"Paris?"
Begitu turun dari bus di depan kedai The Rames Bakery, kehadiran Paris duduk di kursi pengunjung bagian luar kedai mengejutkan Raya. Paris tersenyum, segera berdiri saat Raya berjalan ke arahnya.
Raya agak ragu untuk mendekat. Setiap langkahnya diikuti dengan mengira-ngira. Apa yang membuat Paris datang kali ini? Sepertinya ia menunggu kedatangan Raya.
"Hai, Ris," sapa Raya lebih dulu. "Udah lama?"
"Hai, Ray. Nggak, belum lama kok. Dari mana?"
"Habis dari kantor suami antar makan siang. Eh, kamu udah makan siang?"
Raya menangkap gugup pada Paris. Lelaki itu terus tersenyum, tetapi canggung. Sesekali kakinya bergerak-gerak tak tenang. Raya jadi ingin tertawa.
Paris terkejut mendapati reaksi Raya menahan tawa sambil menunduk menutupi mulut. Raya menyadari betapa gugupnya Paris ternyata. Lagi pula kenapa dirinya bisa canggung begini ya? Mirip anak-anak yang baru merasakan cinta. Kan aneh. Berapa coba umurnya sekarang. Ah, Paris malu.
"Belum. Eh, u-udah, Ray."
"Mau ngobrol? Yuk di dalam aja. Udaranya panas di sini." Raya melangkah lebih dulu memasuki kedai.
Paris menghela napas panjang. Sedikit meredakan perasaan membuncah yang hampir membuatnya menjadi patung sesaat. Paris menyentuh kedua pipinya. Entah mengapa bertemu Raya bisa semenyenangkan ini.
Akhirnya setelah membaik, Paris mantap membuka pintu kedai. Membunyikan lonceng tanda pengunjung masuk. Para karyawan The Rames Bakery sontak menoleh. Mengetahui yang datang bukan seorang pelangga, mereka kembali sibuk send
tangan Raya di salah satu meja lantai satu. Raya duduk di sana, di hadapan laptop. Paris melangkah ke arahnya. Bila sedang serius begitu, jadi teringat Raya saat sekolah dulu. Paris sering diam-diam memperhatikan Raya yang serius mengerjakan soal. Kedua alisnya yang berkerut-kerut samar. Keningnya kadang berlipat. Rambut panjang yang berkilau seakan meminta Paris menyelipkannya ke telinga. Raya tak berubah.
Paris pernah bertemu beberapa teman sekolahnya, tapi mereka semua berubah. Terutama bagian wajah dan bentuk tubuh. Raya ini beda. Malah semakin menarik Paris rasa. Mungkin karena efek kebahagiaan juga. Tampaknya Raya menikah dengan seseorang yang penuh cinta dan mapan. Raya tak memikirkan soal cara supaya dapur mengepul setiap hari. Jauh sekali dengan kehidupan Paris.
Sekarang setiap melihat Raya, kerap menumbuhkan perasaan minder. Paris biasanya percaya diri. Kali ini ia merasa tertinggal jauh. Mungkin ini alasan mereka tak dipersatukan, sebab takdir mereka berbeda. Tuhan tahu Raya akan mendapatkan yang lebih baik jika berpisah dengan Paris.
Mengapa sekarang terdengar tak adil ya? Yang Paris dapat selama ini hanya kemalangan. Kapan hidupnya bahagia? Apa ia ditakdirkan begini saja? Menjalani hidup pas-pasan dan dikejar kebutuhan?
Jika dirinya dipisahkan dengan Raya karena perbedaan takdir. Harusnya ia mendapatkan kebahagiaan yang setimpal dengan sakitnya perpisahan waktu itu.
"Malah bengong." Raya terkekeh. "Duduk, Ris."
Paris tersadar sejak tadi ia hanya berdiri memandangi keindahan di depan. Bukan hanya penampilan, sikap Raya pun lemah lembut. Merenggut banyak perhatian.
"Mau ngopi atau teh?" tawar Raya beranjak dari tempat duduk.
"Hng ... kopi kalau boleh," jawab Paris sedikit malu, sebab setiap dia mendatangi Raya di Kedai pasti mendapatkan minuman gratis. Pernah Paris hendak membayar minumannya, tetapi Raya melarang. Raya mengatakan Paris bukan pengunjung kedai melainkan tamu dan temannya Raya. Sebaik itu Raya padanya.
"Oke."
Sesaat kemudian Raya kembali membawa nampan berisi dua cangkir kopi. Tiap meminta kopi Paris mengikuti selera Raya. Americano atau Vanilla Latte. Toh dirinya tidak punya hak meminta lebih.
"Apa kabar, Ris?" Raya kembali duduk di hadapan Paris. Tangannya meraih telinga cangkir. Pelan-pelan Raya meniup permukaan kopi panas itu. Asapnya beranjak meninggalkan aroma kafein. Caranya menyesap kopi sangat elegan. Paris agak lupa, apa dulu Raya seelegan ini?
"Baik, Ray. Kamu sendiri gimana kabarnya? Kemarin aku ke sini kamu nggak masuk kata pegawai kamu."
"Oh, iya. Kemarin tiga hari aku diam di rumah. Suamiku lagi sakit. Nggak bisa ditinggal." Senyum Raya menaruh kembali gelas di atas meja. Entah Raya sedang mengerjakan apa, perhatiannya tidak sefokus biasanya pada Paris. Sesekali Raya melirik layar laptop di hadapannya. "Aku denger kamu datang dari Zahra. Kayaknya aku bakal denger kabar bagus nih. Gimana Karin? Kamu udah mulai perhatian ke dia, kan?"
"Aku ke sini mau cerita soal dia sih."
Binar di permukaan bening mata Raya tambah jelas saat membahas anaknya Paris. Mendadak Paris bahagia menemukan sisi antusias Raya.
"Gimana?"
"Yah ..., gitulah Ray. Aku udah coba, tapi mungkin perlu waktu."
Raya mengangguk-angguk. "Iya sih nggak instan. Bakal aneh juga kalau biasanya ia menghadapi bapak cuek terus tiba-tiba perhatian. Kayak lagi ada apa nih? Bapakku nggak lagi ada maunya, kan?"
Paris tertawa.
"Kamu udah melakukan apa aja ke Karin?"
"Apa yang kamu sarankan aku lakukan. Mulai perhatian ke dia. Ngerelain orderan malam supaya pulang nggak terlalu malam dan melihat Karin sebelum tidur. Nanya ada PR nggak, meski aku nggak akan ngerti kalau dia nanya gimana ngerjainnya. Cuma ya belum bisa ngobrol banyak sih."
"Dia agak menghindari kamu, nggak?"
"Iya, sekarang kalau papasan sama aku, kayak lebih canggung dari biasanya."
Setelah menerapkan saran Raya untuk mendekati Karin, tatapan Karin jadi sulit diartikan. Jika biasanya mereka papasan di dalam rumah lewat saja, sekarang Karin akan diam sebentar menatap Paris. Mungkinkan karena senyuman Paris kelihatan tidak alami? Padahal Paris berusaha keras melakukan segalanya secara natural. Niat Paris murni ingin akrab dengan darah dagingnya. Bagaimana pun Paris sadar dirinya tidak akan selamanya begini. Suatu saat nanti akan menua. Siapa yang akan mengurusnya kalau sama anak saja tidak akrab?
"Mungkin dia masih kaget. Jangan sampai berubah cuek lagi aja sih menurutku, Ris. Kamu harus menunjukkan kalau kamu tuh beneran sayang dia. Lambat-laun pasti Karin melihat ketulusan kamu." Raya menggedik. "Tapi jangan berubah secara drastis juga. Bukan cuma anak kamu, setiap orang bakal curiga kalau orang terdekatnya berubah. Pelan-pelan asal konsisten."
"Agak susah juga sih, Ray. Itu bukan kepribadian gue banget."
"Karena baru-baru jadi canggung rasanya. Percaya deh lama-lama karena terbiasa malah hal sepele kayak nanyain kabar anak tuh jadi sebuah kewajiban. Kamu bakal merasa kangen banget sehari nggak ngobrol sama dia. Eh, kamu suka nelepon Karin kalau belum pulang dari sekolah nggak?"
Gelengan kepala Paris membuat Raya menghela napas. "Sumpah deh, Ris. Kamu cuek banget sih? Tapi rata-rata sosok bapak tuh gitu kali ya? Samesta juga nggak peduli anak-anak pulang jam berapa, kemana aja. Selalu aku yang ngecek mereka sebelum tidur. Nanyain seharian mereka ngapain aja. Udah kebiasaan juga, jadi akunya kurang kalau nggak gitu."
Tanpa Raya sadari mendengar Raya menceritakan rumah tangganya, Paris menghela napas pelan. Nasib ..., nasib .... Sekarang Raya milik orang lain.
"Terus maaf nih, Ris. Aku nanya, sebenarnya ibunya Karin masih ada, kah?"
Paris diam sebentar. Ibunya Karin ya? Wanita yang tega menyerahkan anak kecil di acara pernikahannya dan membuat kehidupan kacau hingga sekarang. Wanita itu pergi bersama lelaki lain. Mengabaikan Karin hingga sekarang. Selama Paris tinggal bersama Karin, rasanya belum pernah mendengar Karin merindukan ibunya. Boleh jadi Karin juga membenci ibunya itu.
Paris mengedikkan bahu tak acuh. "Mungkin."
"Kok mungkin? Bukannya Karin diserahkan ke kamu sama ibunya?"
"Iya pas menyerahkan sama ibunya. Seterusnya aku dan keluarga mengurus Karin. Dia nggak pernah datang lagi. Terakhir aku dengar dia nikah sama laki-laki lain. Mungkin pindah ke luar kota. Lagian Karin santai banget anaknya. Aku belum pernah dengar Karin ngeluh kangen sama ibunya."
Kali ini Raya mengangguk-angguk. Seperti sedang menganalisi masalah. "Mungkin nggak sih Karin memendam perasaannya itu? Karin pendiam, kan? Biasa aja pemicu kepribadiannya yang tertutup karena merasa nggak ada tempat buat mencurahkan isi hati dan keinginannya?"
"Nggak ada tempat gimana, Ray? Orang dia bebas bilang apa aja di rumah. Dia urus sama banyak orang, waktu ibuku masih ada dia jadi kesayangannya. Sama adik-adik Perempuanku dan sepupuku, dia sering dikasih baju sama diajak jalan-jalan. Karin mendapatkan banyak sosok ibu selama tinggal bersama keluargaku."
"Tapi apa pernah kamu mendengar langsung Karin menginginkan sesuatu?"
Karin hanya meminta uang jajan dan buku. Selebihnya tidak ada. Itu juga seringnya Paris mendengar permintaan Karin dari adiknya. Jadi, selama ini Paris seorang bapak yang payah ya? Tidak tahu apa-apa soal anak sendiri?
--Sweet Delusio--