42. Khawatir

1148 Kata
Tangan Langit tergepal kuat. Buku-bukunya memutih. Ia tak berani mengangkat kepala. Di kedua sisi Samesta dan Raya duduk mengapitnya sebagai wali yang akan membebaskan Langit dari tempat itu. Langit tak punya pilihan lain selain menghubungi keluarga sahabatnya. Mukanya telah kebal membuat masalah dan menyebabkankan Raya harus menangani masalahnya kemudian. Namun, kali ini Raya tampak biasa saja. Tidak ada tanda-tanda pulang nanti Raya akan mengomel panjang. Kata Saluna kemarin ibunya sedang sakit. Apa karena sakit jadi Raya tak berselera marah? "Dari hasil tes urin yang kami lakukan memang tidak ditemukan bahwa anak bapak dan ibu memakai barang tersebut. Namun karena salah satu temannya hasilnya positif, kami harus melakukan pengarahan pada adik-adik ini." "Kami percaya Langit, anak kami tidak akan terjerumus, tetapi jika pengarahan dan pengawasan dari pihak kepolisian untuk kebaikan anak-anak. Saya tidak keberatan. Agar kejadian ini tidak terjadi lagi." Samesta bicara. "Kejadian Langit tertangkap ikut balapan liar sudah lebih dari dua kali, Pak." Pak Polisi menghela napas. Bosan tiap operasi penangkapan kenakalan remaja pada malam hari, Langit selalu terlibat. "Kami mohon maaf soal itu, Pak." Langit mendongak. Sakit hatinya mendengar Raya memohon maaf atas kesalahan yang bukan anak kandungnya lakukan. Langit hanya tetangga. Mengapa ia tak tahu diri menyusahkan Raya dan Samesta dari dulu? Hati Langit menjerit. Bahkan kedua orang tuanya tidak pernah peduli. "Baiklah, karena orang tuanya sudah datang. Langit diperbolehkan pulang. Jangan melakukan kesalahan lagi ya?" "Baik, Pak. Terima kasih, kami akan lebih memperhatikan kegiatan Langit di luar." Langit buru-buru berdiri hendak meninggalkan mereka jika tangannya tak dicekal. Ia menoleh, Raya yang mencengkeram tangannya. Tatapan Raya sulit dijelaskan. Yang pasti Langit tak menyukainya. "Kamu pulang bersama kami." tegas Raya menarik Langit keluar. Samesta undur diri pada petugas kepolisian di sana sebelum menyusul istrinya yang jelas marah. Langit pasrah digusur oleh Raya ke parkiran. Sampai tiba-tiba langkah Raya berhenti karena seseorang. Raya dan orang itu sepertinya saling kenal. Samesta mengernyit, mencoba mengenali. "Loh Ray, di sini?" tanya orang itu. Raya mengangguk. Ekspresi Raya kurang jelas sebab keadaannya malam. "Iya, jemput anak kena razia. Kamu juga, Ris. Ada masalah apa?" Langit mendengkus. Pakai dijelaskan lagi masalahnya. Setengah jengkel juga Langit melihat seseorang di samping Paris. Kalau bukan karena tantangaan balapan sama orang itu, mungkin Langit tidak akan melanggar janjinya pada Raya untuk berhenti balaparan liar. "Ini jemput keponakan kena razia juga. Kalau dari waktunya sih masalahnya sama ya." "Oh, Sagara?" Raya terkejut yang dimaksud Paris adalah Sagara. "Suka balapan liar juga? Eh, Sagara keponakan kamu, Ris?" "Iya dia keponakan aku. Nggak tahu juga sejak kapan. Tahu-tahu aku dapat panggilan dari polisi." "Dia yang bikin aku kayak gini, Ma. Langit ngelanggar janji buat nggak balap lagi karena anak itu nantangin!" emosi Langit, beruntung Samesta datang tepat waktu menahan anak itu. "Sagara nggak mungkin kayak gitu. Dia anaknya kal banget. Kalau kamu yang nantangin dia dan akhirnya terprovokasi baru percaya," ujar Raya. "Mama, lebih percaya anak itu daripada aku?" "Katanya dia anak tetangga kamu, Ray. Kok manggilnya Mama?" Heran Paris. "Dari kecil dirawat sama aku udah kayak anak sendiri. Maafkan anak ini ya, Ris. Jadinya bikin masalah dan Sagara kebawa-bawa." Kemudian hening, Raya baru sadar ada Samesta di sana. "Eh iya, Sam. Ini teman SMA-ku, Paris. Ris, ini suami aku Samesta." "Oh--" Paris mengulurkan tangan, memperkenalkan diri. "Paris." Namun Samesta tak menyambut baik. Samesta hanya mengangguk sekadarnya. Membuat Raya tak enak. Sepertinya Samesta cemburu lagi. Setiap Raya ngobrol dengan laki-laki pasti begitu. Kali ini parah. "Kalau gitu kamu duluan, Ray, Mas Samesta," pamit Paris bersama keponakannya. Samesta tambah kesal Raya menatap terus kepergian teman lamanya itu sampai benar-benar hilang bersama motornya dari lingkungan sana. Dengkusan Langit mengalihkan atensi mereka. "Dia itu pura-pura baik, Ma. Dia nantangin Langit balapan." Raya memutar bola mata. "Ngapain dia nantangin balapan, Langit ...." Langit merintih telinganya dijewer Raya. "A ... sakit, sakit, sakit." "Mungkin Langit benar, Ray," celetuk Samesta saat mereka berada di dalam mobil, perjalanan pulang. Sontak Raya melotot. "Nggak melulu Langit salah, kan? Siapa tahu Langit emang terprovokasi sama anak itu." "Tuh, kan. Ayah Sam aja percaya aku jujur. Masa seorang ibu nggak percaya perkataan anaknya," Langit mencebik di kursi belakang. "Jangan belain anak nakal, Sam. Kita tahu gimana Langit dari kecil. Dan aku tahu gimana Sagara. Tiap hari kita ketemu, dia kerja di kedai. Anaknya rajin." Raya heran, kenapa Paris tidak bilang kalau keponakan yang ia ceritakan waktu itu kerja di kedai Rames. Apa Paris juga baru tahu? Dari muka-mukanya tidka ditemukan kekagetan seperti Raya. Dunia memang sempit. "Kamu kenal anak itu tiga bulan. Kita kenal Langit belasan tahun. Ya nggak bisa dibandingkan lah," sanggah Samesta santai sambil menyetir. Di kursi belakang, Langit mengangguk-angguk setuju. Dibanding siapa pun keluarga Samesta lebih mengenal Langit luar dalam. "Makanya karena aku kenal bagaimana Langit. Jadi nggak percaya," balas Raya. "Ma!" "Pokoknya aku nggak mau tahu, ya. Langit kalau sekali lagi kamu ketangkap polisi. Aku nggak akan datang buat bebasin kamu. Inget itu baik-baik." Langit meringis. "Iya, iya ...." Dari kaca rear view Samesta mengintip. Ia tersenyum kecil. Pemandangan lucu setiap Raya memarahi Langit. *** Saluna berlari ke lantai satu mendengar deru mesin mobil masuk pekarangan rumah yang familiar. Ia membuka pintu rumah dan menemukan kedua orang tuanya keluar dari mobil. Sempat kecewa karena mereka tak beraama orang yang diharapkan datang. Tahu apa yang putrinya cari, Samesta mengusak rambut Saluna. "Langit pulang ke rumahnya." Bola mata Saluna melebar. Artinya Langit dibebaskan. Bercampur rasa syukur ia berlari memeluk Raya dari belakang. Mengucapkan banyak-banyak terima kasih karena Raya selalu mau direpotkan. Raya mengubah posisinya menghadap Saluna. "Gimana pun Langit udah kayak anak orang tua kamu. Jadi kami nggak akan membiarkan dia tidur di dalam sel tahanan. Kami nggak akan pernah mau membayangkan kalau itu terjadi pada kamu atau Sansan di suatu saat nanti. Jangan bilang terima kasih. Anak itu aja lempeng nggak bilang apa-apa." Saluna terkekeh. Langit memang kurang ajar anaknya. Terbayang bagaimana tadi Langit rurun dari mobil Samesta melengos begitu saja tanpa bilang apa-apa. Dasar! "Kalian nggak lagi berantem, kan?" Samesta paling peka kalau soal hubungan Saluna dan Langit. "Dia kayak malas gitu diajak tidur di sini malam ini." Saluna meringis. "Jangan berantem-berantemlah kalian berdua," ujar Raya. "Tahu sendiri Langit kalau ada masalah ngadepinnya pake bikin masalah baru. Bukan karena masalah percintaan, kan?" Raya menyipit. "Percintaan apa sih, Ma?" Saluna menghindar. "Soalnya tadi Sagara juga dijemput omnya dari kantor polisi dalam kasus yang sama. Kalian dan Sagara, Mama ngerasa ada sesuatu." "Sagara ke tangkap polisi?" Saluna memilin bibir bagian dalam. Kenapa bisa Sagara ikut balapan liar? Itu bukan permainan anak sepintar dan sekalem Sagara. "Emangnya ada apa sama mereka, Ma?" Samesta nimbrung. Raya malah mengendik sok misterius. "Tanya deh sama anaknya ada apa. Soalnya Mama juga belum tahu jawabannya pasti." Dibandingkan meladeni godaan kedua orang tuanya, Saluna memilih berlari ke lantai atas menuju kamarnya. Ia mendial nomor seseorang. Nada tunggu menambah keresahannya. Sampai suara berat seseorang mengapa. Saluna menghela napas lega. "Halo?" ==Sweet Delusion== Ya, saya sendiri. Ada apa ya? Hehew Makasii buat tap love dan dukungannya 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN