“Hari ini belajar apa?”
“Hari ini Sansan belajar mewarnai, Yah. Sansan lupa bawa krayon, terus Bu Guru Cantik ngasih Sansan krayon. Jadinya gambar Sansan paling bagus deh di kelas. Nilainya paling besar. Lihat deh, Yah, ini gambar punya Sansan, Miss Elga kasih bintang lima, yang lain dapatnya empat,” jelas anak itu menggebu-gebu sambil memperlihatkan buku gambarnya. “Bagus, kan?”
Samesta hanya tersenyum menghadapi mode bawel Sansan. Anak paling kalemnya itu kalau sedang berada di tempat aman dan bersama orang-orang yang dikenal bisa secerewet ini. Raya juga dulu begitu. Awal-awal perjodohan mereka saling asing, karena itu mereka tidak pernah duduk berdua dalam satu ruangan (kalau tidak terpaksa). Biasanya Samesta yang berinisiatif pergi lebih dulu. Mengingat Raya akan terus diam.
“Wah, anak ayah hebat banget,” puji Samesta mengusak rambut putranya.
Mendapat pujian dari sang ayah, Sansan tertawa sampai gigi-gigi ompongnya kelihatan. Di sisi lain Lintang tersenyum melihat interaksi ayah dan anak itu. Sejauh yang Lintang kenal, Samesta tidak berubah. Dia tetaplah sosok hangat yang dekat dengan anak-anak. Pria itu selalu mudah mengakrabkan diri dengan anak-anak. Pelangi, putrinya saja bisa langsung nyaman bersama Samesta pada pertemuan pertama.
“Udah bilang terima kasih belum sama bu gurunya?”
“Makasi, Bu Guru Cantik ....” Sansan mengecup sebelah pipi Lintang.
Kebiasaan yang diajarkan Samesta dan Raya untuk mengungkapkan rasa terima kasih pada seseorang. Mendapatkan hal itu, Lintang cukup terkejut. Namun, tak lama sebab Samesta tersenyum.
“Sama-sama, Sayang ....” jawab Lintang sembari mengusap kepala anak itu.
Tidak lama terdengar bunyi lonceng dari gedung tinggi dengan gaya Eropa klasik. Sontak Lintang keluar dari mobil dan berjalan menuju gerbang. Berdiri bersama orang tua lain menunggu anak-anak mereka keluar dari gerbang.
Dari rear view Samesta memerhatikan Lintang merentangkan tangan ketika seorang gadis berlarian kearahnya lalu mereka berpelukan. Lintang mengecupi wajah putri semayang wayangnya. Seperti biasa, mereka tampak ceria.
“Hai, Pelangi!” sapa Sansan sambil melambaikan tangan. Dia mulai mengerti bagaimana cara berkomunikasi dengan Pelangi.
Pelangi balas melambaikan tangan dengan riang. Mereka berakhir duduk di kursi belakang. Sansan lagi-lagi memamerkan hasil menggambarnya yang mendapat nilai besar. Sesekali Samesta tersenyum melihat Sansan kesulitan mengungkapkan apa yang ingin ia katakan lewat bahasa isyarat. Sansan sampai harus meminta Lintang mengatakan maksudnya pada Pelangi.
Ah, Sansan. Kepolosannya memberi kenangan menyenangkan dalam hidup Samesta.
“Makasih, Ta. Lagi-lagi aku ngerepotin kamu sampai harus nunggu anakku pulang sekolah dan antar ke rumah segala.”
Mereka sampai di depan gang menuju rumah Lintang. Putrinya Lintang ada di gendongan melambaikan tangan pada Sansan dan Samesta habis turun dari mobil.
“Enggak ngerepotinlah, Lin. Kamu malah yang repot harus nungguin anak aku terus sebelum aku datang. Makasih ya. Lagian rumah kamu satu arah sama kedainya Raya. Sekalian lewat, kami mau ke sana.”
Seketika senyuman lebar di muka manis Lintang mengendur. Perubahannya tak disadari Samesta. “O-oh iya. Kalau gitu mau mampir dulu?”
“Lain kali aja, Lin. Makasih. Kayaknya Raya udah nunggu juga, nih.”
“Oh iya, nggak apa-apa. Sekali lagi makasih sudah antar kami. Dadah, Sansan,” ujar Lintang melambaikan tangan diikuti Pelangi yang dibalas Sansan dengan ceria.
Soal Raya sedang menunggu sebenarnya Samesta mengada-ngada supaya ada alasan mereka tidak semakin lama bersama. Samesta kurang yakin juga Raya sedang apa, sedang menunggunya atau tidak. Pasalnya terakhir mereka komunikasian dua jam lalu saat Raya mengingatkan Samesta untuk menjemput putra bungsu mereka. Sama sekali tidak ada pembahasan makan siang bersama atau semacamnya.
Apa Samesta datang tanpa memberi tahu saja ya? Toh dirinya belum makan siang. Syukur-syukur kalau Raya juga belum makan siang. Mereka jadi bisa makan bersama, lalu Samesta bisa sedikit melupakan kelakuannya diam-daiam berkomunikasi lagi dengan mantan. Mengingatnya bikin pikiran Samesta tersita. Di kantor tidak bisa bekerja. Sekarang perutnya keroncongan.
Maka sambil memikirkan pesan makanan Sunda atau nasi Padang, Samesta menginjak gas menuju tempat Raya bekerja.
***
Sansan langsung lari begitu mereka sampai kedai. Anak itu menerobos pintu masuk dan hampir membuat donat-donat di atas loyang yang Zahra bawa hampir berjatuhan. Untung keseimbangan gadis berambut merah muda itu bagus, bisa mempertahankan donat-donat itu tetap di atas loyang. Sedangkan Sansan tanpa berdosa berlari menaiki tangga menuju lantai dua. Seolah bisa menghidup keberadaan ibunya.
“Maafkan Sansan ya, Zah. Dia selalu buru-buru menemui ibunya kalau ke sini.”
“Ah, Mas Samesta kayak ke siapa aja. Nggak apa-apa, Mas. Namanya juga anak-anak. Mbak Raya lagi di atas, Mas. Dari pagi belum turun-turun. Mood-nya lagi down,” ujar Zahra memberi tahu sambil menaruh donat-donat cantik itu di dalam etalase.
“Oh ya?” Dahi Samesta mengkerut. “Waktu aku antar dia ke sini tadi pagi biasa aja perasaan. Apa akunya kurang peka ya?”
Tangan Zahra mengibas. “Bukan Mas Samesta kurang peka, mungkin tiba-tiba aja Mbak Raya kepikiran sesuatu yang bikin mood-nya jelek.”
“Bisa jadi sih. Biasanya soal nulis.”
Zahra mengangguk-angguk setuju. Iya, orang-orang terdekat Raya hapal soal kesensitivan Raya. Perasaannya seperti berada di permukaan air. Gampang berubah-ubah.
“Kalau gitu aku ke atas ya? Makasih infonya, Zah. Eh, iya Raya belum makan siang?”
“Belum, Mas. Kayaknya makan juga nggak berselera. Tadi aku udah ajak mau makan di depan, atau pesan. Jawabnya ‘nanti aja’. Mas belum makan ya? Mau aku pesankan sesuatu?”
Wah, kalau sampai malas makan berarti Raya lagi bad mood mode parah. Samesta menghela napas. Kudu berhati-hati agar Raya tidak tambah kesal dan berakhir marah-marah padanya. Samesta kan nggak tahu penyebab bad mood-nya Raya apa.
“Tolong pesankan makanan Sunda aja, Zah. Yang komplit ya, pesan dua. Buat Sansan tolong bikinkan pasta, dia juga belum makan siang.”
Sigap Zahra memberi hormat suaminya bos, “Siap, Mas!”
Samesta menggelengkan kepala sambil terkekeh mendapatkan respon Zahra. Selanjutnya ia menaiki tangga menuju lantai dua. Dimana musik melow mengalun. Raya berada di meja dekat jendela besar. Sedang mengalihkan perhatian dari laptopnya demi mendengarkan putra mereka menunjukkan buku gambar.
Raya membawa Sansan kedalam dekapan. Mengecupi puncak kepala putranya sambil memejam. Samesta merasa Raya agak berbeda hari ini. Entah karena ia terpengaruh perkataan Zahra di bawah tadi kalau Raya sedang kurang ramah.
“Hei,” sapa Samesta mengecup kening Raya.
“Kamu nggak bilang mau ke sini.” Raya mendongak. “Aku jadi nggak menyiapkan makan. Belum makan siang kan kamu?”
“Belum. Aku udah minta tolong Zahra pesenin makanan buat kita kok. Kamu sendiri, katanya belum makan. Kenapa? Sibuk banget ya sampai nggak bisa makan sebentar aja?”
Raya meringis. “Nggak selera makan, Sam. Aku belum lapar juga.”
Tatapan Samesta berubah khawatir. “Kamu nggak mau libur nulis dulu gitu?”
Karena memakai “libur” akan lebih diterima Raya daripada “berhenti”. Sebab Raya tidak akan berhenti menulis. Walau melelahkan dan terkadang membuatnya sakit.
“Kamu kayak orang susah gini. Kurang tidur, kurang makan, banyak pikiran. Nggak bisa ya minta keringanan waktu ke editornya? Kamu kan bukan buruh. Kalau kamu mau aku bisa membuatkan publisher di bawah perusahaanku.”
“Nggak berasa dong prestasinya kalau dicetak sama perusahaan suami. Ini tuh penerbit besar, kenamaan. Gimana pun aku harus melakukan semaksimal mungkin. Aku belum sehebat orang-orang besar itu. Kayaknya sombong amat baru segini aja minta keringanan. Kamu tenang aja, Sam. Aku nggak akan sakit kayak waktu itu.”
“Kamu sampai dirawat di rumah sakit,” dengkus Samesta tak suka mengingatnya. “Umi marah-marah ke aku katanya bikin kamu kecapekan. Aku kan nggak nyuruh kamu kerja. Malah aku ngelarang kamu kerja.”
“Sekarang kan Umi udah tahu. Jadi nggak akan marahin kamu.”
Samesta masih bermuka masam. “Terus sekarang udah sampai mana tulisan kamu?”
“Hng ... alhamdulillah udah masuk konflik. Justru aku lagi nggak ada inspirasi banget nih. Bungtuuuu pikiranku.”
“Kalau aja aku bisa bantu ya ....” Samesta menghela napas.
Di sampingnya, Raya cuma senyum tipis. Suaminya selalu begitu. Merasa bersalah telah membuatnya sibuk dengan pekerjaan dan tidak bisa membantu apa pun. Tanpa Samesta tahu, padahal Raya sering menjadikan dia inspirasi menulis. Punya suami tampan dan mapan kan nggak semua orang punya. Rata-rata hanya terjadi dalam dunia fiksi. Raya hanya memanfaatkan kenangan dalam hidupnya sebagai bagian setiap tulisannya.
“Oh iya, soal surat perceraian itu ...,”
“Stop, Ray. Jangan bahas-bahas. Selagi kita baik-baik aja hidup bersama. Nggak perlu ada yang begitu,” sanggah Samesta.
Tatapnya jatuh pada Sansan bersandar pada ibunya sambil fokus memainkan games. Raya mengikuti arah tatapan Samesta.
“Kita punya banyak alasan untuk tetap bersama. Jangan angkat hal semacam itu lagi dalam pembicaraan kita ya? Aku nggak mau kalau sampai jadi kenyataan. Aku cinta kamu, Ray. Kita akan tetap sama-sama, cuma maut yang bisa memisahkan kita.”
Raya diam saja. Membiarkan Samesta merasa sedang berharap sendirian.
--Sweet Delusion—
Makasii tap love dan dukugannya ya
Semoga suka cerita ini dan betah...
See you