39. Raya Tumbang

1627 Kata
“Mbak, aku kabarin Mas Samesta aja ya?” Lagi-lagi suara Zahra yang sarat akan kekhawatiran terdengar. Raya tak menggubris perkataan Zahra. Sedari tadi ia mengeluarkan semua isis perut hingga kehabisan tenaga. Beginilah keadaan Raya sekarang. Tepar dan bersandar pada pintu, kelelahan. Raya mengusap sisi mulutnya sambil memejam. Setiap ia membuka mata pasti pandangannya berputar dan berakhir memuntahkan seisi perut. “Mbak ....” Zahra menggoyangkan tangan Raya. Makin khawatir karena wanita yang telah dianggapnya sebagai kakak dia saja. Peluh membasahi wajah pucat Raya. Ia menjadi takut sesuatu terjadi pada Raya. Namun, setiap Zahra meminta izin menghubungi Samesta pasti Raya melarang, memberinya gelengan kepala. “Gimana keadaan Mbak Raya?” Nadia masuk ke area sarang. Karena keadaan Raya terpaksa ia merangkap pekerjaan menggantikan Zahra. Zahra menggeleng. Tatapan Nadia jatuh pada Raya yang bersandar di depan pintu kamar mandi sambil memejam. “Udahlah, Zah. Kasih tahu Mas Samesta aja. Aku takut Mbak Raya makin parah keadaannya.” “Mbak Raya melarang kita bilang-bilang ke Mas Samesta, Nad. Kalau Mbak Raya marah gimana?” “Zah, kamu masih memikirkan kemungkinan Mbak Raya marah daripada keadaannya yang mengkhawatirkan sekarang? Lagian kita semua tahu Mbak Raya nggak bisa marah. Dia akan memaafkan ketidakpatuhan kita. Ini juga demi nyawanya, demi keluarganya juga. Kamu mau menanggung akibatnya kalau nanti Mbak Raya kenapa-kenapa?” Zahra semakin gusar. Namun, penglihatannya menangkap Raya merayap masuk ke kamar mandi. “Mbak!” teriaknya berlari menghampiri wanita yang tampak rapuh di depan toilet. Hanya cairan putih yang Raya keluarkan dari mulut saking sudah terlalu banyak yang keluar. Napas Raya memburu. Kali ini bersandar pada Zahra yang ketakutan. Nadia sigap memanggil Mukti yang menggantikannya di front melayani pembeli. Ia memberi tahu Mukti jika Raya tak sadarkan diri. Beruntung mereka mempunyai karyawan laki-laki yang kerjanya full time. Sebab Saraga hanya akan datang usai sekolah. Mukti berlari mengikuti Nadia. Mereka menemukan Raya di pelukan Zahra yang menangis. Dalam sekali rangkulan, Mukti berhasil membopong Raya dari kamar mandi ke atas tempat tidur sempit milik Zahra. Biasanya Raya tak separah ini hingga tak sadarkan diri. “Lebih baik hubungi Mas Samesta. Ini udah gawat. Kita nggak tahu apa-apa sama kondisi Mbak Raya gimana. Seenggaknya ada keluarga yang bisa mengambil tindakan. Zah, hubungi Mas Samesta. Kmu yang paling dekat dengan keluarga Mbak Raya,” usul Mukti. “T-tapi Mukti, Mbak Raya—“ “Zah, ini demi Mbak Raya juga,” sanggah Nadia memotong kalimat Zahar. “Biar aku urus Mbak Raya, Zah. Kamu telepon Mas Samesta. Suruh ke sini cepetan.” Nadia mengambil botol. Zahra menatap kedua temannya. Nadia mengoleskan kayu putih ke sekitar hidup Raya, tetapi tak berhasil memancing kesadaran wanita itu. Ketiak Nadia memijit tangan Raya, barulah Zahra menyingkir dari sana. Ia ragu-ragu menyalakan layar ponsel. Nomor Samesta telah tampil di layar. Hanya dengan satu sentuhan, ia akan mendial Samesta. Tak ada pilihan, akhirnya Zahra melakukannya. Meski Raya melarang, tetapi mengingat keadaannya begitu, Zahra juga tak ingin mengambil risiko. Benar kata Nadia jangan dulu memusingkan amarah Raya nanti karena mereka tidak menuruti permintaannya. Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan Mbak Raya mereka. Nada tunggu pada panggilan pertama hampir habis. Zahra hendak menjauhkan ponsel dari telinga kalau saja suara dari ponsel itu menyapa. “Halo, Zah? Ada apa?” Zahra menghela napas lega. Akhirnya Samesta mengangkat panggilan teleponnya. Di sisi lain nadia berupaya mengembalikan kesadaran Raya. Ia telah mengoleskan cairan kayu putih pada bawah hidup, tangan, dan kaki Raya. Tubuh Raya dingin. Nadia menyelimuti wanita itu saat Zahra kembali dari luar. “Gimana?” Nadia penasaran. “Mas Samesta langsung ke sini. Sebentar lagi mungkin sampai,” jawab Zahra. “Mbak Raya pucet banget.” “Tangan sama kakinya dingin,” hela napas Nadia. “Aku ke front dulu. Kasian dia melayani pembali sendiri. Nggak apa-apa kan aku tinggal?” “Nggak apa-apa. Kita bagi tugas aja. Aku bakal langsung kasih tahu kalian kalau ada apa-apa. Semoga aja Mbak Raya segera sadar.” *** Samesta sontak berdiri mendengar kabar dari salah satu karyawan kedai bahwa Raya pingsan. Kesetanan,Samesta meengobrak-abrik berkas di atas meja demi mencari kunci mobil. Kertas-kertas penting berserakan di lantai. Di saat yang sama Septian datang dan naik pitam. “Lo ngapain, Samesta!” Tak terdengar apa pun selain perkataan Zahra di telepon menggema dalam kepalanya. Raya pingsan, tak sadarkan diri, dan tak bangun-bangun. Samesta tak bisa berpikir jernih hingga ia mendapatkan benda yang ia cari lalu melesat keluar ruangan kerja mengabaikan omelan sahabatnya. Tak mengerti apa yang terjadi, Septian mengejar Samesta. Aksi kejar-kejaran itu di saksikan para karyawan saat mereka melintasi ruang karyawan. “Mesta. Mesta. Samesta!” panggil Septian tak menyerah meski orang yang dikejar sama sekali tak menggubris. “Minggir, Sep!” Samesta mendorong sahabatnya menjauh. Septian menangkap ketegangan di wajah Samesta bercampur kesedihan dan ketakutan. Dapat dipastikan sesuatu telah terjadi dan menakutkan Samesta. Mereka bertemu belum lama. Masa iya hanya dalam satu jam perasaan Samesta berubah. Samesta tampak kacau kali ini. “iya, kenapa? Ada apa? Bilang!” Tak menyerah Septian mengikuti Samesta ke area parkiran kantor. Samesta menyalakan kunci mobilnya. Suara kunci terbuka terdengar dari sebuah mobil hitam di parkiran bagian ujung. Langkah Samesta lebar dan cepat. Septian semakin penasaran ada apa dengan sahabatnya. “Sam, lo mau kemana?” Septian menahan Samesta menutup pintu mobil. Dia sangat khawatir jika Samesta membawa kendaraan dalam keadaan panik begini. Takut terjadi sesuatu di jalan. Pikiran negatif berkeliaran dalam benak Septian. Jangan-jangan ini tentang Raya dan Lintang? Raya belum mengetahui tentang Lintang, kan? “Minggir, Sep. Gue harus buru-buru ke kedai. Zahra ngabarin Raya pingsan, nggak bangun-bangun!” bentak Samesta menyingkirkan tangan Septian dari pintu. Meski bukan kabar baik, Septian tetap bersyukur Samesta panik bukan karena istrinya telah mengetahui rahasianya itu. Septian menghela napas. Diturunkanlah tangannya dari pintu mobil Samesta. “Oke. Pergi. Biar gue yang jemput Sansan. Kasih kabar tentang Raya nanti ya.” Samesta hanya membalas perkataan Septian dengan anggukan. Tanpa kata ia membanting pintu mobil, kemudia melesat keluar area kantor membaur dengan kendaraan di jalanan. Septian masih berdiri di posisi yang sama menatap kepergian kendaraan Samesta. Berharap sahabatnya itu diberkahi kebahagiaan. *** Jalanan pusat kota memang tak pernah lengang di siang hari apalagi di jam makan siang dimana para karyawan banyak berkeliaran di luar kantor mencari makan. Samesta harus menekan emosinya dalam-dalam setiap menemui lampu merah. Lajunya selalu tersendat. Samesta hampir gila dan melupakan keselamatannya sendiri. Berkali-kali ia memukul stir. Ingin segera sampai ke tempat Raya berada, tetapi semua terasa dipersulit. Ketika ada kesempatan ia mengedarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Samesta sungguh ketakutan mendengar Raya tak sadarkan diri. Membuatnya perasaannya kembali kebelasan tahun lalu. Masa dimana hal mengerikan terjadi dan menciptakan satu trauma tersendiri. Mengapa Raya sampai tak sadarkan diri padahal tadi pagi terlihat baik-baik saja. Jantung Samesta berdebar parah mendapat kabar itu bertepatan dengan usainya obrolan tentang awal-awal menikah saat Raya sakit. Ini seperti de javu. Seperti mengulang kembali kesakitan yang sama. Tiba di depan bagunan bernuansa merah dan coklat tua, tanpa mempedulikan banyaknya pembeli. Samesta menyeruak masuk ke dalam kedai. Kepanikan Samesta tertangkap Mukti dan Nadia. Mereka bersyukur Samesta datang lumayan cepat sekaligus bisa merasakan bagaimana kepanikan pria itu. Kasih sayang Samesta pada keluarga kecilnya sangat tulus. “Raya?” panggil Samesta begitu membuka pintu sebuah kamar yang bersebelahan dengan tempat produksi. Samesta tertegun sesaat melihat Rayanya terpejam. “Mbak Raya belum sadar, Mas. Mungkin sama Mas Samesta bisa ....” Zahra tak melanjutkan. “Saya di luar ya, Mas. Bisa langsung panggil kami kalau butuh apa-apa,” pamit Zahra membiarkan Samesta menemani Raya. Samesta duduk di pinggiran tempat tidur. Meraih tangan istrinya yang lunglai tak berdaya ke dalam genggaman. Samesta mengecup punggung tangannya lama. Sambil memanggil Raya dengan lirih berkali-kali dengan nada ketakutan, Samesta menempelkan tangan Raya di pipinya. Wajah Raya tanpa rona. Matanya yang berbinar setiap mereka bertemu kini tertutup rapat. Raya tidur terlalu lelap. Samesta takut karenanya. “Raya bangun ...,” lirih Samesta bergetar. Tenggorokannya sakit mendapatkan Raya bergeming. “Raya ....” Dalam pejamnya mata Raya berkedut seakan menyadari kehadiran Samesta di sana. Senyum Samesta mengembang, perlahan Raya membuka mata. “Raya .... Hei, Raya ....” Buram menyambut pengihatan Raya. Ia melihat siluet seseorang di dekatnya. Genggaman tangan orang ini sangat familiar. Raya melenguh, menyadari siapa orang itu. Samesta. Mereka mengabaikan permintaannya agar tidak menghubungi Samesta. Sekarang Raya melihat ketakutan begitu besar pada Samesta. Pria tangguh tetapi rapuh hatinya ini langsung memeluk Raya sambil menangis tersedu-sedu seperti anak kecil. Samesta memeluk erat Raya. Takut melihat Raya tak sadarkan diri begitu, katanya. Jadilah di tengah pusing yang mendera juga lemah di seluruh anggota tubuh, Raya memaksakan diri untuk kuat mengusap punggung Samesta. Menenangkannya. Samestanya berhati lembut. “Aku nggak apa-apa, Sam ...,” ujar Raya menenangkan. “Aku nggak apa-apa ....” Namun Samesta terlanjut diserang takut. Trauma masa lalu kembali menguasai ingatannya. Beban pikiran dalam pekerjaan dan kondisi tubuh yang lelah bisa mengundang ingatan buruk kapan saja. Samesta belum bisa mengatasinya. Oleh karena itu Raya melarang siapa pun menghubungi Samesta. Sebab itu akan memperparah psikis Samesta jika kondisi mentalnya sedang turun. Dan sekarang kondisi mental Samesta sedang turun. Raya menghela napas. Dirinya yang sedang sakit. Bukannya ditenangkan orang lain, malah kebalikannya. Ia yang harus menenangkan orang lain. “Kenapa?” Suara Samesta sengau. “Kenapa bisa begini? Kamu baik-baik aja tadi pagi.” Karena Raya tak ingin Samesta tahu. Sebisa mungkin Raya harus menyembunyikan kesakitannya di depan Samesta. Akhir-akhir ini Samesta terlihat banyak pikiran. Bukan hal baik menambah beban pikiran Samesta selama Raya bisa menanganinya sendiri. “Aku juga nggak tahu, Sam. Tiba-tiba pusing.” Samesta melepas pelukan. Dengan menunduk, ia menarik dagu Raya perlahan agar mata mereka bersitatap. Mata Samesta merah dan berair. Ia terdiam sejenak, mencari tahu sesuatu dalam kelapnya netra wanitanya. “Bohong,” ujar Samesta. Raya memalingkan muka. ==Sweet Delusion== Uhuuu makasii tap love dan dukungannya Dukung terus yuk Sweet Delusion See you .... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN