“Jadi lo ketemu Lintang lagi? Dia guru TK-nya Sansan?” Kedua bola mata Septian hampir keluar. Mendapat anggukan untuk ke sekian kalinya, Septian tampak lebih frustrasi dari Samesta si pencerita. “Dan jangan bilang lo belum bilang ke Raya masalah ini?”
“Biasa aja dong ngomongnya nggak teriak-teriak gitu.”
“Sori.” Septian mengedarkan pandangan. Beruntung tempat makan itu baru mau masuk jam makan siang para karyawan kantor sekitar situ. Karyawan Sames Studios tidak ada di sana.
Walau agak bagaimana menyebut kemunculan Lintang dianggap sebagai masalah. Pada kenyataannya memang sebuah masalah. Sesuatu yang telah diupayakan lupa sekarang muncul kembali mengungkit luka lama. Seperti menggores kembali bekas luka yang mengering. Samesta sebenarnya ragu menceritakan ini pada orang lain. Namun, setidaknya mungkin orang lain punya pemecahan masalah. Daripada langsung bilang ke Raya dan berujung salah paham.
“Oh, ini toh yang bikin lo ngelamun terus berhari-hari. Lo nggak fokus karena masalah rumah tangga. Karena akhir-akhir ini sering ketemu lagi sama mantan?” Septian mengerti sekarang. Sahabatnya ini sedang dilema. “Tapi menurut gue kalau lo udah nggak ada rasa, kecuali ada di dalam situasi cinta lama bersemi kembali. Harusnya lo biasa aja, kan? Maksudnya, begitu hari pertama ketemu Lintang sebagai guru baru di sekolahnya Sansan, di hari yang sama lo cerita ke Raya. Lo masih ada rasa ke si Lintang?”
“Mana ada gue masih suka dia. Masalahnya nggak sesederhana itu ...,” desah Samesta.
Saat itu Samesta dipusingkan dengan perminataan Raya untuk mengakhiri pernikahan mereka. Samesta belum tahu alasan di balik keinginan Raya itu apa. Jika melihat bagaimana seorang pengacara datang ke kantornya menyerahkan surat cerai yang harus Samesta tanda tangani, memberi arti bahwa Raya tidak bercanda. Samesta takut kalau tiba-tiba cerita soal Lintang, Raya mengungkit surat cerai lagi. Raya suka menghubungkan hal-hal di masa lalu yang sebenarnya nggak ada kaitannya. Merangkum apa yang terjadi dalam satu kesimpulan. Mentang-mentang dia seorang penulis, jadi merasa paling tahu tentang alur kehidupan.
Samesta terkadang kesal. Alur kehidupan, kan, berbeda sama alur cerita buatan manusia. Bagi Raya selalu saja berbeda. Katanya di dunia ini tidak ada kebetulan. Semua terjadi karena telah di atur Yang Maha Kuasa. Namun, Raya sering lupa. Tidak semua orang yang kita ditemui diatur untuk bersama. Ada yang takdirnya hanya sekadar hadir untuk menjalani kita bertemu seseorang di masa depan. Dasar si pesimis.
“Terus segimana masalahnya? Feeling gue lo nyembunyiin sesuatu yang lebih gede dari ini.”
Begitulah Septian. Curigaan dan peka.
“Pokoknya rumit deh, Sep.” Samesta mengunyah iga bakar tanpa minat lagi. Padahal ketika masuk tempat itu aroma iga bakar mengundang irama di dalam perut. “Pikirin aja gimana Raya kalau tahu di sekolah anaknya ada mantan pacar gue?”
“Raya orangnya santai banget, Sam ...,” jawab Septian sambil memutar mata.
“Iya, gue tahu. Tapi mantan gue ini beda sama mantan-mantan gue yang lain. Lo tahu lah gimana masa lalu gue, Sep.”
“Ya terus lo mau gimana? Mau terus bohong sampai Raya tahu dari orang lain? Bukannya itu bakal jadi masalah besar banget daripada lo jujur sekarang? Atau pindahin aja anak lo ke sekolah lain. Kan jadi nggak ketemu lagi.”
Samesta kontan terbelalak. “Gila lo. Gimana caranya gue pindahin Sansan sekolah coba? Sedangkan dia betah banget sekolah di sana. Apa alasan gue? Yang ada Raya malah curiga. Lagian itu sekolah bagus terdekat antara rumah, kantor gue, dan tempat Raya kerja. Kalau ada apa-apa satu di antara kita berdua bisa sampai di sana duluan.”
“Lagian aneh. Biasanya yang ngurus anak-anak kan Raya. Kenapa sekarang jadi lo?”
“Itu karena Raya minta—“ kalimat Samesta tertahan. Soal Raya minta pisah tidak mungkin diceritakan pada orang lain, meski itu pada orang tuanya sendiri. “Kita bagi tugas sekarang. Satu minggu gue ngurusin Sansan, Raya ngurusin Saluna. Minggu depannya tukeran.”
“Oh ....” Mulut Septian membulat. “Buat apaan kayak gitu?”
“Biar saling membantu lah. Raya akhir-akhir ini sibuk kerja. Belum lagi harus ngurus rumah, suami, dan dua anak sekaligus. Kasihan, gue cuma bantu dikit.”
Septian belum paham soal urusan dalam rumah tangga. Melihat betapa ribetnya Samesta berumah tangga, membuat Septian lagi-lagi ragu menyusul ke dalam keribetan itu. Katanya kapan kamu menikah adalah kapan kamu siap. Dan Septian belum siap.
“Terus minggu depan waktu jadwal Raya ngurus Sansan. Antar-jemput Sansan ke sekolahnya. Raya bakal ketemu Lintang juga kan akhirnya?”
“Nah. Itu yang bikin gue pusing.”
Mereka menghela napas sama-sama untuk alasan berbeda. Septian karena merasa sahabatnya terlalu meribetkan hal sederhana. Sedangkan Samesta lelah mencari jalan keluar. Sejak berbohong, Samesta sulit mendapatkan tidur nyenyak. Selau saja terbangun dengan ketakutan. Takut Raya pergi, takut semuanya hilang. Tak lama bunyi alarm mengagetkan mereka. Ponsel Samesta menyala. Layarnya menampilkan keterangan sudah waktunya menjemput Sansan.
Takdir memanggil lagi.
***
Habis menunggu Samesta menjemput Sansan. Samesta yang merasa berhutang budi mengantarkan Lintang ke sekolah Pelangi. Jauh hari Samesta pernah bilang supaya Sansan dititipkan saja pada satpam sekolah kalau dirinya belum datang. Sansan ini anaknya pintar. Dia tidak akan pergi sama orang tidak dikenal. Namun, Lintang tetap menunggui Sansan.
Lintang malah tersinggung permintaan Samesta menitipkan Sansan pada satpam karena Samesta jadi harus mengantarkannya menjemput Pelangi di sekolah.
“Meski itu bukan Sansan. Jika muridku yang lain belum dijemput orang tuanya, sudah jadi kewajiban aku menunggui dia. Dan kamu sebenarnya nggak perlu sampai mengantarkan aku jemput Pelangi sampai antar pulang. Karena inilah tugasku.”
Jadinya Samesta tidak enak hati. Berhenti mengungkit seharusnya Sansan di titipkan di pos satpam.
Di perjalanan kali ini Lintang bertanya jika diberi kesempatan kembali ke masa lalu Samesta akan memilih pergi ke usia berapa.
Tidak ada alasan bagi Samesta pergi ke masa lalu. Mungkin karena terlalu banyak kesalahpahaman yang terjadi, tapi sekarang semua sudah baik-baik saja. Malah sekarang Samesta merasa hidupnya sudah cukup. Ia berharap selamanya begini.
“Kalau aku mau pergi ke masa kuliah. Seru ya, kan? Berorganisasi, dapat teman dari berbagai angkatan, jadi panitia event ....”
Kontan saja tenggorokan Samesta kering. Masa kuliah kan masa-masa mereka menjadi kekasih. Masa terburuk dalam hidup Samesta. Dari cerita Lintang, sepertinya hanya ada kenangan indah.
Samesta bergidig mengingatnya sekilas. Saat menoleh ke samping, ternyata Lintang juga sedang menatapnya. Mengapa Samesta merasa Lintang sengaja bilang ini? Untuk apa? Samesta mendengarkan Lintang mengenang apa-apa yang Samesta hampir lupa. Sampai gang menuju rumah Lintang terlihat, Samesta mendapatkan kelegaan luar biasa.
Akhirnya ia terbebas dari wanita itu.
***
“Ketemu lagi?” Septian mengekorinya masuk ruang kerja.
Sansan dibiarkan bermain di sudut lain ruang kerja lumayan luas untuk dibangun tenda kecil suku Indian. Samesta sengaja membuat area bermain Sansan untuk antisipasi sewaktu-waktu harus mengurus anak sambil bekerja. Ternyata sekarang berguna juga.
Samesta bergumam. Septian mendengarnya sebagai pembenaran. “Ya ..., mau gimana lagi? Udah gue suruh dia nitipin anak gue ke satpam. Tetep aja nungguin gue jemput. Masa iya gue biarin dia pulang naik angkot setelah dia jagain anak gue?”
“Beneran kayaknya, Sam, lo harus mikirin saran gue tadi. Pindahin Sansan ke sekolah lain. Perasaan gue langsung nggak enak waktu mantan lo disebut-sebut. Kayak bakal ada sesuatu yang serem. Sebelum terjadi mending lo antisipasi deh,” saran Septian khawatir.
“Kalau dipikir-pikir, Sansan tinggal beberapa bulan lagi masuk SD. Bakal sulitlah minta izin Raya mindahin Sansan.”
“Sam, demi kebaikan lo, tolong berhenti meribetkan diri sendiri. Apa susahnya sih bilang di sekolahnya Sansan ada Lintang. Lo nggak mau berhubungan sama masa lalu, canggung. Dengan alasan gitu aja pasti Raya ngerti.”
Nggak semudah itu ..., hati Samesta menyela.
“Lo baru bisa merasakan ketika jadi gue, Sep.” Samesta bersandar penuh di kursi kerja sambil memijit pelipis.
Akhirnya Septian menyerah. Dari dulu tak pernah mengerti bagaimana jalan pikiran Samesta. Ia melimih berbalik keluar ruangan. “Terserah deh.”
--Sweet Delusion—
Makasii tap love dan dukungannya
Semoga terhibur dan betah ya
See you