Percuma bicara dengan neneknya saat ini. Segala ucapannya hanya dianggap tak adil. Esti malah semakin mencaci Raya. Samesta panas mendengar Raya dijelek-jelekan, entah untuk alasan apa ia semarah ini. Bukankah Samesta juga tak menyukai Raya? Kehadiran gadis itu mengubur mimpi Samesta. Di sisi lain Samesta merasa Raya tak seperti yang dikatakan Esti. Bahwa Raya menyetujui perjodohan mereka karena gadis itu menginginkan harta keluarga ini. Samesta ragu soal itu.
"Siapa pun namanya, dia tetap gadis kampung. Tidak ada yang bisa mengubah kenyataan itu. Kamu harusnya sadar bagaimana bisa dia menyetujui pernikahan kalian padahal baru beberapa jam bertemu. Nak, kamu tidak tahu apa yang dia cari di sini? Dia menikahi kamu hanya karena harta."
Mereka memang tak menikah karena saling suka. Namun, karena harta? Mengapa hati kecil Samesta menentangnya? Selama mereka tinggal satu atap, Samesta hanya melihat Raya yanh sederhana, melakukan segala hal tanpa dijadikan beban.
"Tapi Samesta tidak punya apa-apa, Nek. Mungkin dia hanya menjalankan wasiat ibunya menikah denganku."
"Kamu terlalu baik."
Berapa kali pun Samesta mencoba melihat dari sudut pandang sang nenek, hasilnya tetap sama. Samesta tak melihat keburukan Raya seperti perkataan Esti. Kecuali keburukan soal Raya yang menyetujui perjodohan tanpa alasan jelas, melakukan banyak kesalahan karena belum pernah mengoperasikan mesin cuci, salah memutar keran shower dan keran biasa jadinya dia keluar kamar mandi dengan keadaan bawah kuyup, tidak tahu caranya membuka pintu mobil saat diminta mengambil barang yang tertinggal, dan beberapa hal tampak baru juga sulit dikerjakan Raya. Samesta memakluminya. Kehidupan Raya di desa jauh berbeda dengan di tempatnya. Pada hari meninggalnya ibu Raya, Samesta sempat menginap di sana satu malam. Oleh karena Samesta bisa memaklumi perbedaan cara mereka hidup.
Pembicaraan Samesta dan sang nenek selesai. Samesta melanjutkan tujuannya putar arah kembali ke rumah untuk mengambil barang yang tertinggal. Beginilah penyakitnya, sering lupa terhadap banyak hal. Sejak tinggal bersama Raya, penyakit itu tidak seberapa parah. Raya sering mempersiapkan keperluan Samesta sebelum berangkat kemana pun. Gadis itu mencatat apa yang Samesta butuhkan dan menyediakannya.
Langkah Samesta terhenti sesaat di tengah titian tangga. Sungguh, ia memikirkan Raya? Mengapa bisa gadis itu muncul dalam benaknya akhir-akhir ini? Bahkan ketika berkegiatan di luar, beberapa kali Samesta melamun dan membayangkan Raya. Ini tidak wajar.
Samesta sampai di dalam kamar. Ia langsung tertuju pada area meja belajar. Mencari buku tugas yang tertinggal. Di sana tidak ada, di rak-rak buku juga terlihat. Samesta hampir frustrasi gara-gara mencari tugas penting itu. Dosen pangampun mata kuliah hari ini akan mempermalukan setiap mahasiswa yang tidak mengerjakan dan mangkir kuliah di depan kelas.
Maka kali ini Samesta mampus. Nasib jelek masih menyukai Samesta. Pagi ini pertama ia melupakan buku tugas dan terpaksa harus putar balik ke arah rumah padahal sudah setelah jalan menuju kampus. Kedua, ia melihat keributan di rumah. Sekarang buku tugasnya tidak bisa ditemukan dimana-mana. Bahkan Samesta mencarinya hingga ke tempat tidur. Kamar yang telah rapi, berantakan lagi.
"Kak Sam mencari ini?" Tiba-tiba buku itu terulur di hadapannya. Samesta menghela napas lega, sontak mengambil buku itu.
"Tadi aku kembali ke kamar setelah sarapan, dan melihat buku tugas yang semalam Kak Sam kerjakan tertinggal. Aku mau memberikannya, tapi Kak Sam sudah terlanjur pergi," jelas Raya sambil menunduk. Kelakuannya ini telah menjadi kebiasaan setiap berhadapan dengan Samesta.
Samesta memperhatikan Raya dari atas hingga bawah. Gadis itu telah membersihkan diri. Bajunya berbeda dengan yang ia lihat di lantai bawah tadi. Rambutnya masih basah. Tetesan air jatuh dari ujung rambutnya membasahi pakaian bagian atas.
"Maaf tidak sempat mengejar Kak Sam," katanya lagi penuh rasa sesal.
Samesta mendengar getar dalam suaranya. Ciri-ciri seseorang hendak menumpahkan tangis. Namun, beberapa saat Samesta menunggu, Raya tak kunjung menangis. Saat mendapat perlakukan buruk juga dia tak meneteskan air mata sedikit pun. Samesta heran, mengapa Raya mati-matian menahan diri? Akhirnya Samesta berdeham. Menunggu Raya melampiaskan kesedihan hanya akan membuang waktu.
"Bukan kesalahan lo," ujar Samesta berbalik dan melangkah dari sana. Sebelum mencapai pintu, perkataan Samesta berhasil membuat Raya mendongak. "Thanks udah mau ngasih tahu tugas gue ketinggalan. Lain kali nangis perlu juga. Nangis nggak selamanya disebut cengeng."
Raya tertegun mendengar perkataan Samesta. Lelaki itu bicara sambil membelakanginya, kemudian hilang di balik pintu. Menyisakan perasaan campur aduk di relung hati Raya. Sepertinya Samesta menyadari selama ini Raya bertahan agar tidak mengeluarkan air mata. Raya telah berjanji pada ibunya agar tidak menangis. Janji harus ditepati. Iya, harus ditepati.
***
Sepanjang hari Samesta teringat perlakuan neneknya pada Raya. Bagaimana gadis itu terduduk di lantai dengan keadaan basah kuyup oleh air kotor. Kepala Raya tertunduk, lalu saat sadar akan kehadiran Samesta di sana Raya sempat menoleh sekilas. Matanya memerah, dengan cepat Raya kembali menunduk.
Apa kejadian ini bukan pertama kali? Samesta membiarkan Esti diam-diam memperlakukan Raya seperti asisten rumah tangga di belakang ibunya. Jika separah ini ... Samesta merasa salah besar. Bahkan ia belum pernah memperlakukan Raya dengan baik. Setidaknya sebagai seorang perempuan. Setiap mereka berpapasan saja Samesta inginnya menumpahkan kekesalan.
Berkat bayangan kesedihan di wajah sendu Raya, hari itu Samesta mendapatkan teguran dari dosen. Samesta kehilangan fokus, sehingga salah menjawab pertanyaan. Samesta benar-benar tak paham dengan dirinya sendiri.
"Kamu baik-baik aja, kan? Dari tadi aku perhatikan kamu melamun." Suara itu mengambil atensi Samesta. "Ada masalah apa, hm?"
Lintang duduk di sampingnya, menyandarkan kepala di bahu Samesta. Rambut indah Lintang menerpa rahang Samesta. Posisi mereka membuat aroma rambut kekasihnya terhidu. Beda sekali dengan aroma rambut Raya. Tadi mereka bertemu saat rambut Raya masih basah, aroma samponya menguar kuat.
Sekarang ia memeluk gadis lain, sedangkan di rumah ada seseorang yang sah menjadi miliknya secara agama maupun hukum negara. Tiba-tiba Samesta merasakan sesak. Ia telah berbuat banyak kesalahan. Melanggar janji suci di hari itu.
Sering ponsel membuyarkan pikiran Samesta. Lintang bangun dari bahu Samesta, membiarkan kekasihnya mengangkat panggilan tersebut. Samesta menekan tombol jawab. Itu ibunya, bertanya Samesta akan pulang jam berapa. Yang tak berubah setelah menikah hanya satu, Samesta masih mendapat telepon dari sang ibu. Menanyakan Samesta kapan pulang. Selama ini Samesta belum pernah saling menghubungi dengan Raya.
"Mesta pulang agak malam, Mi. Lagi ada rapat di kampus," bohong Samesta.
Lintang sontak mencubit pinggang kekasihnya. Mengerti Samesta sedang malas pulang ke rumah. Ada saatnya dirinya juga seperti itu, malas pulang. Lintang pernah bertanya apa Samesta punya masalah di rumah, tetapi jawabannya tidak jelas. Akhirnya Lintang membiarkan Samesta berbuat sesukanya.
"Bohong lagi. Dosa tahu bohong sama orang tua."
"Ibumu masih menanyakan kamu pulang?" Samesta balik bertanya.
"Masih. Kayaknya sebagian besar anak seusia kita di negara ini masih ditanyakan kapan pulang kalau sudah lewat Magrib. Yang getol menanyakan kabarku ya Papa. Masih dimana, sama siapa, kapan pulang. Lagian kamu tumben nggak betah di rumah. Biasanya setiap dapat telepon dari Tante Senja langsung pergi. Aku tahu kamu bosen aku nanya ini terus. Makanya cerita aja kenapa sih?"
Karena ini nggak semudah cerita biasanya, Lin. Kamu tidak akan menerimanya kalau aku baru saja memiliki seorang istri. Hati Samesta menjawab dengan kepiluan. Yang tampil di luar malah senyuman. Samesta mengelus rambut Lintang penuh sayang. Tak tega ia membiarkan Lintang mengetahui tentang Raya. Lintang telah berharap lebih mereka akan bersama sampai selamanya. Lintang juga telah Samesta kenalkan pada keluarganya. Meski respon Senja jauh dari harapan. Intinya jika suatu saat Lintang mengetahui kekasihnya telah memilik seorang istri, tak terbayang kesedihannya bagaimana. Samesta telah mengecewakan dan menghancurkan setelah memberinya harapan.
"Tuh, bengong lagi!" decak Lintang jengah menghadapi Samesta. Heran, Samesta tidak seperti yang biasanya ia kenal. Yang semangat, hangat, cerita, tatapannya tajam dan yakin seolah segala hal bisa dilakukan dengan mudah. Samesta ambisius, tapi tak hanya omong doang. Sekarang Lintang merasa kehilangan Samesta.
"Cuma lagi pengen lebih lama ngabisin waktu di luar aja. Kita pacaran udah setahun lebih, kan? Pernah nggak kita ngabisin waktu berdua?"
Lintang menggelengkan kepala. Lama bersama membuat tahu senyuman Samesta ini palsu. Pura-pura tenang. Lintang bisa melihat kerumitan dalam netra kelam Samesta. "Jarang. Kamu selalu sibuk mondar-mandir di kampus. Sibuk sama duniamu sendiri. Kita memang pacaran, tapi terkadang kayak nggak gitu."
Samesta akui dirinya juga terlalu cuek. Sering mengabaikan kehadiran sang kekasih. Melupakan janji temu dan kegiatan sederhana sepasangan kekasih seperti jalan ke suatu tempat. Samesta lebih mementingkan organisasi dan prestasi kuliah. Bahkan sampai sekarang Samesta tak yakin kapan tepatnya ia mengajak Lintang berpacaran. Mereka dekat begitu saja dan tahu-tahu semua orang menganggap mereka sepasang kekasih. Seingatnya belum pernah memyatakan perasaan pada Lintang. Ya ... karena pikir Samesta, mereka dekat karena merasa nyaman. Soal perasaan suka dan sayang lebih dari teman, Samesta masih merabanya. Mungkin ada, sedikit.
"Eh iya, Atlas ulang tahun ya minggu depan?"
"Hng ... bulan apa sekarang? Oh, iya ya dia ulang tahun. Aku lupa." kekeh Samesta.
Lintang merotasi bola mata, masih membiasakan diri dengan penyakit lupa Samesta. "Mau dirayakan seperti tahun lalu?"
"Belum tahu ya. Anaknya juga kayaknya biasa aja tahun ini. Kenapa?"
"Kalau belum ada rencana gimana kalau kita bikin pesta kecil-kecilan. Aku siapin kuenya, kita ajak Kak Alam dan keluarga kamu juga bikin kejutan. Gimana? Pasti seru banget, kan?"
Berbanding terbalik dengan antusias Lintang, Samesta malah pucat pasi. Samesta membayangkan Lintang datang membawa kue ke rumahnya dan ... di sana ada Raya.
Kiamat!
--Sweet Delusion--
Keknya Samesta galau udah dari dulunya deh wkwk
Ada yang tahu gimana kelanjutannya?
See you di next chapter yaa
Jangan lupa dukung terus cerita ini