21. Awal dari Kacau

1454 Kata
Samesta menghela napas begitu kendaraannya berhenti di depan halaman rumah. Keluar dari mobil, Samesta menyampirkan setelah jas di bahu. Ia menutup kembali gerbang rumah. Walau tubuhnya berontak ingin segera bertemu air hangat dan beristirahat. Tentu dia lebih takut kena omelan istri kalau sampai gerbang rumah tidak ditutup kembali. Barulah Samesta bisa memasuki rumah. Rumahnya belum dikunci. Artinya Raya belum tidur. Ia melenggang dengan mudah. Sebagai orang terakhir, ia juga harus mengunci rumah. Melihat kamarnya di lantai di dekat tangga menuju lantai dua tak ada siapapun, Samesta melanjutkan langkah ke lantai atas. Sesuai dugaannya, Raya sedang menidurkan putra kecil mereka di tempat tidur. Samesta memperhatikan Raya di balik pintu yang sedikit terbuka. Raya menjelma sebagai ibu luar biasa bersama anak-anaknya. Selesai menyenandungkan lalu sebelum tidur Raya mengecup kening Sansan. Membereskan barang-barang anaknya yang berserakan di lantai. Samesta segera bersembunyi ketika Raya berjalan menuju pintu. Ia mematikan lampu kamar itu. Begitu tangannya menutup pintu .... Samesta melingkarkan tangan di pinggangnya. Kesukaannya saat lelah pulang kerja adalah menghidup aroma rambut Raya yang segar. Memberikan hal yang sangat Samesta butuhkan, ketenangan. “Sam ....” Apalagi suara lembut Raya mendayu di telinga. Kontan saja Samesta menghidu Raya semakin dalam. Samesta menyurukkan wajah di pundak Raya. Mengecupnya perlahan di sana. Raya juga suka diperlakukan begini. Raya mengusap lembut tangan Samesta yang bertautan di depan perut. “Begini sebentar, Ray,” pinta Samesta sembari memejam. Namun Samesta sedang ingin melupakan masalahnya. Untuk itu ia tidak mau cerita apa-apa. Sejenak ia ingin menikmati kebersamaan ini. Memeluk mesra Raya. Tiba-tiba Raya berbalik tanpa melepaskan tautan jemari Samesta melingkari tubuhnya. Samesta membuka mata terkejut, pikirnya Raya akan pergi. Ternyata Raya berbalik untuk balas melingkarkan tangannya di bahu Samesta. “Ada apa, Sam?” Raya bertanya lagi lebih lembut. Tatapannya lurus menuju netra Samesta. Kondisi ruangan yang temaram membuat mata Raya berkilau hidup. Samesta menempelkan keningnya pada kening Raya. Tinggi Raya sebahunya. Maka mau tak mau Raya harus mendongak. Hidung mereka beradu, saling memberikan terpaaan hangat di wajah. Sekali lagi Samesta tersenyum. Senang malam ini Raya begitu mudah. Merasa mendapatkan penerimaan, Samesta menarik pinggang Raya mendekat. Merengkuhnya lebih erat, lalu melonggarkannya sedikit. Mereka saling bertatapan sesaat. Ada perpindahan energi tak kasat mata di antara mereka yang mengundang mereka terpejam lagi. Mengundang mereka saling membagi kelembutan cinta. Mereka terlalu menikmatinya hingga lupa cara bernapas. “Kenapa?” kata Raya seolah kehilangan waktu Samesta mengambil napas. Samesta mengecup kedua kelopak mata sayu Raya dan terakhir bibirnya sekilas. Sekali lagi Samesta mendekap Raya. Menempelkan dagu di atas kepalanya. Suara Raya teredam pelukannya. “Kakiku pegal berdiri terus. Boleh kita pergi ke ruangan kita, Sam? Lagi pula ini di depan kamar anak-anak. Aku—“ Samesta membungkam istrinya dengan mengaitkan tangan di tungkai kaki dan bahunya. Raya hampir memekik. Samesta bisa merasakan Raya juga menyukai perlakuannya ini. Ia membawa Raya menuruni tangga menuju ruangan priadi mereka. Walau sedikit berat dan Raya memintanya menurunkannya saja, Samesta tetap membopong Raya. Malah Samesta merasa disemangati ketika Raya bilang sangat menyayanginya. Sama seperti dirinya. Sesuatu pasti terjadi pada Raya hari ini. Raya begitu manja, tidak biasa dia begini. Patut Samesta syukuri. Sebenarnya ia hanya butuh ini. *** “Kita tinggal di kontrakan ini buat sementara sampai kamu melahirkan. Setelah melahirkan kamu bakal tinggal di rumah Mamah lagi. Nggak mungkin kan kamu ngurus bayi sendiri?” Samesta menaruh dua koper miliknya dan milik Raya ke satu sudut ruangan. Sebenarnya Samesta juga tak yakin apa tubuh sekecil itu bisa menciptakan makhluk hidup lain? Samesta berdecak, tak menyangka hidupnya melenceng dari harapan. “Kamarnya cuma satu. Nggak apa-apa berbagi kamar? Mama beneran tega ngasih tempat tinggal di tempat sempit gini.” Sekali lagi Raya mengangguk. Sejak berangkat dari rumah ke konrakan mereka, Raya lebih ceria. Kentara sekali wanita itu senang tinggal jauh dari mertua, terutama neneknya Samesta. “Selama tinggal di sini kita harus bikin peraturan baru.” Samesta kembali ke ruang tengah setelah selesai memeriksa keadaan seluruh ruangan. Tak ada masalah untuk keseluruhan, kecuali tempatnya yang cukup sempit ditempati berdua. Kontrakan ini ukurannya lebih sempit dari kamar Samesta di rumah. Samesta belum yakin akan tinggal di tempat baru berapa lama. “Jadi, peraturan pertama tetap sama, jangan sampai ada yang tahu kalau kamu adalah istriku. Ini daerah dekat kampusku, kemungkinan tetangga-tetangga kita kenal salah satunya kenal aku di kampus.” Raya berhenti mengeluarkan pakaian dari koper. Diperhatikannya Samesta begitu serius duduk di atas meja. “Kedua, karena di sini nggak ada yang masak dan beres-beres rumah sedangkan aku juga sibuk kuliah, kamu harus melakukan itu. Ketiga, jangan keluar rumah tanpa seizinku. Keempat, rumah ini sempit jadi jangan berisik. Kelima, jangan ada di sekitar aku kalau kalau aku nggak minta. Ngerti?” Raya tertegun sebentar. Peraturan-peraturan itu masih sama dengan sebelumnya ketika mereka tinggal di rumah mertua. Pikir Raya, di tempat baru Samesta akan melonggarkannya sedikit. Tak punya pilihan lain Raya mengangguk. “Ada yang mau ditanyakan?” Samesta penasaran dari tadi belum mendengar Raya bersuara selain mengangguk-angguk. “Aku ... boleh nonton drama Korea?” Samesta menghela napas. “Dari semua hal yang terjadi sekarang kamu masih memikirkan itu? Asal aku nggak lagi di rumah silakan sepuasnya.” Maka sejak itu hampir setiap hari Samesta lebih banyak menghabiskan waktu di kampus. Sebenarnya ia tidak terlalu sibuk, hanya saja enggan berada di kontrakan bersama Raya. Samesta selalu pulang malam dan menemukan Raya tertidur di kursi ruang tengah, menunggunya pulang. Padahal Samesta memegang kunci cadangan. Tak membutuhkan orang lain untuk membukakan pintu. Samesta sudah bilang jangan menunggunya pulang, tetapi Raya terus melakukan hal sama. Hanya akhir pekan yang memaksa Samesta tinggal karena anggota keluarganya sering berkunjung ke kontrakan. Bahaya kalau mereka tahu Samesta lebih sering di luar. “Aku pulang malam, jangan di tunggu. Langsung tidur di kamar.” perintah Samesta suatu hari. Samesta mengatakan itu sungguh-sungguh karena kegiatan di kampus tidak bisa diperkirakan. Hari itu rapat organisasi baru selesai tengah malam. Samesta harus mengurus pekerjaan lain setelahnya. Ponselnya tak ada notifikasi dari Raya, dan memang tidak pernah ada. Samesta yang selalu menghubungi gadis itu. Samesta pikir Raya melakukan perintahnya sebelum berangkat. Nyatanya Raya tidur di kursi ruang tengah begitu Samesta pulang subuh. Mungkin lelah dan kurang tidur membuat Samesta bertindak kurang rasional. Melihat Raya menggigil di atas kursi memunculkan percikan marahnya. Samesta menyibak kasar selimut dari tubuh Raya. Keterkejutan tampak jelas di bola mata Raya yang terbelalak. “Kamu tuli, ha? Aku bilang jangan tunggu aku di sini. Kalau kamu nggak sayang dirimu sendiri dan bayi yang kamu kandung itu jangan menyusahkan aku kalau terjadi sesuatu dengan kalian!” Samesta mencengkeram pergelangan tangan Raya sampai meringis sakit. “Maaf ...,” rintih Raya terisak kesakitan. Samesta melempar kasar cengkeramannya. “Kamu sengaja melakukan ini.” Air mata Raya berjatuhan. Wanita itu menunduk sambil mengusap pergelangan tangannya. Namun hal itu menambah besar kekesalan Samesta. Niat hati ingin mengistirahatkan tubuh, Samesta kembali melangkah keluar kontrakan membawa ganjalan besar antara marah dan rasa bersalah. Deru motornya meninggalkan Raya dalam pelukan pagi. Raya membekap tangisnya sendiri. Sedangkan Samesta terus memacu laju kendaraannya membelah jalanan lengang pagi hari. Matahari belum terbit sempurna. Dingin yang menyapa masih kentara meski tubuh dipeluk lapisan hanga jaket. Samesta marah mendapat perlakuan asing dari orang yang mengubah hidupnya jadi begini. Setiap melihat Raya dalam benak Samesta hanya ada rencana hidupnya yang hancur, banyak hal yang berakhir. Samesta tak mengerti harus pergi kemana membawa sakit hatinya itu. Semua tempat yang biasa ia kunjungi rasanya mustahil untuk saat ini. Tak mungkin ia kembali ke kampus, apa yang harus dikatakannya pada anggota organisasi yang menginap di sana kalau Samesta kembali setelah pergi belum lama. Mendadak Samesta merindukan ibunya di rumah. Saat kecau begini hanya pelukan ibu yang mampu meredakan kecamuk dalam hati Samesta. Akhirnya Samesta menghentikan laju motornya di pinggir jembatan. Sesak itu mendesak tanpa kendali. Seingatnya itu pertama kali dalam hidup berteriak di atas jembatan menghadap matahari terbit. Bersamaan itu air mata membasahi pipinya. Samesta mengusapnya kasar, namun ia kesulitan mengendalikan diri. Samesta terduduk di pinggiran jembatan. Kedua tangannya menutupi wajah. Menyebunyikan tangis itu dari dunia. Raya telah membuatnya begini .... Samesta terbangun dengan rasa sakit di seluruh tubuh. Tenggorokannya sakit untuk sekadar menelan saliva. Ia sempat linglung melihat suasana di depan mata berubah. Samesta tidak sedang berada di atas jembatang .... Dan ketika pintu ruangan itu terbuka menampilkan seorang wanita anggun dengan piyama tidur unggu muda membawa nampan, Samesta sadar tadi ia kembali terlempar pada ingatan menyakitkan masa lalu. “Sudah bangun?” Raya menaruh nampan berisi air dan semangkuk bubur. Samesta mengernyit tak bisa menghirup aroma makanan yang dibawa Raya. Pergerakan Samesta bangun dari tempat tidur tertahan telapak tangan Raya menyentuh keningnya. Tangan Raya dingin kontras sekali dengan dirinya. “Masih panas. Hari ini nggak usah kerja. Aku udah menelepon Septian.” --Sweet Delusion— Makasii tap love dan dukungannya Semoga terhibur yaa See you
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN