37. Akan Datang

1533 Kata
Samesta menatap rumah berlantai dua dia depan. Lewat tengah malam. Semua penghuni rumah telah tidur. Rumah itu gelap, kecuali satu kamar atas. Kamar yang selalu menyala sampai Samesta tiba. Di mana Raya menunggunya sambil membaca buku atau terkantuk-kantuk di sofa tempatnya tidur karena kelelahan seharian melayani nenek Samesta di rumah. Begitu Samesta membuka kunci gerbang, kelontang rantai besi menjadi alarm bagi Raya. Samesta bisa merasakan bagaimana terburu-burunya ia berjalan dari lantai dua menuruni tangga menuju pintu utama. Raya akan membukakan pintu. Kali ini agak lama. Biasanya saat Samesta mengunci kembali gerbang dan memarkirkan motor di bagasi, terdengar cekrekan kunci terbuka. Samesta menunggu di depan teras. Beberapa saat kemudian pintunya terbuka. Samesta menyerahkan tas dan segala barang bawaannya pada Raya. Layaknya tiga seornag istri, Raya membawa tas Samesta. "Kak Sam mau makan dulu? Aku bisa menghangatkan makanannya," tawar Raya. Kebaikan gadis ini semakin menyiksa Samesta. Tanpa menunggu jawaban Raya menaruh tas dan barang bawaan Samesta dari kampus di kursi ruang tengah. Raya berjalan ke arah dapur menyalakan lampu. Segala pergerakan Raya dimulai dari mengeluarkan makanan dari lemari pendingin, menyalakan kompor, memasak kembali makanan untuk Samesta ... sambil sesekali menguap. Samesta memperhatikan semuanya. Raya begitu menarik. "Kata Umi ini makanan kesukaan Kak Sam. Aku baru belajar masaknya tadi. Tapi yang ini buatan Umi kok, Kak Sam nggak usah khawatir sakit perut kayak kemarin." Raya menaruh makanan di atas meja makan. Ia bolak-balik membawakan piring dan nasi. Gadis ini salam sekali tidak lelah melakukan pekerjaan dari pagi buta. Tak lama menunggu makan malam tersaji di meja makan. Raya berdiri di sisi kursi menanti Samesta duduk. Diperlakukan begini merupakan hal yang baru. Perlahan Samesta menarik kursi dan duduk di sana. Raya menghela napas lega, ia bisa menjalankan tugas selanjutnya yaitu menunggui Samesta makan malam. Senja mengatakan jika seorang anak perempuan telah dinikahi, maka baktinya pada suami. Meski mereka bersama bukan karena rasa yang sama, Raya ingin mencoba membaktikan diri pada Samesta. Raya menyusul duduk di kursi yang berhadapan dengan lelaki itu. Samesta melarang Raya berkeliaran di hadapannya, tetapi dibeberapa kesempatan meminta secara khusus menemaninya. Salah satunya saat makan. Samesta tidak suka makan sendirian. Entah memang kebiasaan dari kecil atau Samesta ingin membuat Raya tak nyaman. Yang jelas Raya tak ada masalah dengan permintaannya. Raya tersenyum kecil memperhatikan Samesta makan dengan tenang. Mereka akan duduk dalam keheningan sampai Samesta selesai. "Nggak makan?" Raya yang sedang menyangga dagu tersentak. Begitu tenangnya sampai tak sadar melamun. Raya menggelengkan kepala. Kerjapan matanya mengatakan bahwa ia ngantuk berat. "Kak Sam aja, aku udah makan tadi," jawab Raya. Samar Samesta mengedikkan bahu, tak ingin memaksa orang yang tak ingin. Makan malam selesai, Raya membereskan bekas makan Samesta. Menyusul ke lantai atas membawa tas dan barang suaminya. Ketika sampai kamar, Samesta baru keluar dari kamar mandi mengenakan handuk melingkar sepinggang. Inilah hal baru setelah mendapat status baru sebagai istri orang, mau tak mau Raya harus terbiasa melihat seorang lelaki bertelanjang d**a dalam satu ruangan. Raya sering lupa bernapas melihat badan tegap Samesta, otot-ototnya sempurna berkat rajin olahraga. "Kak Sam?" Takut-takut Raya memanggil. Samesta yang baru saja menaiki tempat tidur membawa serta laptop menyala ke atas pangkuan sontak menoleh. Di tatapnya Raya di atas sofa. Duduk dengan selimut membungkus tubuh. "Kak Sam belum mau tidur?" Samesta sudah makan dan mandi air hangat. Kalau jadi Samesta pasti Raya sudah tidur nyenyak sekarang, bukannya tampak segar seperti berniat akan terjaga sampai pagi. Sungguh Raya tak kuat menahan ingin tidur sejak menunggu Samesta pulang. Namun, ia tak berani tidur lebih dulu karena Samesta akan marah jika tidak ada yang membukakan pintu. Seharian bekerja mungkin yang memnyebabkan lelah sekali. Badan Raya sakit semua. Raya berharap Samesta membiarkan malam ini ia tidur lebih dulu, tidak menemaninya mengerjakan tugas sebelum tidur. Raya harus bangun sangat pagi untuk mempersiapkan sarapan satu keluarga dan hari panjang dengan pekerjaan menumpuk. "Hm," gumam Samesta tak ambil pusing kembali memfokuskan diri pada layar laptop. Dari sudut matanya terlihat Raya memperbaiki posisi bantal. Gadis itu mengucapkan terima kasih dan selamat malam sebelum berbaring menghadap Samesta. Tak butuh waktu lama Raya tampak tenang dalam pejam. Samesta menangkap lelah begitu besar di wajah Raya. Raya masih tak mengatakan seberapa besar lelahnya menghadapi rumah ini. Samesta menanti saat-saat dimana pertahanan Raya runtuh. Akan seperti apa .... Samesta yakin bukan dirinya yang nanti meminta mereka berpisah, melainkan Raya sendiri. Suatu keuntungan sebab Samesta tidak mau menjadi pihak bersalah. Maka jalan keluarnya adalah membuat Raya meledak. Esti telah melakukannya demi Samesta. Namun, melihat bagaimana cara neneknya kentara sekali ingin Raya cepat-cepat minggat. Samesta malah takut Esti kelewatan menyakiti Raya. Lalu apa iya Samesta harus bekerja sendiri? Kesalahan Raya hanya satu, menyetujui perjodohan ini sehingga mereka terpaksa hidup bersama. Di luar itu dia gadis baik. Kehadiran Raya di hidup Samesta bagai warna baru yang sulit diterima. Lama-lama berkutat dengan masalah rumah tangga bikin pusing. Tak terbayang bagaimana kedua orang tuanya menjalani mahligai pernikahan selama bertahun-tahun. Baru segini saja, Samesta sangat tertekan. Padahal Samesta belum sampai pada tahap bisa menafkahi istri. Hati Samesta mengerang, sampai kapan ... pernikahan ini berlangsung ya Tuhan? Mengapa melewati hari-hari terasa lebih lama dari biasanya. Lenguhan Raya mengalihkan perhatian Samesta. Beberapa jam lagi subuh. Besok pagi-pagi ia ada kelas, jangan sampai kesiangan. Samesta melipat layar laptop lalu menyimpannya di meja belajar. Samesta mematikan lampu kamar. Dalam temaram sesaat Samesta memandang Raya. Dalam tidurnya tampak tak tenang. Samesta mengendalikan bahu, kemungkinan Raya mengalami mimpi buruk. Atau kejadian tadi siang saat dia diguyur air pel terbawa mimpi. Perlakuan yang diterimanya mungkin akan menjadi trauma tersendiri di suatu hari. Baru saja memulai Samesta sudah merasa berdosa. Jika ada cara lain agar Raya keluar sendiri dari kehidupannya, Samesta juga tidak akan bertindak jahat. Sayangnya sulit membuat Raya pergi. Selain mentalnya tahan banting dan dia gadis yang tebal muka. Mau dipermalukan separah apa pun akan tetap bertahan. Senja juga sangat menyayangi Raya. Sejak lama menginginkan anak perempuan merasa sekarang keinginannya kesampaian. Senja menganggap Raya sebagai putrinya sendiri. Makin susahlah. Sambil berbaring menghadap kanan, memperhatikan Raya dari kejauhan, perlahan Samesta jatuh terlelap. Dua manusia yang terlelap di tempat berbeda, tetapi saling berhadap-hadapan itu bagai tunas cinta yang baru merasakan tiupan angin. Rapuh dan bertahan menanti tumbuh lebih besar lagi. *** Nyatanya kenyamanan membuat siapa saja terbuai. Sinar hangat matahari merayap ke setiap bangunan. Menyapa siapa pun yang masih damai dalam lelap lewat celah-celah gorden. Samesta mengernyit, tidurnya terganggu oleh silau. Keadaan ruangan gelap. Berkas-berkas cahaya dari celah jendela juga cericit burung di pepohonan mengatakan bahwa pagi telah tiba. Benda kotak di atas meja nakas menampilkan angka 8. Kontan Samesta terduduk. Matanya yang membulat penuh mengedar ke seluruh penjuru ruangan. Ini sudah siang dan keadaan kamar masih seperti malam. Pandangannya terhenti pada sofa di pinggir ruangan dimana seseorang masih bergelung dalam selimut tebal. Langkah Samesta menujunya. Mula-mula ia menyibak gorden. Tak kunjung mendapatkan atensi, Samesta menyibak kasar selimut dari tubuh Raya. "Bangun!" bentaknya. Perlahan mata Raya terbuka sedikit. Kemudian memejam kembali. Kepalanya sakit tak tahan membuka mata. Semua telihat berbayang. Ia hapal suara siapa ini. Pasti Samesta marah besar. "Enak-enakam masih tidur jam segini. Kenapa nggak ngabangunin? Kan udah tahu gue hari ini ada kelas pagi. Sengaja, ha?" Samesta tambah kesal tak mendapat reaksi apa-apa dari Raya. Gadis itu terus memejam, sesekali keningnya mengernyit. "M-maaf, Kak. Aku nggak bisa ngebangunin Kak Sam. Kepalaku berat. Badanku sakit semua," lirih Raya. Baru Samesta sadari Raya berkeringat, rambutnya lepek. Dia menggigil kedinginan. Ragu-ragu Samesta menyentuh kening Raya. Suhu badan Raya lebih tinggi darinya. Samesta terbelalak. Raya sakit? Kepanikan serta merta melingkupi perasaan Samesta. Prihatin, kasihan, jengkel karena artinya ia akan direpotkan bercampur menjadi satu. Samesta hendak keluar memanggil Senja. Hanya seorang ibu yang bisa merawat anak-anaknya. Sebelum mencapai pintu Samesta menepuk dahi. Harusnya hal pertama yang ia lakukan adalah memindahkan Raya ke tempat tidur. Akan menjadi pertanyaan besar bagi mereka bila melihat Raya tidur di sofa. Mereka jangan sampai tahu jika Samesta dan Raya tidur terpisah. "Kakak mau apa?" tanya Raya lemah. Matanya sedikit membuka saat Samesta mengangkat tubuhnya. "Mau cari bantuan. Pertama-tama, jangan sampai mereka tahu kalau Lo tidur di sofa," jawab Samesta selesai membaringkan Raya di tempat tidurnya. Ini pertama kali ada perempuan selain ibunya yang pernah tidur di tempatnya. Pergerakan Samesta menarik selimut terhenti sampai perut Raya. Mendadak tenggorokan Samesta kesat, ia berdeham. "G-gue ke bawah dulu nyari Umi." Dengan cepat Samesta keluar kamar hampir berlari meninggalkan Raya dengan kebingungan. Sakit di kepala dan seluruh tubuh tidak membiarkan Raya berpikir. Ia kembali memejam kala denyut menyakitkan itu menyerang kepala. Raya kembali terlelap dalam sakit. Raya tak sadarkan diri saat Samesta kembali ke kamar bersama Senja. Amarah sebab bangun kesiangan hilang tanpa jejak. Hari itu Samesta tak pergi ke kampus. Sesuatu dalam dirinya menahan Samesta tetap tinggal. Ini begitu aneh. Melihat Raya lemah, pucat, dan terus memejamkan mata membuatnya sedih. Apa-apaan perasaannya ini? Sangat tak sesuai dengan pikiran. "Raya baik-baik aja, Sam. Kalau besok keadaannya belum membaik juga kita bawa dia ke dokter." Senja mengusap bahu putranya. Sejak memanggilnya di dapur mengabari bahwa Raya demam, Samesta tampak tegang. Senja mensyukuri kepedulian mulai tumbuh dalam hati Samesta. Setidaknya jika pernikahan mereka adalah keterpaksaan lambat-laun menjadi hal benar. Mereka akan saling membutuhkan. Senja yakin hari itu akan datang. --Sweet Delusion-- Aku juga yakin hari itu bakal datang Makasii tap love dan dukungannya ya Terus dukung Sweet Delusion See you 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN