26. Malam Itu Awal

1450 Kata
Menggoda Raya adalah kehandalan Samesta. Untuk yang satu itu Raya akui sebagai salah satu cara hubungan mereka awet hingga sekarang. Raya merasakan pipinya panas setiap teringat perlakuan Samesta di lobby kantor. Pria itu tidak mempedulikan bagaimana pandangan para karyawan menguliti mereka. Sebagai seorang pimpinan Samesta terlalu semena-mena berkelaluan mesra di depan banyak orang. itu kan tidak baik dan ... ya romantis. Lagi-lagi Raya tersenyum. Pipinya bersemu merah. Tak ayal kelakuannya senyam-senyum sendiri membuat penumpang bus lain mengernyit heran. Raya segera memalingkan muka ke arah jendela. Menatap jalanan atau apa saja asal bisa menyembunyikan wajahnya dari tatapan-tatapan heran mereka. Gara-gara Samesta. Raya jadi mengingat kenangannya waktu awal-awal mengandung Saluna. Sebelum dirinya dan Samesta tinggal di sebuah kontrakan sederhana dekat kampus Samesta. Dulu adalah masa-masa terberat mereka. Raya dan Samesta dijodohkan keluarga setelah ibu Raya meninggal dunia. Raya yang sebatang kara dibawa keluarga Samesta. Umi—ibunya Samesta adalah sahabat baik ibunya. Raya tak menaruh harpaan besar terhadap pernikahan mereka. Ia sadar diri dimana posisinya dan setiap melihat Samesta seperti diberi tamparan keras bahwa mereka bukan sepadan. Samesta selalu menunjukkan ketidaksukaannya. Menghindari tempat yang ada Raya di sana. Melengos pergi jika acara keluarga yang mengharuskan mereka bergandengan tangan sudah selesai. Semua hal berbau pasangan dilakukan Samesta terpaksa, hanya demi menghormati Umi. Raya tidak marah. Ada keluarga yang mau merangkulnya saat sendiri juga dirinya sangat bersyukur. Mungkin tanpa kehadiran Umi di saat-saat terakhir ibu, ia akan dinikahkan paman dan bibi dengan anak kepala desa. Sesungguhnya jika harus memilih antara dinikahkan dengan anak kepala desa dan mewarisi semua kekayaannya atau memilih menghadapi nikah dengan Samesta yang pemarah ..., hati Raya jatuh pada Samesta. Entah mengapa Raya takut disandingkan dengan anak kepala desa itu. Karena pilihan Raya pula, Samesta marah. Waktu itu Umi bertanya perjodohan mereka memang sudah dibicarakan sejak lama. Namun, keputusan akhir tetap ada di tangan mereka. Terutama keputusan Raya. Dan Raya bilang setuju menikah dengan Samesta. “Harusnya kamu menolak. Pengen banget nikah sama aku? Merasa ada kesempatan?” Samesta mengajak bicara usai ijab kabul. Sejak itu Raya berjanji akan menerima apa pun perkataan Samesta. Baik-buruk, susah-senang, sakit-bahagia, seperti janji sehidup semati yang Samesta ucapkan. Raya menerima amarah Samesta tanpa menyela. Karenanya Raya hampir tidak bisa bernapas secara leluasa. Semua dilakukannya serba salah di mata Samesta. Sampai suatu malam Samesta pulang dengan keadaan mabuk berat. Setelah satu pekan lebih Samesta pulang malam. Setiap ditegur jangan sering-sering pulang malam, Samesta bilang pada ibunya kalau kampus terlalu merindukan dirinya. Dari percakapan mereka Raya cukup mengetahui bahwa ia punya suami yang punya kesibukan dan terkenal di kampus. Raya senang mendengarnya, tentu saja. Walau kesenangannya itu harus dibayar dengan tidak mendapatkan perlakuan baik. Mereka memang tidur di ruangan yang sama. Samesta di atas tempat tidur, sedangkan Raya mendapat belas kasihan Samesta bisa tidur di atas sofa kamar itu. Setidaknya masih lebih baik daripada harus tidur di atas lantai beralaskan karpet tipis. Malam itu kebetulan semua anggota keluarga telah tidur. Seluruh lampu rumah telah dipadamkan. Pintu telah dikunci. Dan Raya sedang menatap jam dinding. Samesta belum juga pulang. Pikir Raya, kemungkinan Samesa tidak pulang seperti malam kemarin. Tetap saja meski ia mencoba sangat keras, dirinya tetap terjaga. Sampai tiba-tiba ponselnya berdering. Sontak Raya beringsat bangun mencari keberadaan ponsel di atas meja samping kursi. Betapa terkejutnya ia nama Samesta tampil di layar ponsel. Samesta menghubunginya? Ini pertama kali. Rasanya seperti mimpi. Saking terkejutnya, Raya mencubit pipi sendiri untuk memastikan ini nyata atau mimpi. Ternyata sakit. Dengan gugup Raya menerima panggilan tersebut. Bersiap mendengarkan perkataan Samesta. Entah itu luapan amarah atau kekesalan, yang jelas Raya tersenyum. Sayangnya suara yang menyapa bukan milik Samesta. Raya sempat melirik layar ponsel di tangannya meyakinkan diri bahwa yang mengubungi adalah Samesta, suaminya. Namun, mengapa sangat asing? “Halo, ini Raya? Maaf ngeganggu malam-malam. Gue pakai ponsel Samesta buat hubungin istrinya. Dengar ya, Samesta keadaannya lagi nggak baik dan nggak mungkin gue menghubungi keluarganya. Kita lagi ada di depan gerbang. Bisa keluar sebentar bukain gerbang?” Perasaan Raya campur aduk. Ia bergegas keluar kamar usai menerima panggilan dari sahabatnya Samesta bernama Septian. Sebetulnya Raya lupa sahabatnya Samesta yang mengetahui tentang pernikahan mereka itu yang mana. Sebab Samesta selalu menyuruh Raya bersembunyi jjika teman-temannya datang. Samesta menyembunyikan fakta bahwa dirinya sudah menikah. Memastikan tak ada yang melihatnya keluar rumah membuka gerbang, Raya bergeming melihat Samesta beridiri ditopang Samesta di depan gerbang. Samesta tak sadarkan diri. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Septian bilang jangan panik. Pria itu mewanti-wanti jangan sampai membangunkan seisi rumah dan berakhir dengan mereka menyaksikan bagaimana keadaan Samesta. Anak kebanggaan mereka itu tak sadarkan diri, sedangkan Raya mencium bau sesuatu dari mulutnya. Raya tak tahu itu apa. Sepertinya bukan hal bagus. “Samesta baik-baik aja. Besok juga bangun kayak biasa,” ujar Septian saat aku mengantarkan dia sampai pintu depan. “Gue harap lo masih punya banyak stok sabar buat menghadapi Samesta.” Raya tidak pernah menyukai tatapan mengasihani itu. Setiap menghadapi masalah, seberat apa pun Raya akan berusaha menanganinya dengan tegar. Pantang baginya mengeluh. Dari kecil ibu mendidiknya untuk mandiri, menghadapi masalah dengan berani. “Makasih,” balas Raya pada Septian. Sejak malam itu semua berubah. Raya tahu cepat atau lambat dalam hubungan pernikahan akan terjadi kejadian itu. Namun sama sekali ia tak pernah menyangka bahwa itu terjadi pada pernikahan tanpa dasar cinta. Raya kembali ke dalam kamar. Di sana Samesta tampak kacau. Perlahan ia melepaskan sepatu dan kaus kaki Samesta. Melepaskan jaket yang melekat di tubuhnya agar tidurnya nyaman. Samesta meracau, tangannya tak bisa diam. Perkataannya terdengar kirang jelas. Raya hanya menangkap kata Lintang dan maaf. Begitu Raya hendak berdiri, tiba-tiba tangannya ditarik. Samesta membuat Raya terjatuh ke sisi tempat tidur. Dalam sekejap Raya berada dalam pelukan lelaki itu. Raya berusaha melakukan peberontakan melepaskan diri. Semakin kerasa usahanya, semakin sulit ia terbebas. Raya hanya bisa pasrah pada akhirnya. Lelah dan minimnya ruang gerak memaksanya bergeming. Situasinya kini bagai terjebak di dalam lumpur hidup. Banyak bergerak maka akan tenggelam. Dalam upayanya untuk tetap hidup berada sangat dengan dengan lawan jenis, terlebih ini Samesta yang berstatus suami, Raya mengatur napas. Jantungnya menggila bisa menatap wajah dan rahan tegas Samesta dari jarak dekat. Jauh berbanding terbalik dengan merdunya detak jantung Samesta. Ragu-ragu Raya lebih dekat. Menempelkan telinganya di atas kaus Samesta. Mendengarkan lebih jelas detak milik prianya ini. Sejauh yang Raya ingat itu lah awal dari sukanya ia terhadap detak jantung Samesta. Samesta memeluknya erat. Dagunya menempel di puncak kepala Raya. Beberapa waktu kemudian pelukan Samesta merenggang. Raya bisa dengan mudah melepaskan diri. Perasaannya mendadak aneh dan memilih tetap di sana daripada harus pindah tidur di atas sofa. Menyaksikan wajah Samesta dari dekat. Menaggumi alis tebal dan bulu matanya yang lebih panjang daripada punya Raya sendiri. Banyak hal dari Samesta tak habis dalam satu hari untuk dikagumi. Rambutnya yang jatuh di dahi menambah kepolosan Samesta. Raya tergerak menyingkirkan rambut itu dari pandangan. Mengapa ada makhluk sesempurna ini .... Dalam hati ia memuji. Raya hanya bisa mengehela napas, berharap pagi tak pernah datang. Ia sedang tidak menginginkan Samesta yang hobi marah-marah. Tanpa sadar Raya jatuh tertidur. Pagi menjelang, sebab alarm di dalam alam bawah sadarnya berbunyi. Tiba-tiba ia takut membuka mata. Terasa seperti seseorang sedang memperhatikan dirinya. Apa Samesta terbangun lebih dulu? Ah, maka tamatlah riwayatmu, Raya .... “Aku tahu kamu sudah bangun.” Suara berat itu sungguh dekat. Hangatnya terasa menerpa wajah. Raya membuka mata perlahan. Dan benar saja ia langsung dihadapkan pemandangan bola mata Samesta. Posisi mereka masih sama, berdekatan, dan tangan Samesta melingkari pinggangnya. Yang berbeda hanya (sedikit mengintip) Samesta tidak mengenakan pakaian. Sontak Raya terduduk. Hal pertama ia memastikan pakaiannya masih lengkap atau tidak. Ia patut bersyukur masih mengenakan pakaian. Samesta ikut duduk. Tatapan tajamnya masih menghunus Raya menuntut jawaban. “Apa yang udah kamu lakukan?” Suara Samesta dalam dan berat membuat Raya bergidig. Samesta tampak lebih kejam dari biasanya. Raya menelan saliva susah payah. Samesta seperti siapa menerkam Raya kapan saja. Jangankan Samesta, Raya sendiri bingung apa yang terjadi sampai kebablasan tidur di pelukan Samesta. Lagi pula kapan Samesta melepas baju? Apa Samesta tanpa sadar melepas baju waktu tidur makanya tidak membangunkan Raya agar pindah tidur di sofa? Raya tidak punya jawaban apalagi pembelaan diri. Berhari-hari kemudian Samesta menghindari Raya seperti bukan karena tak suka atau benci. Kecanggungan Samesta berhasil dirasakan anggota keluarga lain. Mereka hanya senyum-senyum saja. Menduga telah terjadi sesuatu yang mereka harapkan dari pengantin baru itu. Walau Raya tak nyaman dengan cara menghindar Samesta. Rindu marah-marahnya lelaki itu karena hanya dengan marah-marah mereka ada interaksi. Raya hanya bisa menahannya sendiri. Samesta tak pulang dua hari setelah kejadian itu. Hari-hari berikutnya ia pulang saat Raya terlelap dan bangun sebelum Raya membuka mata.  --Sweet Delusion— Gimana part ini? Apa baper? Hihi Makasii tap love dan dukungannya Share yuk cerita ini ke temen kamu See you..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN