belakang Raya pindah ke bangku depan Raya. Mengobrolkan hal seru bersama teman deka Raya. Ada percikan aneh dalam d**a Raya melihat Paris dan cewek lain. Padahal sebelumnya tidak begini. Raya merasa tidak rela perlakuan yang dulu ia dapat pindah ke orang lain. Sampai bel istirahat berdenting, Raya mampu bertahan. Pada akhirnya Raya berdiri ingin menumpas kesakitan tanpa alasan ini. Sebelum tuntas melangkah keluar kelas, tanpa tedeng aling-aling seseorang merangkul Raya sambil bersiul. Raya kembali terpaku binar mata Paris yang mengatakan sesuatu tanpa suara. Sampai tangannya lenyap dari bahu dan melenggang tanpa menoleh lagi. Raya baru menyadari ia sedang kehilangan. Hari-harinya menjadi hambar semenjak Paris mengambil seluruh perhatiannya. Butuh waktu lama bagi Raya memahami bahwa rasa hilang itu semakin pekat dan terasa nyata. Ia selalu dihadapkan pemandangan Paris tertawa senang bersama orang lain. Mejanya menjadi sangat sepi. Konsentrasinya mudah buyar. Ketika guru bertanya, jika bukan karena teman sebangkunya menyenggol kaki mungkin Raya lebih anteng melamun. Mengapa Paris bisa segitunya menjungkir-balikkan perasaan orang lain ... terutama dirinya? Raya pulang membawa hasil kelulusan. Di hari itu pun harapan Paris menghampirinya dengan senyum nakal dan binar mata bicara tidak Raya dapatkan. Ketika satu kelas mengadakan acara coret-coret seragam sekolah. Paris melewatkan Raya. Seolah Raya tidak terlihat. Jujur, itu menyakitkan. Kalau dipikir-pikir apa kesalahan Raya sehingga mendapatkan perlakuan menyakitkan? Sepanjang yang Raya ingat ia selalu berusaha membantu orang lain. Mengapa bisa .... “Raya?” panggilan lirih itu menarik atensi Raya. Raya mengerjap lambat, baru sadar sedang berada di kamar sang ibu untuk memperlihatkan hasil kelulusan. “Sudah diambil hasilnya? Bagaimana, Nak?” Raya membuka tas. Memberikan amplop putih berisi surat keterangan lulus ujian nasional. Raya bahagia elihat ibunya tersenyum. Wajah pucatnya sedikit berseri. Satu tahun sudah, ibunya sakit. Terbaring di tempat tidur. Semua yang ia lakukan, mati-matian belajar supa mendapatkan nilai bagus dan kesempatan beasiswa ... untuk membanggakan sang ibu. Tak bisa dipungkiri setiap datang ke kamar ibu dan melihatnya terlelap yang Raya takutkan ibunya tidak membuka mata lagi. “Raya masuk tiga besar peraih nilai ujian nasional tertinggi sesekolah, Bu. Alhamdulillah, semua berkat doa ibu. Makasih ya, Bu. Terus doain Raya,” ujar Raya memeluk tubuh ringkih ibunya. Sartika, ibunya balas mengusap punggung Raya perlahan. Setitik air mata jatuh di selasar pipinya. Suaranya bergetar saat bicara. “Kebahagiaan Raya, kebahagiaan ibu juga. Doa ibu akan selalu ada bersama kamu, Nak. Ibu sayang sekali sama Raya.” “Raya juga sayaaaaang banget sama ibu. Ibu cepat cembuh ya.” Dalam hatinya Senja ragu apakah dia akan bisa mewujudkan keinginan putrinya yang satu itu.“Raya ....” “Iya, Bu?” Sebab perkataan Sartika terasa menggantung, Raya melepaskan pelukan dan kembali duduk di samping tempat tidur. Tatapan serius Sartika membuat Raya takut. “Raya mau mematuhi semua keinginan ibu, bukan? Boleh ibu minta satu hal?” Dalam beberapa lama Raya terdiam. Anggukannya sarat akan keraguan, namun ia tidak bisa menolak permintaan seorang ibu yang telah melahirkannya. Terlebih ibu sedang sakit keras. Mana tega Raya membiarkannya. “Apa, Bu?” “Kemarin seseorang datang. Setelah sekian lama ..., ibu bahkan hampir lupa.” Pikiran Raya langsung tertuju pada seseorang yang telah lama tidak kembali ke rumah. Ia hanya berani menebak dalam hati. “Ingat Tante Senja sahabat ibu?” Ah, ternyata bukan. Diam-diam Raya merasakan lega. “Tante Senja?” “Dulu pernah datang ke sini berkunjung. Sepertinya kamu sudah lupa. Itu kejadiannya sudah belasan tahun,” jelas Sartika. “Raya ..., kalau ibu minta kamu menikah bagaimana?” “Gi-gimana, Bu?” “Kamu sudah lulus SMA. Sedangkan ibu keadaannya tidak baik. Kakak-kakakmu tinggal di luar kota. Ibu butuh seseorang yang bisa menjaga kamu jika suatu hari nanti waktu ibu tiba—“ “Bu!” Raya melepaskan diri dari genggaman tangan ibunya. “Udah berapa kali Raya bilangan jangan bahas ini seolah ibu mau pergi, meninggalkan Raya sendiri.” “Ibu harus mempersiapkan semuanya dari sekarang, Raya. Ibu merasa waktu ibu telah dekat. Kedatangan Senja seolah jawaban dari doa-doa ibu selama ini. Beliau mau bertanya soal perjodohan kamu dan putranya akibat dari perjanjian ayah kalian. Sebenarnya ibu sudah lupa dan membiarkannya, tapi kondisi ibu sekarang ....” Raya tak lagi duduk. Gadis itu mondar-mandir di kamar ibunya sambil sesekali mengusap wajah dan mengigit jari. Raya kentara cemasnya. Sungguh bukan keinginan Sartika membuat Raya tertekan. Ia terpaksa melakukan ini. Jika tidak mungkin kematiannya tanpa ketenangan. “Sore ini putranya Senja akan datang.” Sontak langkah Raya terhenti. Seutuhnya ia menatap melas sang ibu. --Sweet Delusion-- Makasii tap love dan dukungannya Moga suka part ini ya See you
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN