20. Malam Itu

1120 Kata
Raya memindahkan putranya ke dalam kamar. Ini sudah larut malam. Pukul 10, tetapi belum ada tanda-tanda Samesta akan pulang. Raya menyelimuti dan mengecup kening Sansan sembari menyematkan doa di dalam hati. Raya tersenyum, tak sengaja melihat buku gambar terbuka di sisi tempat tidur. Itu gambar buatan Sansan yang tadi siang terus diceritakan mendapat nilai palinh bagus. Sansan sangat bersemangat menceritakannya sambil memakan pasta. Membuat ibu dan ayahnya tertawa saat menikmati makan siang. Raya pernah melihat foto-foto masa kecil suaminya di rumah mertua. Sansan mirip sekali dengan Samesta. Kepintarannya juga mirip. Hanya saja Sansan agak pemalu. Beda dengan Samesta yang senang bersosialisasi. Di kelilingi banyak orang, tampil di depan umum. Lampu kamar itu Raya matikan sebelum menutup pintu. Yang kemudian di sana ia tersentak. Seseorang memeluk ia mesra dari belakang. Dari caranya mengecup bahu Raya, menghidup lehernya dalam-dalam .... Raya tahu ini Samesta. Usapan Raya pada tangan Samesta yang melingkar di pinggangnya mampu mengundang suara. "Begini sebentar lagi, Ray," ujar Samesta sarat akan permohonan. Raya terkekeh kecil, mengingat dulu ketika mereka memutuskan tinggal di sebuah kontrakan dekat kampus Samesta. Waktu itu Raya sedang mengandung Saluna. Raya dan Samesta juga masih canggung untuk seukuran pasangan yang baru menikah beberapa bulan. Maklum saja mereka bersatu atas perjodohan keluarga dan dasar memperpajang persahabatan orang tua. Mereka pindah dari rumah orang tua Samesta karena banyak hal. Salah satunya kuliah Samesta yang kian hari semakin sibuk sampai jarang pulang. Padahal Raya mengetahui alasan Samesta jarang pulang sejak mengetahui Raya mengandung anaknya. Samesta terlalu kaget dan sulit menerima. Meskipun begitu Raya tidak pernah memaksakan. Butuh waktu untuk mendapatkan penerimaan dari Samesta. Pria itu paling menentang perjodohan ini. Segala kemungkinan tentang bayinya nanti telah Raya pikirkan. Setelah bayinya lahir Raya ingin meminta pisah. Karena bertahan pun sepertinya mustahil. Maka segalanya dilakukan Raya sendiri. Di kontrakan baru Raya banyak menghabiskan sendiri. Kepindahan mereka tak berpengaruh apa-apa. Samesta selalu pulang larut malam. Sedangkan Raya dilarang keluar rumah. Samesta terang-terangan mengatakan jangan sampai keberadaan Raya sebagai istriya diketahui orang lain kecuali keluarga dan sahabatnya. Raya merasa terpenjara. Pikirnya mungkin dengan tinggal pisah rumah dengan keluarga Samesta akan membebaskannya dari omongan neneknya Samesta yang tidak menyukainya. Hari-hari di dalam kontrakan sangat membosankan. Yang dilakukan Raya hanya beres-beres rumah dan menonton televisi. Raya butuh teman bicara. Namun Samesta selalu menghindarinya. Makanan yang dibuatnya untuk sarapan dan makan malam diabaikan. "Aku buru-buru, makan di kampus." "Udah malem, aku ngantuk." Penolakan. Penolakan. Penolakan. Hanya itu yang Raya dapatkan. Raya menatap punggung Samesta hilang di balik pintu. Mereka saling diam di akhir pekan. Samesta sibuk bermain games. Sedangkan Raya menyibukan diri dengan mengurus rumah dan menyetrika setumpuk pakaian. Meski mereka berdekatan, tak ada keberanian untuk mengajak Samesta lebih dulu. Sekadar menatap Raya saja Samesta seperti enggan. Sebisa mungkin Raya tidak menciptakan suara, karena itu bisa mengganggu Samesta. Pria berhati dingin itu benci kebisingan. Dia akan diam atau pergi. Kalau pekerjaan sudah selesai, Raya akan menyembunyikan diri di dalam kamar. Mendengarkan musik atau membaca buku. Raya menerapkan informasi yang dia dapat dari membaca artikel ibu hamil. Setiap ada kesempatan Raya mengajak makhluk kecil penghuni rahimnya bicara. Tentu saja sangat pelan dan hati-hati, jangan sampai menganggu Samesta lalu membuatnya pergi. Sesungguhnya Raya kesepian. Jika tak diajak bicara setidaknya kehadiran Samesta di rumah membuatnya merasa ada teman. Raya bisa mencuri-curi lihat saat ia pergi ke dapur untuk mengambil minum. Suaminya yang tampan terlihat fokus mengerjakan sesuatu di hadapan laptop. Namun pagi itu entah kenapa perut Raya sangat sakit. Ini terjadi sejak semalam. Raya tak berani bilang apa-apa. Samesta pulang malam, wajahnya keruh. Cukup sekilas Raya mengetahui Samesta sedang menghadapi masalah. Maka Raya diam, mencoba tidur walau sakit itu membuatnya berkeringat dingin. Dia mencoba mengatur napas, meski kesulitan tidur. Punggung Samesta di sisi tempat tidur ia tatap hingga kantuk itu datang. Berharap esok sakitnya menghilang. Namun apa mau dikata, sakitnya semalam muncul lagi. Gelas dalam genggamannya terjatuh begitu saja menimpulkan bising yang amat dibenci Samesta. Tapi sungguh sakitnya seperti akam melepaskan jiwanya. Samesta berlaro dengan muka panik dan marah. Raya terduduk dengan lemari pendingin sebagai sandarannya. Samesta terbelalak melohat darah di lantai dari kaki Raya. Raya tampak tanpa daya. Wanita itu sangat kesakitan. Matanya menyorot Samesta penuh permohonan. Perasaan Samesta berkecamuk. Namun langkah kakinya, gerakan tangannya sigap mengait di tungkai dan punggung Raya. Entahlah, rintihan, tangisan Raya membuat Samesta lupa dan bergerak begitu saja. Dia tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Tiba-tiba berlari membawa Raya keluar rumah bahkan tanpa memakai sandal. Samesta hanya merasa harus menyelamatkan Raya. Entah itu karena harapan keluarganya atau ia takut bagi yang dikandung Raya kenapa-kenapa. Raya mencengkeram kaus Samesta. Menyalurkan rasa sakit dan terima kasih. "Bertahan, Raya ...," bisik Samesta. Raya mengangguk, menenggelamkan wajah di pada kaus suaminya. Menghidup aroma sabun bercampur pewangi pakaian. Seperti saat pertama mereka bersentuhan. Setelahnya Raya tak mengingat apa lagi yang terjadi. Raya terbangun di brankar rumah sakit. Samesta duduk terkantuk-kantuk di atas kursi plastik di samping tempat tidur. Mungkin sejak itu hubungan mereka berubah. Mengingat kenangan cukup menyakitkan itu menjadikan Raya kuat. Raya percaya apa pun yang terjadi, Samesta akan kembali padanya. "Ada apa, Sam?" tanya Raya lembut. Dia membalikkan badan menghadap Samesta. Keadaan ruangan yang temaram membuat mereka hanya bisa melihat siluet pasangan. Samesta menunduk, menempelkan kening mereka. Raya sampai merasakan hangatnya napas Samesta menerpa wajah. Raya tersenyum. Mungkin Samesta mendapatkan hari-hari yang berat. Akhir-akhir ini terlihat kebingungan. Raya jadi tergerak melingkarkan tangan di bahu tegap Samesta. Samesta terkekeh geli mendaparkan reaksi Raya yang semakin ke sini semakin berani. Samesta menarik pinggang kecil istrinya mendekat. Semua begitu saja terjadi. Mereka saling bersatu. Saling membagi rasa, cinta, dan udara. Sampai satu ketika mereka merasa harus mengambil napas. Mereka terengah-engah, namun tak ingin melepasnya. "Kenapa?" tanya Raya lagi, suaranya lebih pelan. Mata sayu Raya membuat Samesta mengecup kelopak matanya. Menarik Raya ke dalam pelukan mesra. "Kakiku pegal berdiri terus. Boleh kita pergi ke ruangan kita, Sam? Lagi pula ini di depan kamar anak-anak. Aku--" "Baiklah." Raya hampir memekik saking terkejutnya perlakuan Samesta. Tiba-tiba tubuhnya melayang, tahu-tahu berada di bopongan Samesta. Samesta membawanya menuruni tangga. Menuju ruangan pribadi mereka. Raya menyurukan wajah ke permukaan kemeja Samesta dan berbisik, "Aku berat loh, Sam. Bisa jalan sendiri." Mendengar ucapan istrinya, Samesta tertawa. "Aku tahu. Tapi aku ingin. Kamu harus percaya aku akan selalu kuat gendong kamu kapan aja. Berat badan kamu selalu enteng buatku." "Aku sayang kamu, Sam." Perkataan Raya kali ini berhasil menghentikan ketukan sepatu Samesta sejenak. Samesta menaikan posisi Raya. "Aku lebih sayang kamu, Ray." Raya tidak tahu apa yang sedang Samesta hadapi. Apa pun itu semoga Samesta bisa menghadapinya. Tak terasa meraka telah berada di lantai bawah. Langkah lebar Samesta menuju sebuah pintu. Samesta mendorong pintu itu dengan punggungnya. Kemudian mereka hilang di balik pintu dan suara perputaran kunci. --Sweet Delusion-- Makasii dukungannya ya Semoga terhibur dan betah See you 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN