Samesta nelangsa berdiri di balik jendela menatap jalanan. Memerhatikan setiap kendaraan lewat berharap salah satu kendaraan itu berhenti di depar pagar rumah. Berharap salah satu kendaraan itu membawa Rayanya. Malam itu Samesta tak bisa tidur sedikit pun. Kedua anaknya menginap di rumah nenek mereka. Alam yang menjemput keduanya darui rumah. Alhasil keadaan rumah juga hatinya sangat sepi. Sedangkan Raya masih sulit dihubungi. Ponselnya tidak aktif. Berkali-kali panggilan disambut suara operator. Raya benar-bear marah dan meninggalkan segalanya. Bahkan laptop yang tak pernah lepas darinya kemana-mana ditinggalkan begitu saja di mobil Samesta. Padahal Samesta tahu, Raya sedang dikejar waktu untuk novel terbaru yang harus rilis bulan depan. Samesta menghela napas. Helaan yang entah kebe

