17. Cara Pendekatan

1280 Kata
“Yang antar makanan tadi Mas Paris, Mbak. Aku bilang ke Mas Paris di atas Mbak Raya lagi sama suaminya. Jadi Mas Paris pergi deh. Maaf ya Mbak, aku lancang. Habisnya bingung, Mas Paris bilang tolong panggilin Mbak Raya mau ada yang dia bicarakan,” jelas Zahra Dia begitu resah sejak Samesta keluar kedai kembali ke kantornya. Zahra akhirnya bicara apa yang membuatnya khawatir. Jadi tentang Paris. “Nggak apa-apa, Zah. Kirain kamu kenapa gelisah dari tadi.” Raya menggelengkan kepala. “Tapi, Mbak. Tadi tuh Mas Paris kayaknya ada penting banget ke Mbak. Aku jadi merasa bersalah secara nggak langsung ngusir dia. Habisnya dia bilang mau nunggu sampai Mbak Raya selesai. Udah dibilangin Mbak Raya lagi sama suaminya juga. Aku kan takut Mas Samesta salah paham atau apa gitu.” Raya terkekeh pelan, “Iya, nggak apa-apa, Zahra. Aku malah makasih kamu ambil tindakan. Sebenarnya aku juga nggak tahu gimana reaksi ayahnya anak-anak akan gimana kalau ketemu Paris.” Mungkin bakal canggung. Raya pernah menceritakan soal seseorang yang ia sukai di masa SMA. Reaksi Samesta waktu itu biasa saja, karena mereka sama-sama sedang jujur-jujuran tentang siapa orang yang pernah disuka. Kalau sampai mereka dipertemukan, Raya belum pernah membayangkannya. Akan apa Samesta kira-kira? “Jadi mereka belum saling kenal, Mbak?” Zahra membelalakan matanya. Raya mengedikka bahu, “Mungkin belum, tapi seingatku mereka belum bertemu sih. Samesta juga nggak akan mengenalikan. Aku juga belum bilang kalau akhir-akhir ini ketemu lagi sama teman lama. Udahlah, kalau keperluan Paris memang penting banget, dia bakal datang lagi mungkin. Kalau gitu aku ke atas lagi, ya? Kalau ada apa-apa kasih tahu aja.” Paris mau membicarakan apa padanya? Raya memikirkan pria yang sekarang memiliki ciri khas memakai jaket hijau. Mereka tidak ada janji bertemu sebelumnya. Sekarang Raya kepikiran Paris. Raya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Sebentar lagi Saluna pulang sekolah. Apa ia menghubungi Paris saja ya? Raya kepikiran terus sama perkataan Zahra. Takutnya Paris lagi butuh bantuan darurat dan Raya akan menyesal karena nggak bisa membantunya. Maka terjadi begitu saja ketika Raya menyalakan ponsel di atas meja. Ia lalu mengeluarkan kartu nama dari dalam dompet yang tempo hari Paris berikan. Nada tunggu sedikit membuat cemas. Ketika hampir saja panggilan pertama berakhir sia-sia, suara berat itu menyambutnya. Entah untuk alasan apa Raya merasa senang sekaligus lega. “Halo?” sapa orang di seberang telepon. “Halo, Paris?” “Ra ... ya?” Raya mengulum senyum. Membayangkan Paris kaget dihubungi olehnya. *** Sesuai dugaan Raya, ternyata Paris membutuhkan bantuan. Pria itu punya seorang putri. Bertahun-tahuan hidup bersama, Paris merasa mereka tidak seperti ayah dan anak. Paris meminta saran Raya bagaimana mendekati anak perempuan. “Biasanya kan kamu pandai banget mendekati perempuan. Masa sekarang deketin anak sendiri bingung?” Raya masih belum berhenti tertawa. “Ada-ada aja.” Paris akhirnya datang ke kedai setelah menerima panggilan telepon dari Raya. Pria berjaket hijau itu menceritakan masalah lengkapnya pada Raya sambil meminum segelas kopi gratis dari kedai. Mereka duduk di lantai satu, di tempat biasa ngobrol. Paris hanya menggaruk kepalanya tidak gatal. Dirinya sendirinya pun bingung mengapa mendekati anak sendiri nggak semudah mendekati perempuan-perempuan yang ia sukai. Di samping itu, Paris berusaha agar tetap sadar melihat Raya tersenyum dan tertawa. Benar-benar Paris merindukan ini. Lama sekali tidak menyaksikan pemandangan indah. Rasanya seperti menemukan oasis di tengah gurun. “Kamu punya anak gadis, kan? Gimana cara bicara sama dia?” “Kalian canggung banget memangnya sampai kamu bingung mengawali pembicaraan harus dari mana?” Raya masih tidak percaya. “Kami betulan nggak dekat. Dari kecil dia tinggal sama neneknya, sedangkan aku kerja. Dua tahun terakhir sejak neneknya meninggal kita memang tinggal bersama, tapi aku masih sibuk di luar. Kita bertemu hanya saat sarapan pagi. Malamnya kalau aku pulang nggak kemalaman, kita bertemu sebentar. Dan itu hampir nggak ada obrolan. Kalau ada butuh aja dia ngomong ke aku. Anaknya pendiam banget. Aku jadi susah mau ngobrol apa sama dia. Lebih tepatnya nggak ada topik buat diobrolin sih.” “Kayak aku dulu jaman sekolah ya?” “I ... ya, mungkin. Mirip-mirip,” jawab Paris ragu. Kemudian Raya menegakkan posisi duduknya. “Tuh, harusnya mudah, kan? Kamu bisa dulu deketin aku. Padahal aku orangnya pendiam banget loh.” “Ya, masa pakai cara yang sama, Ray? Ini anakku bukan perempuan yang aku mau deketin karena suka.” Seperti telah kelewatan bicara, mendadak Paris merapatkan bibirnya. “Maaf, Ray.” “Hng ..., nggak apa-apa,” deham Raya. Mendadak merasakan canggung juga. “Lalu apa yang membuat kamu dan anak kamu ...,” “Kania.” “Iya, apa yang bikin kamu dan Kania bisa berinteraksi? Nggak mungkin nggak ada yang bisa bikin kalian bicara sedikit aja, kan?” Tatapan Paris jatuh pada gelas kopi yang isinya tinggal setengah, tampak berpikir. Sesuatu yang bisa membuat dirinya berinteraksi dengan Kania, ya? Itu hal langka sekali. Kecuali soal makanan. Paris baru menyadari, anaknya bicara kalau soal makanan. “Kania anaknya jarang punya permintaan. Kalau mau apa-apa dia menabung, beli pakai uang tabungan sendiri. Kita bicara soal biaya sekolah atau menu makan pagi atau malam aja. Selebihnya, di rumah kita papasan kayak udah nyaman tanpa bicara.” “Wah, benaran parah,” tanggapan Raya. Pasalnya dia di rumah mana bisa diam-diaman sama anak. Pasti aja saja yang membuat mereka mengobrol. Apalagi Samesta, orang tidak bisa mendapati suasana rumah sepi. Paris terkekeh malu. Memang parah, ekspresi Raya sampai nggak menyangka gitu. “Gini deh. Kan katanya hanya soal biaya sekolah dan makanan yang bikin kalian bicara. Apalagi Kania masih kecil banget, nggak terlalu susah buat didekati. Aku rasa kamu harus berinisiatif meluangkan waktu. Pernah nggak kamu bertanya belajar apa aja di sekolah hari ini? Ada PR, kapan ulangan?” Paris menggeleng. Selama mereka tinggak bersama, Paris hanya mempedulikan bagaimana cara mendapatkan uang. Ia berpikir begitulah tugas seorang bapak. Mencari nafkah. “Ris, ini nggak baik loh dibiarkan terus-menerus. Kamu mau selamanya hubungan kalian begini? Kalau Kania udah lulus sekolah dan punya kerja. Apa yang mau kalian bicarakan?” Kesadaran itu semakin menampar Paris. Betapa gagal ia menjadi orang tua. “Di dunia ini Kania hanya punya kamu. Mungkin nggak sih pendiamnya Kania karena pengaruh dia nggak bisa mengutarakan kemauannya ke orang terdekatnya, ke ayahnya sendiri? Aku tahu loh, Ris, gimana dulu menyiksanya jadi orang yang nggak memikirkan banyak hal sebelum bicara.” Sebenarnya Raya bicara begini ada alasan. Dulu ia punya hal yang tidak bisa terlampiaskan sehingga hanya bisa diam karena merasa terbuang. Orang tuannya berpisah dan ayahnya tak pernah menengoknya. Meski mempunyai dua orang kakak laki-laki pengganti sosok ayah, tetap saja yang hilang itu tidak mampu tertutupi. Paris menghela napas. Jalinan jemarinya di atas meja mengendur. “Jadi aku udah egois ya, Ray? Tapi aku merasa udah sayang dia.” Raya hanya memberikan senyuman. “Kamu perlu memulai, Ris. Saat ini Kania lagi membutuhkan kamu, cuma nggak bilang aja. Mungkin karena dia takut ke kamu. Apa kamu sering marah atau galak ke dia?” Diamnya Paris membuat Raya terkekeh. “Kasih tahu dia kalau kamu sayang banget.” “Apa dia akan menerima aku?” “Pasti.” Keyakinan dalam binar mata Raya memberi Paris kepercayaan. Hatinya tergerak untuk menggenggam tangan Raya untuk mengungkapkan rasa terima kasih. Setelah sekian lama kahirnya ia yakin perbuatannya telah salah. Kania adalah anak kandungnya, penerusnya, harapan di masa depan. Sudah seharusnya Kania mendapatkan kasih sayang penuh ketika ibunya sendiri membuang. Jangan sampai Kania merasa tak seorang pun di dunia ini yang menyayangi dirinya. “Makasih banyak, Ray.” Raya tersentak mendapat sentuhan Paris, namun ia ragu melepaskannya. Tanpa mereka sadari seseorang mematung melihat mereka di balik kaca kedai. Saluna. --Sweet Delusion— Makasii tap love dan dukungannya. Semoga terhibur dan betah di sini... See you
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN