40. Sisi Lain Samesta

1428 Kata
“Bohong,” ujar Samesta dingin. Raya memalingkan muka. Membatasi Samesta mengetahui lebih banyak dari ini. Raya mempetimbangkan tentang kondisi psikis Samesta yang terkadang kurang stabil. Di saat seperti ini Raya harus hati-hati sebelum bicara. “Kenapa kamu selalu menyembunyikan kesakitan kamu sendiri, Ray?” tanya Samesta sedih. Terkhianati oleh rasa tak berharga. Trauma Samesta sedang kembali. Raya bisa mengetahuinya dari tatap sendu Samesta yang sarat akan keputusasaan. Seakan jika Raya biarkan, Samesta bisa nekat melakukan hal diluar perkiraan orang tentangnya. Samesta tak segan menyakiti diri sendiri. Demi mendapatkan Raya kembali, Samesta pernah melakukannya hingga hampir tiada. “Aku nggak bohong, Sam. Ini hanya masalah kecil. Aku baik-baik saja. Kamu jangan khawatir berlebihan begini ya?” Raya mendongak. Kepalanya masih sakit. Raya belum mampu duduk tegak. Tangannya yang lemah menyanggah tubuh di belakang. Kalau saja bukan karena kehadiran Samesta di sisinya, mungkin Raya telah terbaring. Samesta jangan sampai melihat keadaan Raya tak berdaya itu. Atau kondisi mental Samesta siap lebih protektif dari ini. Bukan hal bagus tentunya. “Masalah kecil apa sampai kamu nggak sadarkan diri, Ray? Kamu muntah-muntah bikin para pekerja takut kamu kenapa-kenapa. Kalau Zahra menuruti kemauan kamu buat nggak menghubungi aku. Mungkin aku nggak akan tahu gimana kamu hari ini.” Samesta mendengkus keras. “Selalu aja kamu merasa bisa sendiri. Aku beneran nggak ada gunanya tahu sebagai suami.” “Sam ..., beneran aku cuma masuk angin dan kelelahan. Istirahat sebentar juga sembuh. Lagian aku nggak mau mengganggu kamu dengan hal sepele gini.” Dan nggak suka kamu kacau begini, batin Raya menambahkan. Karena terlalu khawatir mungkin Samesta mengabaikan keselamatannya selama perjalanan ke tempat ini. Samesta selalu membahayakan diri sendiri. Lupa berapa banyak yang menggantungkan hidup padanya. Samesta menggelengkan kepala tak percaya. Sepele katanya? “Keadaan kamu nggak pernah jadi sepele buatku. Kamu nggak pernah sepele. Aku kesetanan dari kantor ke sini buat kamu karena takut terjadi sesuatu. Kenapa sih, kamu mikirin apa sampai ngira aku nggak perlu tahu tentang keadaan kamu, hm?” “Aku takut kamu sedih.” Pada akhirnya Raya jujur. “Aku nggak bisa melihat kesedihan di wajah kamu, Sam. Kayak sekarang. Aku nggak suka. Karena yang selalu aku usahakan hanya kebahagiaan kamu. Aku merasa usahaku gagal kalau gini kan.” Belaian lembut jemari di rahangnya tak bisa dihindari Samesta. Ia memejam sejenak mendapatkan titik nyaman. Di luar perkiraan tangan kokohnya merengkuh Raya. Membawanya ke dalam pelukan agar Raya bersandar merasakan kenyamanan juga. Samesta terlambat menyadari Raya tengah menahan kesakitan di hadapannya. Raya adalah kata lain dari sok kuat. Dan Samesta terlalu lemah jika berhadapan dengan sok kuatnya Raya. Mereka terlalu melengkapi sebagai pasangan hidup. Samesta bersandar pada kepala tempat tidur. Lembut ia usap rambut panjang Raya yang lepek oleh keringat. Sayangnya Samesta pada wanita ini tak terhingga. “Kamu nggak perlu mengusahakan kebahagiaan aku, Ray, karena itu adalah tugasku. Membahagiakan kita berdua, Saluna dan Sansan.” Dalam dekapan nyaman Raya bergumam. Samestanya mulai tenang. Kantuk datang perlahan. Samesta selalu paham apa yang Raya butuhkan. *** Hari ini perasaan Paris ringan. Sulit dijabarkan bagaimana tepatnya setelah mendapatkan interaksi mengejutkan dari putrinya pertama kali. Waktu Paris mengantarnya ke sekolah, anak itu meminta Paris ikut turun dari motor. Agak terkejut Paris mendapat pelukan dari anak ini, meski awalnya tampak ragu-ragu. Karin menempelkan kepalanya di perut sang ayah yang asing, tetapi sangat ia rindukan. Paris balas mengelus rambut panjang yang dibiarkan terurai indah. Ini berawal dari kemarin malam. Ketika Paris pulang membawa makanan kesukaan Karin. Paris mengetuk kamarnya yang telah terkunci. Keterkejutan hadir di wajah lugu Karin mendapatkan senyuman sang ayah. Paris menuntun tangan kecil putrinya ke ruang tengah. Membuka sekotak makanan kesukaan Karin. Sambil makan dengan kecanggungan luar biasa, Paris memaksakan diri untuk bicara. Dari hati ke hati tentang bagaimana seharusnya hubungan mereka sebagai ayah dan anak. Paris tak menyangka Karin begitu cepat mengerti bahwa Paris ingin mencoba berubah menjadi seorang ayah yang baik. Perkataan Karin terus terdengar jelas di telinga sepanjang hari. "Boleh kan Karin peluk Papa begini setiap hari? Karin sering lihat mereka diantar papanya dan kasih pelukan sebelum masuk gerbang." Tentu saja Paris terharu sekaligus hatinya berkedut linu, sebab begitu lama ia mengabaikan keberadaan Karin dalam hidup. Paris hanya memikirkan diri sendiri selama ini. Kehadiran Karin tak mengubah perilaku Paris yang suka foya-foya. Tak peduli ada seseorang yang ia temui setiap hari, sakit hati. "Tentu. Karin noleh peluk papa kapan aja." Karin mengeratkan pelukan. "Makasih, Pa. Karin sayang Papa." Papa. Perasaan Paris bergetar mendengar dirinya dipanggil papa. Padahal sejak awal kedatangannya, Karin telah memanggil Paris dengan sebutan papa. Entah mengapa terdengar baru. Apa sejauh itu jarak antara mereka hingga Paris merasa tak pernah menjadi seorang ayah? Kabar ini harus segera Paris ceritakan pada Raya. Sahabat terbaik yang selalu mendengarkannya. Panggilannya tak diangkat Raya. Paris memutuskan untuk menemui Raya langsung tanpa mengabari lebih dulu. Pasti Raya maklum karena Paris terlalu senang mendapat hal naru ini. Paris antusias memacu kendaraan menuju sebuah gedung bernuansa merah dan coklat di ujung jalan. Malah perasaan menggebu ingin cepat bertemu menambah kecepatan berkendara. Hati Paris riang, rasanya setiap menyalip puluhan ke daraan, mulutnya seakan ingin mengeluarkan teriakan. Akhirnya Paris tiba di bangunan yang akhir-akhir ini ramai pengunjung itu. Tanpa melepas jaket hijau yang menjadi ciri khasnya sekarang, Paris melangkah penuh percaya diri masuk ke dalam kedai. Lonceng tanda ada pengunjung berbunyi. Keadaan dalam kedai cukup ramai oleh pengunjung di siang hari. Biasanya memasuki jam makan siang sampai malam puncaknya tempat ini ramai. Namun di balik keramaian ini Paris tak menemukan kehadiran Raya dimana pun. Biasanya wanita berambut sepunggung itu duduk di salah satu meja dekat jendela besar sambil membuka laptop. Paris melangkah menuju pantry. Mungkin para karyawan tahu dimana Raya berada. Tersisa dua langkah lagi menuju pantry, Paris menangkap pemandangan Raya keluar dari balik pintu dalam pantry bersama seorang pria. Mereka berjalan bersisi, tangan pria itu merangkul pinggang Raya sehingga posisinya sedikit bersandar. Mereka melewati Paris menuju pintu keluar. Tampaknya Raya tak menyadari kehadiran Paris di sana. Mendadak rongga di balik tulang rusuknya berderit linu. Melemparkan Paris ke tempat dimana kenyataan tumbuh. Paris disadarkan seharusnya jangan mendatangi dia yang telah jauh untuk digapai. Raya bukan hal yang bisa dikejar lagi. Wanita lemah lembut itu telah memiliki kehidupan sendiri. Yang bila Paris datang berpotensi mencampurinya. Raya akan bersedih. Bertolak belakang dengan keinginan Paris. Tangannya tergepal erat. Membuncahnya rasa takjub menjadi seorang ayah roboh seketika. Cinta itu bodoh memang. Selalu rela mendatangi dia mesti yang didapat hanya kesakitan. Lunglai, Paris berbalik arah. Keluar dari tempat itu. Dari kejauhan Zahra melihat semua. Bagaimana Paris tampak kecewa ketika Raya dirangkul Samesta keluar kedai lewat di depan mukanya. Bila jadi Paris, pastilah sakit hati. Orang yang dicintai berada di pelukan kekasihnya. Tertampar kenyataan namanya. Salahnya juga mendekati wanita yang sudah bersuami. Zahra geleng-geleng kepala. *** Samesta menarik selimut sebatas perut. Membuat Raya senyaman mungkin berbaring. Samesta lega Raya mau menurut perkataannya beristirahat di rumah. Sempitnya tempat beristirahat di kedai, bising tempat produksi dan semakin hari beranjak sore kedai bertambah ramai akan mengganggu istirahatnya Raya. Sedangkan Raya enggan membantah jika situasinya melibatkan perasaan Samesta yang rapuh. Suaminya akan terus merasa tidak berguna dan menyalahkan dirinya jika Raya tidak menurut. "Kamu nggak kerja emangnya?" Samesta mengendikkan bahu. "Mau jagain kamu di sini." "Sam ...." "Raya ...." Jemari mereka bertautan. "Jangan larang aku jagain kamu, please." Selain pasrah, Raya tak bisa apa-apa. Anggukannya memunculkan senyum indah Samesta. Entah berapa lama ia tertidur, saat membuka mata semuanya hampir gelap. Pergerakannya terkunci oleh tangan besar di atas perutnya. Raya berbalik, menghadap pria yang damai dalam pejam. Terus memperhatikannya dalam keredupan cahaya matahari. Lihatlah, kesempurnaan Samesta tak berkurang. Pria ini ditakdirkan untuk dipuji banyak-banyak. Raya menyingkirkan rambut yang jatuh di dahi Samesta. Menyentuh kedua alis tebal itu. Juga sepanjang hidung lancip Samesta sampai kedua bola matanya terbuka. Menatap Raya teduh. Samesta meraih jemari Raya di wajahnya. Mengecup berkali-kali hingga senyum indah Raya terbit. "Sore ...." Sapaan Raya selalu terdengar merdu. Samesta menarik pinggang istri mendekat. Didaratkanlah kecupan dalam di dahinya. Hangat embusan napasnya menerpa permukaan kulit. "Sore," balas Samesta. "Gimana keadaan kamu?" "Membaik." "Berkat dirawat aku ya?" Raya terkekeh. "Kamu nggak melakukan apa-apa selain tidur." "Ah, iya juga. Berarti berkat istirahat ditemani aku. Senang melihat kamu kembali senyum lagi, Ray. Jangan sakit lagi kayak tadi ya?" "Hm. Kamu juga? Jangan capek-capek terus sakit." "Hm. Kalau itu aku nggak bisa janji." Sontak alis Raya saling bertaut. "Kenapa?" "Karena dirawat sama kamu itu menyenangkan, Ray," goda Samesta. Raya mendorong tubuh Samesta menjauh. "Kamunya seneng. Akunya nggak. Kamu akan selalu merawat kamu, Sam. Jangan sakit." Samesta mengusak pucuk kepala istrinya yang manis. "Iyaaaaaa." ==Sweet Delusion== Kasian si Paris Hehe Makasii tap love dan dukungannya Dukung terus ya see you 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN