“Kamu ngerusak acara makan siang kita kalau gini obrolannya,” keluh Raya menaruh tempat makan di tangan ke atas meja. Raya membuka tutup botol minuman. “Jujur ya, hari ini kamu aneh. Ada apa? Masih sakit ya? Kan bisa ngerjain itu semua dengan minta karyawan kamu antar kerjaan ke rumah kalau masih nggak enak badan. Ini mah malah bikin mood orang lain ikutan turun. Aku datang ke sini padahal mau sekalian nyari inspirasi. Bukan kamu aja tahu yang lagi pusing sama kerjaan. Aku juga. Aku harus menuntaskan tulisanku setelah beberapa hari terjeda.”
“Loh kok kamu marah?” Samesta ikutan menaruh kotak makanan ke atas meja.
“Kamu yang mulai.”
“Aku nggak ada maksud jatuhin mood kamu. Aku cuma ngasih pendapat soal masa depan anak kita dan solusi biar kita bisa kerja sekalian ngejagain anak. Dimana salahnya? Tadi kamu bilang apa? Kamu keberatan ngurus aku sakit tiga hari di rumah? Kenapa nggak jujur aja, kan aku bisa ngurus diri sendiri.”
Raya menoleh bersama belalakan mata. Jelas dari raut wajahnya saja Raya tak terima atas perkataan Samesta. Dalam hati Samesta meringis. Jika sudah begini panjang masalahnya.
Sedangkan Raya menunggu pria yang berstatus suaminya itu menarik perkataannya barusan. Samesta salah paham. Raya juga salah telah menanggapi usul Samesta soal pemindahan anak mereka itu hingga berakhir ribut begini. Sudah tahu Samesta baru sembuh pasti tubuh dan pikiranya masih dalam tahap penyesuaian. Tapi Raya tak terimalah. Masa gara-gara baru sembuh dari sakit seenaknya Samesta bikin kesel. “Sam, kamu nuduh aku nggak ikhlas menjalankan tugas seorang istri? Selama 18 tahun ini kamu mikirnya aku terpaksa melakukan ini-itu? Gitu, Sam?”
“Yang jelas bukan gitu.”
“Terus gimana yang benarnya? Aku melakukan segalanya dengan baik, tapi aku nggak merasa kamu menghargai semua karena itu sudah tugasku. Kamu menghargai karena berpikir aku melakukannya saja sudah untung.”
“Raya!” bentak Samesta. Mana mungkin ia punya pemikiran begitu. Raya ini kalau marah suka berlebihan. Mendadak menjadi ahli sejarah, membawa-bawa kejadian masa lalu.
“Kayaknya bukan aku yang negatif thinking-nya berlebihan. Kamu tuh.”
“Apa?”
Samesta melihat gepalan tangan Raya. Tanda bahwa ia sedang melakukan pertahan diri. Bersama selama belasan tahun membuatnya terlalu menghapal berbagai sisi mengenai Raya. Samesta memalingkan muka. Niat hati ingin mengajak berdiskusi malah terjadi keributan.
Sekarang bagaimana?
Samesta bertolak pinggang. Dalam upayanya mengatur napas agar lebih tenang dan meredakan emosi. Raya memperhatikannya dengan berkaca-kaca. Samesta telah merusak perasaan Raya hari ini.
Atensi Samesta teralihkan oleh gerakan tangan Raya menghapus jejak air mata di pipi. Samesta mendengkus. Bagus sekali sekarang Raya nangis.
Andai saja Lintang tidak pernah muncul lagi dalam kehidupannya, pasti keributan dan kebohongan-kebohongan Samesta tak akan ada juga. Kenapa sih wanita itu harus muncul lagi? Pastinya tuhan menciptakan skenario untuk sebuah alasan. Salah satunya agar kehidupan makhluk ciptaan-Nya memiliki warna.
Padahal nggak semua makhluk ciptaannya memerlukan warna berlebihan. Contohnya Samesta dan keluarga.
“Udahlah, nggak jelas juga ngeributin hal kecil.”
“Kalau ada sangkut-pautnya sama anak-anak bukan hal kecil, by the way.”
Oke ..., Samesta salah lagi. Kali ini ia mengakui salah besar mengatakan perdebatan mereka adalah hal kecil. Tentu Samesta tidak pernah meremehkan semua hal mengenai anak-anak mereka.
“Iya, iya, sori .... Aku nggak maksud.”
Makin malas saja mereka menyantap makanan. Akhirnya Samesta hengkang lebih dulu. Menurut Raya sikap Samesta yang dulu sedang kembali hari ini. Samesta meninggalkannya hanya dengan bilang maaf.
“Apa-apaan kamu?” Raya berdiri.
Samesta yang hendak duduk di kursi kerja sontak menoleh. Kaget Raya tampak sangat marah. Kalau boleh diibatkan sekarang ada asap keluar dari kedua telinga Raya.
“Nggak suka ya aku sama sikap kamu yang ini tuh. Buat salah minta maaf. Nggak mikirin perasaan orang lain banget. Emang ya yang gampang itu minta maaf daripada ngejaga perasaan orang lain.”
Samesta menghela napas. Salah lagi. Entah Raya mempersalahkan apa lagi. Ia hanya mengatakan permintaan maaf untuk mengakhiri perdebatan ini. Namun, Raya tampak tak menyukai caranya.
“Apa lagi, Ray? Aku nggak pernah benar ya di mata kamu. Salah ... terus.”
“Karena kamu nggak pernah sadar. Selalu aku yang harus memaklumi kamu. Dari dulu!” pungkas Raya menyabet tas di atas sofa.
Ia melenggang keluar ruangan Samesta. Sambil mengacak-acak rambut hitamnya Samesta mengejar. Raya terlalu membawa segala pembicaraan mereka ke dalam hati. Pasti tanpa sadar Samesta telah menyinggung perasaan rapuh Raya.
“Raya, tunggu. Raya!”
Raya menyentak cekalan tangan Samesta. Meninggalkan Samesta terdiam sesaat memandang punggung itu menjauh. Tak menyerah Samesta kembali mengejar sang istri yang ngambek. Mereka melintasi lorong yang menyambungkan ruangan Samesta dengan ruangan para karyawan. Para karyawan langsung menoleh ketika bos mereka berjalan cepat kentara mengejar istrinya. Apalagi wajah istri bos mereka tidak bersahabat. Kentara marah. Hanya dalam sekali tebakan mereka tahu “masalah rumah tangga”. Alhasil tayangan barusan menciptakan situasi bisik-bisik menggosipkan bos.
“Raya ..., udah dong jangan gini.” Samesta berhasil mencekal pergelangan tangan Raya lagi.
Kali ini lebih erat agar sulit dilepaskan. Raya kesusahan melepaskan diri. Apalagi Samesta menariknya mendekat sehingga tubuh mereka berdekatan tanpa jarak. Raya memberi pelototan agar Samesta melepaskannya. Melihat sekitar, mereka berdiri tepat di tengah lobby kantor dan menjadi tontonan orang-orang. Bukannya menurut, Samesta malah pura-pura tidak mengerti maksud bahasa mata Raya. Akhirnya Raya pasrah. Membiarkan mereka dalam posisi itu. Hal yang membuat Samesta mengembangkan senyum. Ia berhasil juga menjinakkan Raya. Hanya cara ini yang ampuh. Beruntung mereka bertengkar di kantornya, coba kalau mereka bertengkar di dalam rumah. Sudah dipastikan Raya akan mengurung diri di dalam kamar dan membiarkan Samesta tidur di ruang tengah.
Begini-begini Samesta juga takut sama amarah Raya. Memang betul ya istilah wanita selalu benar. Samesta masih kebingungan kalau berhadapan dengan tingkah Raya yang ada-ada saja. Ingin dimengerti, tapi tidak mau bilang ada apa.
Kan Samesta bukan tuhan yang mengetahui isi hati setiap makhluk hidup di dunia ini. Samesta manusia biasa yang kalau boleh juga ingin dimengerti.
“Lepas nggak?”
Samesta menggeleng. Semakin erat tangannya melingkari pinggang Raya. “Nggak akan.”
“Sam ....” Raya menggeram kesal.
Wajah memerah Raya tampak menggemaskan bagi Samesta. Ia tahu istrinya bukan sedang malu melainkan marah, tetapi tetap saja lucu.
"Nggak, Ray. Kita harus meluruskan masalah ini dulu. Aku nggak mau ya nanti pulang kamu masih cemberut. Aku sukanya lihat senyuman kamu."
Raya menatap penuh Samesta. Perlahan melupakan bahwa mereka sedang berada di tempat umum.
"Maksudku ingin Sansan pindah untuk kebaikan bersama kok. Aku mau yang terbaik untuk Sansan dan Saluna. Kalau soal biaya, kamu jangan khawatir. Aku akan bekerja lebih keras."
Selain itu ya untuk menghindari masalah demi masa depan pernikahan mereka. Lidah Samesta kelu menjelaskan bagian kehadiran Lintang di kehidupan mereka. Bening bola mata Raya terlalu menghipnotis. Membuatnya lupa segalanya. Samesta belum siap menghadapi pertengkaran kedua hari ini. Lagi pula Samesta belum tahu bagaimana reaksi Raya nanti. Sebisa mungkin ia harus menjelaskannya perlahan.
"Kamu mau kan memikirkan ini? Ya kalau nggak di sekolah rekomendasi karyawanku, kita bisa cari sekolah lain tapi masih dekat dengan kantorku atau kedai kamu. Asal Sansan nggak merasa kehilangan masa kecilnya bersama orang tua. Aku lihat Sansan butuh perhatian lebih dari kita."
"Hem, aku akan memikirkannya. Sekarang lepaskan aku."
Samesta menggelengkan kepala. "Aku belum dengan persetujuan kamu, Raya."
"Ini masuknya pemaksaan, bukan minta persetujuan," dengkus Raya mengundang tawa Samesta.
“Sam, please ...,” mohon Raya meluluhkan Samesta juga.
Perlahan Raya lepas dari pelukan Samesta. Ia berdiri canggung di hadapan Samesta. Menyelipkan sejumput rambut ke belakang telinganya. Bersamaan dengan itu orang-orang di lobby membubarkan diri. Sebagian masih bertahan sembari geleng-geleng kepala.
“Kamu kayak barusan lagi. Aku bakalan marah beneran, Sam.”
Raya melengos keluar pintu gedung. Langkah cepatnya diikuti Samesta. Ia menghindari senyum jahil Samesta setelah perdebatan tadi. Canggung sekali dari debat tiba-tiba ingin tertawa. Beginilah mereka, ributnya sebentaran. Paling lama pernah 24 jam.
“Berarti yang barusan marahnya bohongan ya?” goda Samesta.
Raya tak menghiraukan ucapan Samesta selama perjalanan menuju halte bis depan kantor. Samesta mirip anak remaja yang menggoda pacarnya lagi marah.
"Aku bisa antar kamu ke kedai. Ambil mobil sebentar terus kita bakal cepat sampai kedai kamu." Cekal Samesta lagi pada tangan Raya saat melihat kedatangan bus dari kejauhan.
"Jangan. Kerjaan kamu numpuk tuh di atas meja. Makin lama ditunda makin lama selesainya juga. Mending kamu balik kerja biar nanti pulang cepat. Aku berangkat dulu." Raya meraih tangan Samesta dan mengecup punggung tangannya.
Samesta balas mengusap kepala Raya dengan sayang. "Hati-hati."
--,Sweet Delusion--
Makasii tap love dan dukungannya
See you~