43. Cinta Segitiga

1277 Kata
Pekikan alarm memenuhi sebuah ruangan. Seseorang di balik selimut menggeliat. Tangannya meraba nakas. Saat ditemukannya benda bising yang membuatnya bangun dari tidur nyaman, ia membanting benda itu hingga senyap. Langit—pemuda itu kembali terpejam. Seakan dihantam kesadaran, ia terperanjat mengingat sesuatu. Matanya meliar menemukan ponsel. Sayangnya ketika ia menyalakan layar ponsel tak seperti dalam harapan. Hanya notifikasi dari teman-teman satu kelompok balapnya. Mengabar keadaan terbaru. Sedangkan dari Saluna, nihil. Biasanya setiap terkena masalah, Saluna akan menjadi orang pertama yang menanyakan kabar. Mau itu mengirim pesan atau telepon. Kini Langit hanya bisa berdecak. Betulan marah Saluna padanya. Asing sekali sikap Saluna akhir-akhir ini. Seperti bukan Saluna yang ia kenal sejak Taman Kanak-Kanak. Langit melempar asal ponselnya ke atas tempat tidur. Kemudian melenggang ke kamar mandi. Jika Saluna tidak mau menanyakan kabar. Maka Langit akan hadir dihadapannya sampai Saluna mau bicara lagi. Pagi itu Langit bergegas ke rumah seberang. Waktu mengetuk pintu, Raya sedang memasang untuk sarapan. Langit duduk di meja makan samping kopi panas yang masih mengepul punya Samesta. Tak lama Samesta datang dalam keadaan sudah rapi siap pergi kerja. Langit membalas sapaannya. “Pagi, Yah!” ucap Langit sambil makan sehelai roti tanpa selai. Samesta menyesap kopi di hadapannya. Sejak memperbolehkan Langit memanggil Samesta dan Raya sebagai ayah dan mama, rasa aneh hilang karena terbiasa. Keluarganya malah merasa seperti punya tiga orang anak. “Sekolah yang bener, Lang.” “Langit sekolahnya bener kok,” sahut Langit seperti biasa dianggap lelucon. Samesta geleng-geleng kepala. Berharap badungnya Langit tidak menular pada Sansan. Tak terbayang bagaimana kalau anak kandung berbuat banyak masalah. “A-aaaaaa, sakit, sakit, sakit,” jerit Langitsetengah berdiri karena jeweran Raya. Baru dilepas setelah dirinya minta pengampunan. “Ampun, Ma .... Jangan jewer lagi, nanti telinga Langit panjang gimana?” Sansan baru turund ari lantai dua bersama kakaknya tertawa melihat keributan di meja makan. Saluna menghela napas. Niat mau menghindar, malah bertemu sepagi ini. Malas-malas ia melanjutkan langkah ke ruang makan duduk di samping Sansan. Sebisa mungkin berlaga seperti tak terjadi apa-apa antara dirinya dan Langit. Atau nanti ia akan kena omel Raya juga. “Kamu tuh ya berhenti bikin masalah nggak bisa ya?” dengkus Raya melepas jewerannya. Walau sambil marah-marah, Raya menyentong nasi goreng di atas piring punya Langit. “Makan yang banyak.” Langit tersenyum. Setiap orang menyatakan rasa sayangnya dengan cara masing-masing. Kalau Raya dari dulu selalu dengan gaya marah-marahnya. Langit sampai paham, marah Raya bukan marah betulan. Melihat pemandangan itu, Saluna terdiam. Tanpa sengaja tatapnya bertubrukan dengan netra Langit. Saluna segera mengalihkan perhatian pada nasi goreng yang Raya berikan di atas piring. Dari sana Lnagit terus memandanginya sambil makan. Langit terlalu mengenal Saluna, hanya dengan cara itu Saluna bisa mendongak lalu membalas tatapannya. Saluna dengan cepat menyelesaikan sarapan. Buru-buru ia beranjak dari kursi satu detik setelah layar ponselnya menyala menampilkan pesan masuk. Langit semakin penasaran, Saluna mendapat pesan dari siapa. “Loh nggak berangkat sama Langit?” Punggung tangan Samesta dikecup sang putri. Raya juga mengalihkan perhatian pada Saluna dan Langit. Merasa pagi ini meraka diam-diaman. “Berangkat sama teman,” jawab Saluna. “Siapa?” tanya Raya kali ini. Saluna melirik Langit yang pura-pura fokus makan. “Sagara.” Saat itu gepalan tangan Langit di atas meja terliat jelas. Rahangnya juga mengeras. Namun Langit tetap tak beraksi menoleh pada Saluna sampai gadis itu mencapai pintu, dan hilang kehadirannya. “Kalian bertengkar ya?” Raya melihat ketegangan di wajah pemuda itu ketika Saluna keluar tanpa menyapa Langit sedikit pun. Dari semalam ia penasaran, mengapa Langit menolak menginap di rumahnya setelah kejadian tertangkap polisi. Biasanya Langit akan menerima ajakan Raya dan Samesta dengan senang hati. Karena Langit akan bercerita tentang semuanya pada putri mereka hingga dini hari. “Ada ... sedikit salah paham.” Langit mengendik. Selera makannya hilang tanpa jejak. Langit jadi sayang makanan Raya sia-sia. “Mau sedikti, mau banyak tetap aja salah paham. Sudah minta maaf belum sama Saluna? Minta maaf bukan karena kita yang salah loh.” Langit menoleh. Ucapan Samesta selalu benar. Kesalahan memang ada pada Saluna. Karena gadis itu keras kepala, Langit malah membuat masalah di antara mereka tambah besar. *** Amarah dalam diri Langit kembali mendidih. Di sekolah, Saluna mengabaikannya. Bahkan Saluna enggan dimintai eaktu untuk bicara. Langit hanya ingin memperbaiki hubungan mereka. Kembali seperti semula. Namun selalu saja Saluna berdekatan dengan pemuda itu. Langit sulit menerima Saluna dekat dengan pemuda lain. Pulang sekolah, Langit mampir ke kedai milik Raya. Di sana malah melihat Saluna sedang membantu pekerjaan Sagara memberdihkan setiap meja. Langkah kaki Langit lantas bergegas ke arahnya. Mencekal pergelangan tangan Saluna. Kehadiran Langit di sana menggagetkan gadis itu. Juga Raya yang beru turun dari lantai dua. Di titian tangga Raya terdiam menyaksikan anak-anaknya bersitegang. Ada kalanya ketidakikutcampurannya dalam setiap masalah diperlukan dalam waktu tertentu. Seperti sekarang, setelah sekian lama melihat Saluna dan Langit bagai anak kembar yang kemana-mana salalu berdua, kemudian hari ini mereka hubungan mereka tampak retak. Hati Raya ikut sakit. Pasalnya terlalu terbiasa dengan kebersamaan mereka. Raya takut mereka tak terlihat bersama lagi. “Lang, lepas!” desis Saluna balas menatap tajam Langit. Bukannya menurut permintaan sang sahabat, Langit malah semakin mengencangkan cengkeramannya di pergelangan tangan. “Lo!” bentak Langit. “Gue ajak lo ngobrol bentaran nggak ada waktu, sedangkan di sini lo banyak waktu ketawa-ketawa sama orang lain.” Sontak Saluna merapatkan bibir. Tak menyangka Langit bisa seberani ini mengatakan kekecewaannya. “Gue nelepon lo semalem setelah pulang, tapi telepon lo sibuk. Salah apa gue, Lun?” Matanya berkaca-kaca. Tak kuat mental menghadapi ini semua. Langit tahu bagaimana sakitnya diabaikan oleh kedua orang tua, maka saat sikap Saluna berubah. ketakutan akan kembali diabaikan orang terdekat tumbuh kembali. Karena selama ini ia selalu menjaga apa yang menjadi miliknya. “Pada akhirnya lo hilang juga,” ujar Langit pelan setengah berbisik Saluna kehabisan kata-kata. Cengkeraman Langit di tangannya merenggang bersama menjauhnya jarak antara mereka. Pemuda itu pergi meninggalkan hampa dan kehilangan. Saluna menatap merah bekas cengkeraman Langit. Ia tahu betul perasaan sahabatnya kini sedang kacau. Raya melanjutkan langkahnya menuruni tangga. Masalah anak remaja bisa sekompleks itu, batinnya. Seingatnya waktu remaja dulu, ia tak begitu memperhatikan soal cinta. Raya terlalu sibuk mempersiapkan masa depan. Belum sempat menyicipi bagaimana rasa cinta remaja yang katanya indah, dirinya keburu dijodohkan dengan pemuda dari kota. Raya bergidig. Oleh sebab ia tak tahu bagaimana kisah cinta remaja, sepertinya Tuhan sengaja menjadikan Raya sebagai saksi perjalanan cinta anak sendiri. “Saluna sama Langit berantem, Mbak?” Nadia tanpa ragu bertanya. Raya menyedup kopi instan di dalam mug besar. Bahunya mengendik acuh. Dirinya punya tak mengerti apa yang sedang terjadi. Jika boleh menebak sepertinya tentang cinta segitiga. Tentu Raya sadar sejak lama jika Langit menyukai putrinya. “Kenapa ya, Mbak? Aneh saya lihatnya. Biasa melihat mereka akur, terus gini mendadak saya takut nggak bisa melihat keakuran dan kejahilan mereka lagi.” Sama, Raya juga takut. “Lagi masa, Nad. Biarin aja. Selagi masalahnya kelihatan masih bisa mereka tangani ya biar mereka yang selesaikan. Orang tua turun belakangan. Eh, iya pasta punya Sansan masih ada?” “Ada, Mbak. Sedikit lagi. Mau aku belikan sekarang, Mbak?” “Nggak usah, nanti aja aku yang beli. Kalau hari ini masih ada untuk sekali makan lagi tolong bikinkan ya. Sebentar lagi Samesta pulang dari kantor bawa Sansan ke sini. Laper katanya.” “Siap, Mbak.” Semangatnya Nadia. Pandangan Raya mengedar, tak menjumpai seseorang. “Ngomong-ngomong, Zahra kemana?” “Di belakang, Mbak. Bantuin Mukti.” Satu lagi cinta segitiga. Dari lama Zahra menyimpan rasa pada Mukti. Sekarang Mukti tunagan sama orang lain. Entah ada apa degan hidup Raya. Menyaksikan banyak cinta segitiga. ==Sweet Delusion== Makasii buat tap love dan dukungannya Hehe Share yuk cerita ni ke teman kamu See you 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN