Bab 4 Bagikan Kegelisahanmu

1397 Kata
Raya sering memandangi Samesta dalam diam. Hanya sorot redup lampu duduk di atas nakas dekat tempat tidur mereka lah efek melankolis tercipta. Meski begitu, belasan tahun berlalu suasana syahdu mengamati setiap lekuk wajah suaminya tidak memberi kesan bosan. Samesta adalah hal terindah yang pernah Raya punya dan masih. Rasa tidak menyangka bisa bersanding dengan manusia sejenis Samesta Wijaya hingga kini (terkadang) mengusiknya. Apa yang dilihat Samesta dari Raya waktu keluarga menjodohkan mereka di usia sangat muda? Apa karena kasihan? Mengingat Samesta bukan hal sulit mendapatkan wanita yang lebih dari Raya. Beberapa waktu setelah perjodohan atas alasan menyambung persaudaraan, Raya baru tahu yang menikahinya ialah lelaki pujaan banyak perempuan. Sekarang pun label itu masih melekat pada diri Samesta. Tampan, mapan, baik hati, ramah pada semua orang. Seiring waktu Raya mulai terbiasa menghadapi pengagum Samesta. Ia hanya terus meyakinkan diri kalau lelaki yang berada di sisinya saat terbangun pagi-pagi buta bukanlah delusi. Samesta suaminya. Raya merasa Samesta dan dirinya punya perasaan yang sama, entah sejak kapan tepatnya. Tiba-tiba kecanggungan hilang di antara mereka. Meski sebenarnya tidak pernah terpikirkan bagaimana perasaan Samesta sesungguhnya. Apalagi ketika pagi ini Raya mendengar sendiri. Samesta menyebut nama seseorang dalam tidur. Setelah sekian lama sosok itu lenyap dari pandangan mereka. Rasa sakit bangkit kembali. Lukanya tak seberapa, hanya saja pedihnya sulit dilupakan. Bahkan pakaian kerja kemarin masih melekat ditubuh Raya. Ia beranjak dari tempat tidur dengan mengancingkan kembali kemejanya. Tadi malam Samesta enggan melepaskan Raya untuk sekedar mengganti baju. Raya kira sikap manja Samesta semalam karena beban pikiran dari masalah di tempat kerja. Setelah mendengar nama itu, Raya yakin suaminya gundah akibat kembali bertemu seseorang dari masalalu. Alam bawah sadarnya ketika tertidur memikirkan wanita itu. Tentu sakit. *** Luka lain pagi ini bertambah. Raya meringis kala tanpa sengaja melihat lutut putranya yang dibalut plester. Seketika rasa bersalah melanda Raya. Sebagai ibu, dia terlambat mengetahui hal sekecil ini. "Sudah diobatin sama Bu Guru Cantik, Ma. Sakitnya tinggal sedikit," ujar Sansan memperagakan kata sedikit dengan dua jari mungilnya. “Mana lihat.” Saluna nimbrung, menggoda adiknya. “Paling kemarin nangis.” “Enggak!. Sansan enggak nangis. Tanya aja Bu Guru Cantik.” Sangat kecewa Samesta tidak memberi tahu kalau anak mereka terluka. Raya merasa menelantarkan anak. Yang lebih membuat Raya risih mendengar Sansan menyisipkan kata Bu Guru Cantik dalam setiap perkataan. Raya gelisah, ada rasa takut tanpa sebab hinggap di sanubari. Tidak berselang lama orang yang membuat paginya mendung datang menghebohkan suasana meja makan. Samesta selalu melakukan hal sama setiap pagi. Mengecup kepala anak-anak. Meski Saluna kebanyakan berkomentar kelakuan ayahnya itu tidak perlu dilakukan lagi sebab ia merasa sudah besar. Bagi Samesta anak-anaknya tetaplah anak kecil. Samesta kurang rela membiarkan mereka tumbuh besar terlalu cepat. “Pagi, Ray.” Samesta memeluk dari belakang. Sejenak menempelkan dagu di atas bahu Raya yang sedang mengoles selai roti. Sentuhan Samesta kembali mengingatkannya pada saat bangun tidur tadi. Perlahan Raya menghindar dan membuat Samesta terheran. Samesta duduk menerima roti selai yang dibuat Raya sambil mendengarkan ocehan putra bungsu mereka. Interaksi Samesta dengan anak mereka menelusup ke relung hati Raya. Terkadang membuatnya pergi diam-diam mencari tempat sepi akibat terkenang seseorang. Raya itu sangat melankolis, tetapi punya gengsi tinggi meneteskan air mata di hadapan mereka. Menyedihkan memang, masa kecil Raya tidak seberuntung anak-anaknya. Kebersamaan dengan sosok ayah bagi Raya nyaris kosong. Harusnya sudah terbiasa, dari kecil hanya bisa menyaksikan teman-teman punya ayah yang merupakan pahlawan dan cinta pertama. Ketika dirinya berkeluarga dan menyaksikan sendiri perlakukan hangat seorang pria terhadap anaknya, menyaksikannya setiap hari, rasanya menyesakkan. Entah mengapa akhir-akhir ini keinginan bertemu pria itu kembali menyeruak. Padahal tiada guna. Pria itu telah pergi meninggalkannya. Perpisahan orang tua menyebabkan Raya terpaksa mengerti keadaan. Ketidaklengkapan keluarga menciptakan kesimpulan mandiri bahwa Raya anak yang tidak diharapkan. Setiap momen pertemuan dengan ayahnya, Raya ingat sampai usia 6 tahun. Berkat puluhan tahun berlalu, semua kenangan itu terkikis. Menyisakan kenangan yang samar tanpa wajah sang ayah. Raya tidak ingat bagaimana rupa ayahnya, namun kata beberapa orang mirip dirinya. Apalagi Raya hanya sekedar tahu nama ayah dari akta kelahiran. Tidak satu pun potret pria itu dia punya. Seolah Tuhan sengaja menghapus bagaimana ayahnya dalam ingatan. Raya hilang harap, takdir tidak akan mempertemukan mereka lagi. Terakhir melihat ayahnya ketika untuk pertama kali Raya merasakan bagaimana malu mengakui kencing di celana. Kejadiannya puluhan tahun ke belakang. Hari itu dia memakai baju olahraga warna biru tua pendek bertuliskan nama sekolah negeri di desa. Raya pulang sekolah dalam keadaan celana basah, berjalan sendirian. Teman-teman mengejeknya kencing di celana. Sepanjang jalan dia menggerutu sambil menendang kerikil-kerikil. Ini gara-gara wc sekolah rusak. Tidak ada yang mau mengantarnya ke belakang sekolah untuk kencing di sana. Tiba di persimpangan rumah, Bibi memanggilnya. Meminta Raya masuk ke rumahnya sebentar. Apa yang Raya temukan sangat mengejutkan. Ayahnya duduk di ruang tengah, merentangkan tangan menyambut Raya. Sontak Raya berlari membalas pelukan pria itu. Itu adegan paling mengharukan. Dia melupakan satu hal, harusnya ia tidak duduk di pangkuan ayahnya agar tidak ketahuan kalau di kelas ia mengompol. Mungkin karena terlalu senang, Raya mengabaikan malunya. "Kok celananya basah?" Raya menyengih memperlihatkan giginya ompong. "Raya main air di sekolah. Hehe." Pria itu hanya mengiyakan. Siapa pun akan tahu, Raya bau pesing. Anak itu kencing di celana. Raya terus menempeli ayah sampai ibu pulang dari kebun. Tidak banyak pembicaraan antara ayah dan ibu. Mereka enggan bersitatap bahkan untuk sejenak. Mereka duduk di berbeda ruangan, membingungkan Raya sekaligus sedih. Di sisi lain Raya ingin terus merasakan duduk dipangkuan ayahnya yang sangat langka, namun sisi lain dalam dirinya mengatakan ibu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ia harus berada di sisi ibunya. Sampai ayahnya memutuskan pamit sebelum Raya memuaskan kerinduan. Ibunya masih tanpa kata, seolah mensyukuri. Raya menatap punggung tegap ayahnya menjauh. Hari itu ternyata menjadi hari terakhir pertemuan mereka. Tidak ada pertemuan lain setelahnya. Andai Raya mengetahui ayahnya berpamitan bukan untuk tidak kembali, Raya akan memeluknya sekali lagi lebih erat sambil berbisik, "Semoga Ayah bisa mendapatkan kebahagian di luar sana." *** "Kamu baik-baik aja?" Suara itu bagai lingkaran hitam yang menarik Raya dari sebuah tempat. Raya menoleh, di sampingnya Samesta menatapnya khawatir. Sebelah tangan Samesta mengisi sela jemari Raya, menggenggamnya lembut. Raya berusaha membalas dengan senyuman. Satu hal yang terus terulang; setiap ia mengingat masa lalu, wajah ayahnya tidak pernah terlihat. "Anak-anak?" Raya yang tersadat mengalihkan perhatian ke kursi belakang. Sudah kosong. "Saluna dan Sansan sudah sampai di sekolah mereka." "Ah maaf, aku ketiduran. Makasih sudah mengantar sampai sini, Sam." Raya melepas self drive. Samesta menghela napas. "Ada yang mengganggu pikiran kamu? Atau kamu lagi enggak enak badan? Lagi datang bulan ya?" Sejak pagi istrinya itu terlihat kurang fokus. Samesta berkali-kali memergoki Raya menatap kosong. Raya memang sering terdiam tiba-tiba melamun itu untuk lanjutan novelnya. Kali ini Samesta yakin ada suatu yang mengganggu Raya. "Enggak. Aku cuma kepikiran novelku belum selesai." Raya merasakan keterdiaman panjang. Sulit memang meyakinkan Samesta bahwa dirinya baik-baik saja. Raya balik menggenggam jemari hangat laki-laki itu. Ada perih yang kembali terasa melihat tangan mereka bertautan. "Kenapa kamu nggak bilang kalau Sansan luka?" "Ah, itu ... aku lupa. Kamu keburu ngomel-ngomel semalam. Jadinya aku lupa. Tenang aja udah diobati kok." Samesta menarik tautan tangan mereka, mengecup punggung tangan Raya. "Kenapa, hm? Jangan memendam masalah kamu sendiri, Ray. Apa fungsinya aku kalau kamu masih aja susah sendiri? Kita udah janji akan saling terbuka loh." Raya terdiam, sejujurnya Raya suka sekali ditatap hangat oleh Samesta. Meski Samesta tipe laki-laki baik kepada semua orang, selalu ada yang berbeda dari perlakuan Samesta terhadapnya. "Kalau kita bercerai, aku bakal kangen kita berduaan begini." Samesta mendelik bosan, istrinya mulai lagi. "Kita nggak bakal berpisah apa pun alasannya, Ray. Aku enggak mau kita pisah. Ti-tik." "Tapi kamu tahu keluargaku begitu. Nenekku berpisah dari Pak Aki, Mama berpisah dengan Bapakku, Kak—“ "Ray, semua itu cuma ketakutan kamu aja. Kejadian yang sama di keluarga kamu bukan sebuah tradisi atau kutukan, aku dan kamu enggak akan berpisah. Jalan kita berbeda dengan mereka. Kamu enggak takut lagi dekat-dekat aku seperti sekarang ini bukannya progres bagus, kan?" Samesta memberi jeda, tersenyum lembut pada Raya. "Kalau ada sesuatu yang bikin hati kamu enggak tenang, aku siap dengar. Sekarang jawab aku, jujur, kenapa sih kamu ingin kita pisah?" "Kan kamu yang mengajarkan," jawab Raya membuat kening Samesta berkerut. "kalau aku harus berani membuat keputusan sendiri." "Ya tapi enggak berani memutuskan kita cerai juga, Ray ...." Masalahnya Raya ragu, apa Samesta siap mendengarkan alasannya? Raya ingin menumpahkan air mata, segala keluh kesah yang dia tahan. Namun semuanya urungkan. Sudah cukup banyak Samesta melihat sisi cengengnya hari ini. Jangan lagi. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN