Sebetulnya bukan karena betah Samesta tinggal di rumah ibunya yang penuh dengan kenangan menyakitkan. Setiap harinya Samesta harus menghadapi kenangan itu sendirian. Setiap sudut rumah ibunya mengingatkan pada Raya. Kearoganan Samesta mengenai sebuah hubungan. Samesta berusaha keras agar Raya pergi. Namun, tak sampai misinya berhasil, ia telah goyah. Samesta tak mengerti ada apa dengan dirinya. Setelah malam itu Samesta melihat Raya tak lagi sama. Malam dimana itu pulang larut diantar Septian dalam keadaan mabuk berat. Samesta baru menyadari saat pagi harinya, terbangun dengan seseorang di bawah selimut yang sama. Tak ada helai kainpun yang menutuh tubuhnya selain selimut itu. ia menatap Raya, kepalanya menindih lengan Samesta. Terlelap nyaman dalam dekapan Samesta. Jantungnya bertalu

