Berapa kali pun Samesta berpikir, apa yang dikatakan Raya pada malam itu benar. Bertemu kembali seseorang yang pernah hadir di kehidupan masa lalu kalau perasaan yang dulu sudah habis maka semuanya akan biasa saja. Mengapa ketakutan ini hadir padahal Samesta yakin telah melupakan kisah antara dirinya dengan Lintang? Tidak mungkin dirinya mengalami cinta bersemi kembali.
Itu sudah lama sekali .... Bahkan Samesta lupa bagaimana perasaannya dulu itu. Dipikir-pikir bukan sebab perasaan itu masih ada, melainkan dirinya takut Raya mengetahui kemunculan Lintang lagi di kehidupan mereka. Samesta takut Raya salah paham. Samesta sadar suatu hari Raya akan tahu suaminya menyembunyikan pertemuan dengan manta pacar. Itu lebih berat lagi salah pahamnya.
Hah!
Pusing juga lama-lama. Tak pernah mengira kembali bertemu mantan mengantarkannya pada situasi rumit.
Samesta mengembuskan napas kasar. Sejak ia begitu saja memulai pembicaraan tentang bertemu seseorang di masa lalu. Yang sempat bikin Raya agak curiga siapa yang Samesta temui. Setelahnya Samesta terus terjaga mendengarkan irama ketikan Raya di atas keyboard. Saat irama ketikan itu terhenti dan melihat Raya memejamkan mata di posisi duduk, Samesta bangkit untuk mengubah posisi Raya yang tertidur sambil duduk. Selesai menyelimuti dan merapikan anak rambut Raya yang mengganggu ke belakang telinganya, Samesta membawa istri mungilnya itu ke dalam dekapan. Menghidu aroma Raya yang menenangkan. Lambat-laun Samesta pergi ke alam bawah sadar juga. Titik jenuh yang mengambang.
“Sam?”
“Ha?” Samesta mengerjap.
Ingatannya tentang mengecup bibir Raya kala tak sadarkan diri mengabur. Di hadapannya Septian memegang sebuah map terbuka. Kaca mata baca di hidungnya agak melorot. Septian menatap Samesta dengan sebelah alis tinggi sebelah.
“Lo bener-bener ya kagak dengerin gue ngomong. Udah panjang lebaaaar gue jelasin, Lo malah ngelamun. Gimana sih? Dari pagi gue perhatikan lo enggak fokus. Ditanya pendapat cuma ha?, oh, hm. Apa-apaan?”
“Sori, sori Sep. Tadi kita bahas sampe mana?” Samesta bangkit dari duduk bersandarnya. Membuka map di atas meja. Dia menelusuri setiap paragraf dan tabel. Tidak satu pun dimengerti Samesta. Mendadak otaknya kosong. Ini apa?
Pertanyaannya hanya menggema dalam benak. Tidak berani ia katakan pada Septian bagaimana kebingungannya membaca laporan itu. Septian seperti sedang mode lapar selama sepekan. Sahabatnya itu akan mengamuk kalau tahu Samesta tak mengerti apa-apa.
“Sampe selesai,” jawab Septian malas. Kalau bukan sedang di kantor dan kalau tidak menghargai sahabatnya sebagai atasan, ia pasti akan mengatakan itu sambil membentak. Kesal, penjelasannya hanya ditanggapi dengan tatapan kosong. “Gue udah menjelaskan isi laporan itu sampai selesai waktu lo minta jelaskan.”
Samesta meringis. Septian benar-benar marah. “Sori, Sep.”
“Lo nggak fokus.” Septian menggeleng “Lagi ada masalah apa sih? Kerjaan di kantor perasaan baik-baik aja. Masalah rumah, ya? Berantem sama Raya?”
Seingat Septian, rumah tangga sahabatnya ini tentram-tentram saja dari dulu. Kapan coba terakhir ia mendengar Samesta dan Raya bertengkar? Hampir tidak pernah. Ah, kecuali waktu awal-awal pernikahan mereka. Septian menyaksikan semuanya. Tak menyangka pernikahan mereka bisa awet sampai sekarang.
“Enggak, enggak. Gue kurang fokus gara-gara belum minum kopi aja,” kekeh Samesta yang kemudian berhasil dibungkam oleh sebaris kalimat.
“Lo udah ngabisin tiga cangkir kopi pagi ini, Sam.”
“Ha?” Dilirik Samesta tiga gelas kopi di atas meja yang menyisakan ampas. Samesta lupa sudah meminum kopi, apalagi sebanyak itu. Tiga kali? Yang benar saja. Biasanya paling banyak minum dua gelas. Raya akan memarahinya kalau kebanyakan minum kopi.
Mereka berdua punya kesamaan suka minum kopi. Mereka sepakat mengatur intensitas minum kopi satu hari sebanyak dua kali. Kalau di luar sudah minum sebanyak itu, ya di rumah jangan ngopi lagi.
“Tuh, kan. Melamun lagi. Keluar kantor dulu sana. Kemana kek biar pikiran seger.”
“Tapi serius gue baik-baik aja.” Samesta menepuk-nepuk pipi.
“Yang salah kepala lo tuh, bukan pipi!”
“Apa karena gue kepikiran terus iga bakar depan kantor ya?”
Septian menghela napas. Banyak sekali alasan sahabatnya ini. “Apa hubungannya? Sam, lu kagak lagi ngidam!” katanya gemas, sesuatu tiba-tiba terlintas. “Apa Raya hamil lagi?”
“Ha? Haha gila lo. Kagak lah. Emang lo enggak kecium aroma daging bakar sekarang? Gila ini enak banget wanginya. Bentar lagi masuk jam makan siang. Ayo cepet, ke sana dulu. Habis itu gue janji bakal konsentrasi penuh ke pekerjaan.”
“Heh! Heh! Jam istirahat masih satu jam lagi!” Septian berontak dari seretan Samesta menuju pintu keluar.
Sejujurnya Samesta hanya asal menyebutkan ingin makan iga bakar. Entah mengapa sekarang jadi ingin memakannya betulan.
“Halah, bodo amat! Jalan sama bos mah bebas mau istirahat kapan juga.” Samesta merangkul leher Septian keluar ruangan kerjanya.
***
“Mbak Raya kayak enggak semangat gitu makannya. Rotinya nggak enak ya?”
Raya itu penyuka makanan manis, terutama coklat. Ketika dia memakan olahan coklat pasti ada efek meledak-ledak seperti kembang api di atas kepalanya. Hari ini mereka tidak menjumpai kejadian itu. Sejak sampai di kedai pagintadi, mata bulat Raya cenderung cekung. Antusias tak bisa dijumpai dari wajahnya.
Mereka yang mengenal Raya tentu heran. Seburuk apa pun mood Raya, wanita itu akan tetap memakai tester makanan buatan Mukti. Raya fans nomor wahid soal kue-kue hasil karya Mukti. Apa pun yang dibuat Mukti, enak katanya.
“Mbak Raya begadang lagi ya?” tebak Zahra.
Raya menghela napas lesu. Semalam entah sampai jam berapa dia duduk di hadapan laptop. Tahu-tahu paginya berbaring di pelukan Samesta. Ada kemungkinan Raya tertidur tanpa sempat mematikan laptop dulu. Suami tampan dan baik hatinya itu yang memindahkan Raya ke posisi tidur yang nyaman. Samesta sering melakukannya.
“Aku lemes banget. Selera makanku juga hilang, bukan rotinya yang enggak enak.”
“Semalam Mbak Raya tidur jam berapa?” Nadia menaruh minuman hangat di depan Raya.
“Makasih, Nad,” ucap Raya memenarik gelas itu ke dalam genggaman. Hangat langsung dirasa nyaman. “Aku begadang. Enggak yakin jam berapa tidur.”
“Mbak Raya jangan keseringan begadang, Mbak.”
“Aku dikejar banget nih. Editor minta ceritanya selesai lebih cepat. Aku kan kerjaannya bukan hanya menulis. Ada anak-anak, suami, rumah, kedai, dan kalian. Banyak banget yang harus aku urus setiap harinya,” keluh Raya.
“Tapi setiap harinya Mbak Raya kalau ke sini cuma duduk di kursi pojokan,” ujar Nabila cengengesan mendapatkan tatapan tajam bosnya. "Peace, Mbak."
“Padahal aku tuh ke sini buat memperhatikan kerjaan para karyawanku.” Raya cemberut.
Kecewa orang-orang tidak melihat kerja kerasnya. Raya pun berdiri menaruh kembali piring kecil berisi kue tester yang dibuat Mukti untuk tema makanan harian. “Aku mau ke lantai dua.”
Para karyawan kompak saling berpandangan. Tidak biasanya Raya tersinggung gara-gara bercandaan mereka. Raya orangnya santai sekali menghadapi candaan meski dia orangnya kaku.
"Kamu sih becanda nggak lihat situasi Mbak Raya dulu. Jadi bete kan orangnya," ujar Zahra saat Raya berjalan di atas tangga tangga dengan lesu menjinjing tas berisi laptop.
"Biasanya kan Mbak Raya nggak marah. Aku kira hari ini juga gitu. Nyesel deh, lagi mood jelek ya Mbak Raya."
"Minta maaf sana!"
"Iya, iya, nunggu pesanan Mbak Raya datang. Eh, aku heran akhir-akhir ini Mbak Raya agak beda ya?"
Zahra sedang merapikan rambut palsu warna merah muda menjawab, "agak beda gimana?"
"Itu loh suka pesan makanan yang nggak biasanya. Kemarin pesan rujak kedongdong. Hari ini pagi-pagi pengen makan telur gulung. Apa ... Mbak Raya lagi ngidam?"
"Hamil lagi maksud kamu?"
"Ya ... kamu inget dong gimana Mbak Raya waktu hamil Sansan?"
Iya, sih. Zahra paling lama mengenal Raya. Kebetulan waktu mengandung Sansan, Raya telah membeli gedung ini darinya. Raya berbaik hati mempercayai Zahra untuk mengurus gedung ini dan menjadikannya tempat tinggal.
"Bisa juga Mbak Raya gitu untuk menghilang stres menulis. Dengar sendiri kan tadi katanya Mbak Raya begadang terus demi novel terbarunya. Kalau aku bisa bantu, mau aku bantu Mbak Raya."
Raya sudah seperti kakak bagi Zahra. Melihatnya kesusahan sendiri rasanya berdosa. Dulu Raya datang tiba-tiba membantu padahal mereka tidak saling kenal. Sekarang Zahra belum bisa membalas kebaikan Raya.
Mereka kembali menyelesaikan pekerjaan pagi menyiapkan roti di etalase dan pesanan pelanggan hari kemarin. Tanpa mereka ketahui Raya berdiri di tangga mendengarkan percakapan mereka. Raya sadar telah kehilangan kendali, melampiaskan perasaan lelahnya pada orang lain. Tadinya ia ingin meminta Nadia memutar lagu Siti Nurhaliza, namun sepertinya hari ini ia terlalu banyak meminta hal aneh. Raya kembali ke lantai dua. Duduk menghadap jendela besar, menyumpal telinga dengan head set. Musik membawanya terhanyut sendirian.
--Sweet Delusion--
Makasii untuk tap love dan dukungannya~
Moga cerita ini bikin betah, menghibur juga
See you