41. Kekacauan Baru

1421 Kata
Sansan memilih duduk melipir di belakang panggung. Iri melihat teman-temannya dibantu orang tuanya bersiap sebelum tampil di pentas drama. Sedangkan lagi-lagi hanya orang tua Sansan yang tidak hadir di acara ini. Sepertinya ayah dan mamanya lupa. Sansan tak berani bicara juga mengingat mamanya sedang sakit. Sedangkan sang ayah tampak sibuk menerima telepon sejak pagi. "Sansan? Kamu lagi apa di sini? Ibu cari-cari dari tadi." Sansan menoleh mendengar derap langkah mendekat. Bu Guru Cantik berjalan ke arahnya. "Ayo, siap-siap. Ibu bantu Sansan pakai kostumnya." Hanya Bu Guru Cantik yang peduli. Sansan menunduk lesu. Ingin rasanya penampilan di pentas drama dihadiri kedua orang tuanya. Tapi mereka selalu sibuk. Katanya Sansan harus jadi anak baik. Jangan cengeng, nanti mama dan ayah pusing. Sansan menerima uluran tangan Lintang. Mereka berjalan ke arah ruangan ganti. Ikut bersiap memakai kostum sebab sebentar lagi pentas drama dimulai. Lintang membantu Sansan memakai kostum dan make up. Anak itu sedikit murung hari ini. Lintang tahu penyebabnya karena Sansan merasa diabaikan kedua orang tuanya. Setiap ada acara sekolah Sansan selalu didampingi guru. Tiba waktunya naik ke atas panggung. Sansan berjalan lesu mengikuti barisan. Riuh tepukan tangan menyambut mereka. Semua penonton berdiri. Musik segera dimulai dan anak-anak itu menari mengikuti irama. Mereka menggemaskan dalam balutan kostum beraneka ragam. Tingkahnya juga mengundang tawa para penonton. Hanya satu anak yang murung. Namun ketika ia mendongak karena mendengar ada seseorang di kursi penonton memanggil namanya. Kontan senyumnya terbit secerah mentari. Di sana Samesta melambaikan tangan. Ayahnya datang! Bahagia Sansan kali ini ia punya penonton. Kehadiran Samesta melesatkan semangat. Sansan menari dengan riang. *** Samesta baru mencapai lobby kantor ketika suara anak kecil tiba-tiba menggema dalam kepala. Sansan mengatakan akan tampil di pentas drama sekolah. Putra bungsunya itu meminta Samesta datang. Samesta menepuk dahi. Dasar, pelupa! Tak meneruskan langkah lebih dalam menuju ruangan kerja. Samesta berbalik kembali ke parkiran. Ia tidak ingin mengecewakan anaknya lagi. Telah sering Samesta maupun Raya lupa menemani Sansan. Kali ini jangan lagi, walau terlambat setidaknya Sansan tahu bahwa ayahnya ada. Benar saja. Ketika sampai di kindergarten, pentas telah dimulai. Samesta berjalan cepat menuju aula. Musik dan riuh tepuk tangan terdengar. Tak pikir panjang Samesta menyeruak masuk. Memilih tempat yang kemungkinan bisa dilihat oleh Sansan. Dari semua anak yang menari di atas panggung, hanya satu orang yang berkostum pohon terlihat murung. Perasaan Sansan pasti kacau sekali. Sudah ia mendapatkan peran yang tidak diinginkan. Kedua orang tuanya juga tak hadir. Maka Samesta meneriakan nama Sansan keras-keras hingga anak itu mengangkat wajah. Samesta melambaikan tangan. Memberi tahu bahwa ia di sini. Seketika senyum Sansan terbit. Tampaknya kehadiran Samesta berpengaruh besar. Sansan tak lagi lesu. Ia bergerak begitu lepas dan riang mengikuri irama. Samesta tersenyum bangga. Mengacungkan jempolnya ke udara. "Mama masih sakit?" Pertanyaan pertama yang terlontar dari mulut kecil Sansan pentas. "Iya, mama nggak bisa datang, tapi mama nonton penampilan Sansan kok. Tadi video call kita. Katanya Sansa keren bangeeeet!" Sansan tertawa dipelukan Samesta. Wajah Samesta yang disurukan ke perutnya membuat geli. "Nanti Mama minta Sansan ceritain gimana pentasnya." "Oke!" "Anak kesayang ayah ...." Samesta menyurukan kepalanya lagi di perut putranya dan mengundang tawa. Lintang tersenyum karena interaksi mereka. "Datang juga ternyata kamu, Ya." Atensi keduanya teralihkan. "Eh, Lin. Iya nih datang. Hm ..., makasih ya katanya kamu yang udah bantuin Sansan siap-siap sebelum tampil. Sansan bilang apa sama Bu Guru?" "Makasih, Bu Guru Cantik ...." "Sama-sama, Sansan Sayang ...." Lintang terkekeh. "Mau langsung pulang, Ta?" "Iya, kayaknya mampir dulu ke kantor sebentar. Raya lagi sakit soalnya." "Sakit? Sakit apa, Ta?" "Mungkin karena kelelahan. Ya udah, kalau gitu kami pamit ya. Sekali lagi makasih." "Bukan masalah, Ta. Dah, Sansan. Jangan sedih lagi ya ..." Sansan balas melambaikan tangan, "Dadah, Bu Guru ...." Samesta memeluk Sansan erat sambil berjalan. Mendengarkan celoteh anak itu meminta banyak hal sebagai imbalan telah melakukan penampilan bagus. Samesta mengiyakan, tapi semua tergantung Raya. Sansan berseru tidak setuju. Sebab Raya pasti tak akan memberikan semua. *** "Gimana tadi tampil pentasnya? Mama nonton lewat video call ayah loh." Raya membawa pasta makanan kesukaan Sansan ke ruang tengah. "Seru!" Semangat Sansan menggebu. Ia meninggalkan mainan dan beralih ke pangkuan Raya. "Banyak orang yang nonton. Banyak tepuk tangan. Kata Ayah, Mama juga nonton." "Iya, penampilan Sansan keren banget," puji Raya memeluk. Saluna menoleh menasarkan. Sedari tadi ia hanya mencuri dengar sambil bermain ponsel. "Emang kamu jadi apa di pentas dramanya, San?" "Pohon." jawab Sansan bangga. Sontak Saluna memuntahkan tawa. Bangga sekali adiknya ini jadi pohon di pentas drama seakan dirinya adalah pemeran utama. "Kenapa Kak Luna ketawa?" kesal Sansan. "Lagian kamu lucu. Jadi pohon aja bangga banget. Cuma pohon. Paling adegannya goyang kiri kana pura-pura ditiup angin." "Saluna ...," tegur Raya memperingati perkataan Saluna yang selalu mengejek adiknya. "Pemeran utama itu apa?" tanya Sansan lugu pada ibunya. Dengan sabar Raya bilang, "Pentas drama tadi tentang cerita Lutung Kasarung, kan? Nah yang jadi Putri dan lutungnya itu namanya pemeran utama. Mereka paling banyak dialog dan tampil di panggung." "Tapi Sansan juga paling banyak tampil di panggung. Dari awal sampai selesai, Sansan berdiri di panggung terus. Berarti pohon juga pemeran utama ya, Ma?" Raya dan Samesta terkekah karena perkataan lugu putra mereka. Raya memeluk Sansan lagi. "Iya, makanya Mama bangga banget. Sansan tampil terus di panggung. Kuat banget sih anaknya Mama." Sansan tertawa senang. Berhasil mematahkan ejekan sang kakak. Ia menjulurkan lidah pada Saluna. Dibalas juga oleh Saluna. Dalam kehangatan kumpul keluarga di ruang tengah, tiba-tiba ponsel Raya berdering. Nomor tak dikenal tampil di layar. Raya mengernyit, entah siapa yang menghubunginya malam-malam begini. Menghindari suara televisi, Raya berjalan menjauhi ruang tengah. Dari sofa, Samesta memperhatikan istrinya. Tak berselang lama Raya tampak tegang. Samesta jadi penasaran siapa yang menghubungi Raya. Maka ia menghampirinya. Raya menutup panggilan telepon. Di sampingnya Samesta menampilkan wajah penasaran. "Langit ditahan di kantor polisi. Dia ngasih nomorku ke polisi. Kita harus ke sana jemput dia, Sam." "Kantor polisi?" Kaget Samesta. Saluna yang anteng bermain ponsel di ruang tengah menoleh. Kedua orang tuanya tampak serius. Mereka memelankan suara. Saluna tak bisa mendengar pembicaraan mereka, tetapi perasaan Saluna tak enak. Apalagi sebuah notifikasi muncul. Temannya mengabari tentang Langit. Besar kemungkinan Samesta dan Raya juga tengah mendiskusikan ini. "Balapan liar lagi?" Raya menggelengkan kepala. "Iya, dan salah satu anak tertangkap membawa obat-obatan terlarang. Aku nggak ngerti lagi deh sama anak ini." Keseruan Raya adalah kasih sayang. Sebadung-badungnya Langit, meski hanya anak tetangga, tetapi sayangnya Raya pada anak itu seperti pada anak sendiri. Raya telah mengurus Langit dari kecil. Setiap Langit ada masalah pasti yang mengurus Raya. Sebab Langit hanya tinggal sendiri. Kedua orang tuanya pulang ke rumah bisa dihitung jari dalam setahun. Itu pula yang menyebabkan Langit sering bertindak nakal. Langit kurang kasih sayang dan mencari perhatian. Samesta dan Raya sebagai orang tua pengganti mengerti itu. "Kami siap-siap. Aku bilang ke anak-anak biar tidur lebih cepat." Raya mengangguk setuju, lalu masuk ke kamar. Saluna telah mengetahui apa yang akan dibicarakan ayahnya waktu kembali ke ruang tengah. Ia menunggu ayahnya bilang sesuatu. "Kamu pasti udah tahu, kan?" tebak Samesta. Saluna mengangguk pelan. Menyesal tak bisa melarang Langit pergi ke balapan liar. Akhirnya menciptakan masalah lagi. "Ayah sama mama kamu akan ke sana jemput dia. Kami titip adik kamu ya. Ayo sekarang kalian ke kamar. Sansan tidur ditemenin Kak Luna ya malam ini." Samesta menggendong putra bungsunya. "Kenapa? Ayah sama Mama mau pergi ketemu teman lagi ya?" Pertanyaan yang sama tiap Samesta dan Raya pergi malam. Sansan menganggapnya Samesta menemui makan malam kolega. "Iya .... Pinter banget sih anaknya siapa ini," goda Samesta sampai di kamar Sansan. "Saluna jagain adiknya. Hati-hati. Langsung hubungi kami kalau ada apa-apa, ya?" "Hm. Jangan lama. Bawa dia pulang." Samest mengusak pucuk kepala Saluna. Putrinya berkaca-kaca. Tak tega Samesta dibuatnya. Raya telah menunggu dengan gelisah di ruang tengah. Ini bukan kali pertama. Namun, tetap saja setiap berhadapan dengan masalah Raya tegang. Samesta menautkan jemari mereka. Memberi tahu tak akan terjadi masalah serius pada Langit. Dari jendela kamar lantai dua, Saluna menyaksikan mobil ayahnya keluar dari halaman rumah. Perasaannya kacau memikirkan Langit. Ia takut pertengkaran mereka kemarin penyebab ini semua. Langit ketika marah suka hilang akal. Dia bisa melakukan apa saja yang membahayakan diri. Entah sekarang Langit akan bebas dengan mudah atau tidak .... Jika terjadi sesuatu pada sahabat kecilnya itu, Saluna tindak akan bisa memaafkan diri sendiri. Saluna menghela napas. Adiknya merengek ingin dibacakan dongeng sebelum tidur. Walau perasaan kacau, Saluna menuruti kemauan sang adik. Ia menaiki tempat tidur bertemakan super Hero itu. Duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Sansan berbaring di sampingnya, mendengarkan Sakunabaca buku dongeng. ==Sweet Delusion== Yo, anak-anak bertengkar karena apa yaaaa Makasii buat tap love dan dukungannya See you 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN