38. Rasa Sesal

1194 Kata
“Kak Sam?” Mata itu terbuka. Tak ada yang Samesta tunggu sejak dua jam itu selain ingin mendengar suara Raya. Samesta sadar Raya tumbang akibat terlalu kelelahan. Bi Rum bilang hampir seluruh pekerjaan di rumah dikerjakan Raya setiap harinya. Ditambah ia tak mendapatkan perkataan baik. Dari Samesta sendiri atau dari Esti. Entah sejak kapan Raya mulai sakit. Kemungkinan sejak semalam. Samesta tidak begitu memperhatikan sebab Raya tampak baik-baik saja. Keadaan rumah juga kurang terang menyebabkan Samesta tak begitu menyadari. Yang disesali, Samesta telah membuat Raya menungguinya sampai pulang, menungguinya makan, padahal dia pasti sangat kelelahan. Mengingat Raya sempat pamit untuk tidur lebih dulu. Samesta hanya melihat Raya sekilas. Gadis tiu memang tampak kelelahan dalam tidurnya. “Kak Sam kenapa ada di sini?” Samesta bergeming, tak mengerti harus menjawab bagaimana. Harusnya sekarang ia berada di kampus masuk kelas. Melihat Raya terbaring dengan keringa dingin membasahi sekujut tubuh membuat Samesta urung. Senja telah mengatakan bahwa Raya akan segera membaik. Mungkin rasa bersalah atas kejadian kemarin siang yang membuat Samesta tinggal. “Umi nyuruh aku di sini karena kamu sakit,” jawab Samesta dingin. Mana ada ibunya bilang begitu. Hanya alasan Samesta saja, takut harga dirinya jatuh jika mengatakan sejujurnya ia khawatir. “Maaf, Kak. Aku udah bikin Kak Sam nggak jadi berangkat kuliah.” Raya berusaha duduk. “Kak Sam pergi aja, aku nggak apa-apa.” Raya kentara merasa bersalah telah membuat Samesta tertahan di rumah. Segera ia menuruni tempat tidur Samesta. Tempatnya bukan di atas sana. Samesta memindahkan karena takut keluarganya tahu jika mereka tidur terpisah. Sekarang mereka tidak dilihat oleh siapa-siapa, Raya harus segera pindah. “Mau kemana?” Samesta ikut berdiri. “Aku mau beres-beres kamar, Kak. Kak Sam udah siap pergi ke kampus atau perlu aku siapkan baju yang mana?” Dia ini! Geram Samesta dalam hati. Jelas-jelas kondisinya buruk. Wajahnya saja masih begitu pucat. Saat Samesta memeras kain kompresan, suhu tubuh Raya masih tinggi. Sepertinya gadis ini mau mati. Sudahlah, bukan urusan Samesta. Tidak mau peduli lagi. Orang yang dipedulikan saja enggan menerima. Samesta menyabet jaket dan tas di kursi belajar. Pergi membawa kekesalan sambil membanting pintu. “Kenapa kamu cemberut gitu? Eh, gimana Raya?” Di lantai satu Samesta berpapasan dengan ibunya yang hendak naik ke lantai atas membawa bubur. “Di atas. Udah bangun dia,” jawab Samesta malas-malasan lalu menuju ruang makan. Ia mencabut sehelai roti dan mengoleskan selai kacang. Gara-gara diam dikamar menjaga orang sakit, ia jadi lupa sarapan. Harusnya ia tak begini cuma karena rasa bersalah. Toh, Raya juga tidak mengharapkan Samesta ada waktu dia sakit. Dasar, Samesta bodoh. Perasaannya mudah terpengaruh kerana iba. “Katanya Neng Raya sakit ya, Den?” Bi Rum menghampiri. Samesta mengangguk sekenanya. Ia tak berselera membicarakan Raya setelah gadis itu mempertanyakan mengapa Samesta ada di sana menjaganya. Sampai habis dua gelas minum pun rasa jengkel dan tak terima itu masih melekat. Samesta ingin mengingkirkannya, tetapi sulit. “Kelelahan pasti Neng Raya. Kasihan dia. Mana kemarin tidak sempat sarapan saking sibuknya. Dari pagi sampai malam dia mengerjakan pekerjaan rumah.” “Raya nggak makan seharian?” “Habis diguyur air satu ember itu, bibi nemenin Neng Raya makan.” Astaga ..., masa ada di rumah tapi nggak makan. Samesta geleng-geleng kepala. Pekerjaan rumah yang membuat Raya tak bisa menyempatakan waktu untuk sekadar makan? “Raya sukanya apa, Bi? Biar saya beliin. Siapa tahu dia mau makan.” Bi Rum terkejut dengan perkataan Samesta. Pasalnya belum pernah mendengar kepedulian Samesta pada istrinya sendiri. Bi Rum tentu tahu anak majikannya menikah kerana terpaksa. Oleh karenanya Raya tidak diperlakukan layaknya seorang menantu di rumah ini. Apa kepedulian Samesta saat ini merupakan awal terbukanya hati Samesta? Jika iya, Bi Rum sangat bersyukur. Dengan begini kemungkinan mereka saling menyayangi sebagai pasangan akan semakin besar. “Neng Raya nggak ribet soal makanan, Den. Apa aja dia makan, tapi waktu Den Mesta bawa martabak telor Neng Raya suka banget. Satu kotak martabak bibi sampai habis. Mungkin apa aja yang dibelikan Den Mesta akan disukai Neng Raya.” Dahi Samesta mengernyit. “Kenapa gitu, Bi?” “Ya karena—“ Raya menyukai Samesta. “apa pun pemberian suami jangan ditolak,” dalih Bi Rum. Biarkan Samesta menyadari sendiri bahwa Raya menyimpan rasa padanya. Biarkan pula Samesta menyadari Raya adalah labuhan terakhir hatinya. Mereka cocok, Bi Rum rasa. Saling melengkapi. Raya yang sederhana, santun, cenderung pendiam dan penurut. Sedangkan Samesta kepribadiannya kuat, tegas, seorang pemimpin sejati, dan sifat penyayangnya akan bersatu dengan Raya. “Jam segini tukang martabak mah belum buka ya,” gumam Samesta menggaruk kepala. “Kalau bibi boleh saran, apa saja yang dibelikan Den Samesta akan dimakan Raya.” Samesta meringis, “Karena Raya takut sama saya, Bi. Saya pelototin dia biar makan juga bakal nurut. Tapi masa iya saya gitu ke orang sakit. Bukannya sembuh malah tambah sakit. Udahlah, nanti malam beli martabak telor deh. Saya mau keluar sebentar, Bi, kalau ada apa-apa kasih kabar ya?” “Siap, Den. Tapi Aden mau kemana jam segini. Kuliah, Den?” Samesta melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. “Kelasnya udah kelewat tadi pagi. Sam ada urusan aja. Sama mungkin masuk ke kelas siang. Habis ini kayaknya Umi pergi ke tempat kerjanya. Saya titip Raya. Jangan biarin dia keluar kamar mengerjakan pekerjaan rumah lagi.” Keraguan tampak di wajah Bi Rum. “Pokoknya kalau ada apa-apa langsung kasih tahu saya.” “Iya, Den.” Senyum Bi Rum mengembang. “Lagi pula pekerjaan rumah sudah beres. Neng Raya Cuma harus banyak istirahat. Bi Rum akan memastikan itu.” Benar saja, Samesta pulang ke rumah menjelang sore hari. Ia membawa dua kotak martabak telor. Lalu membawaya satu kotak ke kamarnya. Raya sedang meringkuk begitu damai di atas sofa. Selimut hampir menutupi bagian kepala. Samesta terenyuh dengan Raya yang tak ingin beristirahat di tempat nyaman sebab Samesta melarangnya. Hari ini untuk ke sekian kalinya hati nurani Samesta dicubit. Ia telah menyakiti gadis sebaik Raya. “Raya ....” Samesta berjongkok di sisi sofa memperhatikan lebih jelas wajah pucat Raya yang begitu damai. Anak-ana rambutnya jatuh menghalangi pemandangan. Samesta menyingkirkannya. Samesta ingin gadis itu membuka mata, tetapi melihat setetes air muncul dari sudut matanya. Meluncur di permukaan pelipis. Keinginan Samesta urung. Ibu jarinya mengusap bekas air mata itu. Hanya dalam keadaan tak sadar Samesta bisa melihat Raya menangis. Menyuarakan kesakitan. Tak tega melihatnya lama-lama, Samesta bangkit dan menaruh sekotak martabak telor yang sengaja ia beli untuk Raya di atas meja. Samesta keluar kamar, menutup pintu dengan perlahan. Sesak kemudian menyerang Samesta. Ia tak menyangka hatinya bimbang antara mencoba menerima atau tetap pada pendirian untuk terus menolak. Samesta ingin kehidupan bebasnya kembali. Di sisi lain ada kehidupan seseorang yang harus ia sakiti. Harusnya Raya jangan terlalu baik jadi orang. Agar keraguan tak mempengaruhi Samesta dalam mengambil keputusan. Perasaan Samesta benar-benar kosong terhadap Raya. Selain iba dan kasihan, tidak ada. “Kamu tahu, Sam? Umi sangat menyayangi Raya. Dia gadis baik. Siapa pun akan tergerak menyayangi dia. Kamu pun sama. Suatu hari nanti.” Perkataan Senja terngiang kembali. Samesta menghela napas berat. Berapa kali ia mencoba melihat sisi lain dari perjodohan ini, yang terlihat hanya rasatak terima. ==Sweet Delusion== Makasii udah dukung cerita ini Dukung terus ya See you 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN