18. Kecemburuan

1270 Kata
Saluna membisu di depan pintu kedai The Rames Bakery. Menatap salah satu kursi di mana ibu dan seorang pria berjaket hijau khas pekerja ojek online saling menggenggam tangan. Di tempat umum. Di saksikan para karyawan kedai! Wajah Saluna berpaling sambil mendengkus. Kemarin-kemarin ia menggoda ibunya soal Paris bukan untuk menumbuhkan cinta antara mereka kembali. Hidupnya telah sempurna dengan ibu, ayah, dan seorang adik. Jangan sampai pemandangan ini akan menjadi cikal-bakal sebuah kerusakan. “Ngapain lu bengong depan pintu?” Langit yang selesai memarkirkan motornya menghampiri. Telunjuknya memutar-mutar kunci. Heran sahabatnya diam saja, biasanya langsung menerobos masuk sambil berteriak memanggil ibunya seperti di dalam rumah. Saat Langit ingin melangkah lebih dulu, Saluna menghalanginya. Langit mengernyit heran. Sampai sebuah jawaban ia dapatkan setelah melihat apa yang sedang Saluna perhatikan dari jauh. Detik itu mulutnya sedikit ternganga. “Orang yang waktu itu, ya?” Saluna tidak menjawab. Namun, Langit tahu dari rahang gadis itu yang mengetat, bahwa dia sedang menahan diri untuk tidak marah. Sebagai gantinya tangan Saluna tergepal kuat. “Mau gue yang gebrak meja itu biar dia nggak deket-deket Tante Raya lagi?” Barulah Saluna menoleh. Bola matanya berkaca-kaca, membuat Langit tidak tega. “Jangan. Mereka cuma teman lama. Mereka nggak ada hubungan apa-apa.” Alis Langit terangkat dengan raut tidak percaya. Benarkah ini Saluna yang ia kenal? “Ini Saluna, kan?” “Jangan bilang-bilang ke Mama kalau kita lihat mereka. Janji, Lang?” Saluna mengangkat kelingkingnya ke depan muka Langit. Langit menatap kelingking mungil itu dan muka kesenduan Saluna bergantian. Ia heran mengata tidak langsung marah-marah seperti biasanya meluapkan apa yang ada dalam pikiran? Ah, sudahlah. Meski ragu ia pun balas mengaitkan kelingkingnya sambil bergumam. “Terpaksa,” ujar Langit tidak mau ribet. Mereka kompak melangkah memasuki kedai. Gemerincing tanda pintu terbuka sontak membuat Raya menarik tangannya di bawah telungkupan tangan Paris. Seruan seorang gadis dari pintu masuk makin menghidupkan suasana. Musik yang sedang Nadin putar kalah saing. Sontak Raya berdiri menyambut kedatangan Saluna dan Langit baru pulang sekolah. Meninggalkan Paris dalam ketermenungan. Apa yang barusan dia lakukan? Menggenggam tangan istri orang? “Eh, Om lagi.” Saluna menyapa setelah lepas dari pelukan singkat ibunya. Paris lantas berdiri memberi senyuman tipis pada putri teman lama, juga pemuda yang sedang menatapnya tajam. Tak menunggu lama karena perhatian Raya seutuhnya direbut putrinya, Paris pamit pulang dengan alasan harus lanjut kerja. Tepat keluar dari pintu kedai ia mendapatkan sebuah notifikasi. Paris mendapatkan satu pelanggan. Segera ia menerima pesanan tersebut dan pergi menjemput rejeki. *** “Om itu perasaan sering ketemu di sini,” ujar Saluna menghampiri ibunya di lantai dua. Ia duduk di sofa depan Raya. Tempat biasa Raya merenung untuk menciptakan sebuah novel. Karya-karya luar biasa Raya sebagian besar tercipta di tempat ini. Saluna jarang membaca tulisan ibunya sih. Ia hanya tahu nama pena ibunya di dunia literasi dan teman-temannya banyak yang membaca tulisan karya ibunya itu. Katanya keren. Saluna bangga jadi anak dari penulis keren itu, tapi ia telah berjanji tidak akan mengungkap identitas si penulis sebagai ibunya. Biar rasa penasaran mereka terus menggaungkan nama ibunya. Dengan begitu saja Saluna sudah sangat bangga. “Kan kerjaannya antar-antar barang, antar orang,” jawab Raya logis. “Dan yang diantar kebanyakan dari tempat ini, gitu?” Tanpa disadari gaya bicaranya lumayan sinis. Raya langsung menghentikan pekerjaan meski ide-ide dalam kepala bergelantungan. Didiamkan sebentar saja ide-ide itu akan hilang. Berjatuhan, melebur bersama sepi panjang. Raya akan kesulitan mengingatnya kembali. Maka dari itu ia senang sendirian, dimana hanya ada dirinya dan ide-ide dalam kepala. Raya mengembuskan napas. Ditatapnya Saluna yang anteng meminum matcha sambil menggulir layar ponsel. “Jajan gih keluar ajak Langit.” “Nggak mau. Nanti Om itu datang lagi. Luna mau jagain Mama di sini,” balas Saluna sambil terus menatap layar ponsel. “Ngapain dijagain, orang teman Mama tuh baik kok. Lagian dia nggak akan datang lagi kan urusannya udah kelar.” Saluna mendongak sebentar. “Besok-besoknya juga nggak akan datang lagi?” “Nggak taulah, Sayang. Siapa yang bisa memperkirakan kebutuhan seseorang di masa depan? Nggak ada.” Jawaban ibunya bikin Saluna cemberut. “Tuh ... kan. Mama sih nggak nolak ketemu tiap Om Paris datang. Jadinya dia ketagihan datang terus ke sini karena merasa ada kesempatan. Aku yakin alasannya ada ... aja bikin kalian ketemu, kan?” “Saluna ....” Sudah cukup ya kesabaran Raya. “Kamu kenapa jadi curigaan gini, hm? Orang tadi Om Paris yang antar makan siang mama dan ayahmu ke sini. Jadi kita ngobrol sebentar sambil dia nunggu orderan lagi. Wajar dong sebagain teman lama menemani ngobrol sebentar.” Kenyataan soal Raya menelepon Paris sehingga pria itu mendatanginya untuk bicara, terpaksa Raya sembunyikan. Ia mengerti Saluna sedang tidak menyukai kehadiran pria lain selain ayahnya sendiri. Bisa-bisa anak ini ngamuk jika tahu ibunya menghubungi Paris duluan. “Ayah makan siang di sini?” “Pulang dari jemput adikmu, ayah ke sini makan siang bareng mama. Sansan lagi tidur di sarang.” Sarang adalah sebutan mereka untuk tempat tidur milik Zahra di lantai satu kedai. Letaknya dekat dapur, bisa dijadikan tempat rebahan sebentar kalau kedai sedang sepi. “Ayah tahu Om Paris teman Mama? Mereka ketemu?” Sekarang ponsel di tangan tidak lebih menarik perhatian dari jawaban Raya. Saluna menunggu. “Nggak tahu kali. Mereka nggak bertemu. Ayahmu tuh buru-buru pergi setelah dapat telepon kliennya nunggu di kantor,” jawab Raya singkat berusaha mengembalikan konsentrasinya. Tapi gagal. “Luna kenapa sih? Kayak curiga ke mamah gini. Bikin konsentrasi mama hilang aja.” Saluna tidak menjawab. sJemari kembali Raya lincah menari di atas tuts keyboard saat Saluna termenung dengan banyak dugaan dalam kepalanya. Raya membiarkannya begitu sampai hari beranjak sore dan kursi-kursi di lantai dua di tempati banyak pengunjung. “Luna takut kemunculan teman mama itu bikin pengaruh ke keluarga kita. Nggak tahu kenapa perasaan aku kayak gini,” ujar gadis itu setelah tenggalam dalam diam cukup lama. Raya mengerutkan kening, kemudian tertawa melihat putrinya mengusap sesuatu yang jatuh dari ujung matanya. Saluna menangis. Gadis nakal yang selalu menampilkan sikap keras kepala itu bahunya bergetar. Raya menggeser posisinya, membawa dia ke dalam pelukan. *** Usai keluar kantor, Paris melihat ruang obrolannya bersama Kania. Anak itu tidak mengirim pesan satu pun hari ini. Padahal seingatnya di rumah tidak ada makanan karena tadi pagi Paris bangun kesiangan, jadi tidak sempat membeli bahan makanan. Paris menghela napas, dimasukkannya ponsel ke dalam saku jaket. Apa Kania sudah makan? Pertanyaan itu cukup mengganggu. Paris menyalakan sepeda motornya. Mungkin perkataan Raya siang tadi juga ingatan bagaimana Kania yang kurus membuatnya mampir dulu ke alun-alun membeli martabak telur kesukaan Kania tanpa diminta. Semoga saja anak itu belum tidur. Jika ayahnya belum pulang, Kania tidak akan mematikan lampu. Keadaan rumah terang benderang. Paris membuka pintu dengan menggunakan kunci cadangan. Ia menjinjing satu kotak martabak telur melintasi ruang tengah menuju dapur. Kania tertidur di atas kursi dengan televisi menyala. Ia tertidur sambil mendekap buku. Paris tersenyum karena lagi-lagi seseorang menunggunya pulang. “Kan. Kania ....” Paris menggoyangkan bahu putrinya pelan. Kelopak matanya terbuka perlahan. Aroma bawang goreng menggelitik hidung. Kania tersentak melihat Paris duduk di kursi seberangnya sedang membuka sekotak martabak. Seketika perutnya berbunyi. Mengundang perhatian Paris. Kania meringis sambil mengusap perut. Dari siang ia belum makan. “Makan dulu.” Paris menggeser kotak martabak mendekat. Kania tertegun mendapatkan Paris tersenyum, kemudian ia menatap makanan di depannya. Mengapa ayahnya malam ini aneh sekali. Makanan ini aman, kan? Tidak dicampur racun yang bisa membuatnya tiada? “Eh, malah bengong. Lapar, kan?” Paris mencomot martabak lebih dulu. “Hm, enak. Kenapa nggak ambil dulu makanan ke warung Bi Sari? Nanti kan bapak bayar.” Dirasa makanan itu aman, Kania mengambilnya. Hah, ini enak sekali. Beda dari biasanya. Martabak kiriman Paris ada suiran daging ayam dan sosis. Pasti mahal. Bapaknya mendapatkan bonus dari kantor ya? “Yang kemarin-kemarin juga belum dibayar. “ Perkataan itu bikin Paris meringis. --Sweet Delusion— Makasii tap love dan dukungannya Semoga terhibur dan betah ya? See you..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN