24. Membujuk Dia

1395 Kata
Dari kejauhan terlihat seorang wanita berdiri di depan gerbang sebuah bangunan. Dia tersenyum pada setiap anak dan orang tua yang datang. Lalu Samesta menoleh ke samping. Pada Sansan yang asyik bermain games di ponsel. Samesta mengembuskan napas. Hari-hari penuh adrenalinnya kembali. Mau tak mau Samesta harus menghadapi ini. Segera setelah kendaraannya berhenti, Samesta keluar dari mobil sambil menggenggam tangan Sansan. Anak itu memanggil guru kesayangannya dengan lantang. Hampir lepas dan melarikan diri pada Lintang kalau Samesta tak menggenggamnya erat. Samesta harus menambah kesabaran kembali menghadapi mereka. Sansan hanya bisa cerewet dengan orang yang membuatnya nyaman. Mengapa di antara banyak guru di sekolah itu harus Lintang orangnya! Samesta menggeram dalam hati. Pura-pura tersenyum di hadapan para orang tua dan pengasuh yang mengantar anak-anak mereka. "Pak Samesta sudah sembuh? Kemarin katanya sakit." Salah satu orang tua bertanya. Samesta tersenyum, "Iya, Bu. Kurang enak badan, jadi saya istirahat dulu di rumah. Alhamdulillah sekarang membaik," ujar Samesta kemudian berjongkok. "Udah sampai, mana kiss-nya?" Sansan membalas pertanyaan ayahnya dengan kecupan di pipi kanan. Membuat semua orang memuji betapa manisnya Sansan. Sansan yang baik berlari memasuki halaman kindergarten mendengar bel tanda masuk berbunyi. "Jangan lari-lari, San!" tegur Samesta tak dihiraukan. Anak itu kalau masalah disiplin hanya akan mendengarkan ibunya saja. Mereka menurut di hadapan Raya. Akhirnya Sansan hilang juga dari pandangan. Samesta melupakan kehadiran seseorang. Begitu terdengar dehaman, Samesta tersadar sekarang menyisakan dirinya guru kesayangan putranya--Lintang--di depan gerbang kindergarten. Entah sejak kapan para orang tua yang mengantar anak-anak mereka membubarkan diri. "Gimana keadaan kamu sekarang, Sam? Kata Septian kamu sakit jadi nggak bisa mengantar Sansan ke sekolah." "Lumayan membaik, Lin. Mungkin memang seharusnya aku istirahat sebentar di rumah." Selanjutnya hening. Hanya deru kendaraan yang mengisi detik itu. "Septian udah cerita. Katanya kamu nggak bilang ke Raya kalau aku jadi guru baru di sini, kalau kita hampir setiap hari bertemu. Kenapa, Sam?" Ternyata masih sama. Wanita di hadapannya ini masih sama dengan Lintang yang dikenalnya dulu. Bicara tanpa ragu. "Takut bikin Raya salah paham aja," jawab Samesta. Walau samar, anggukan Lintang bisa tertangkap mata. "Aku lagi nyari sekolah baru untuk Sansan." Seketika bola mata Lintang membulat. "Gara-gara aku di sini?" Bukannya tega Samesta bilang begitu, tapi ini demi kebaikan banyak pihak. Samesta harus melindungi keluarganya agar tetap aman. Entah sampai kapan Samesta bisa berpura-pura. Cepat atau lambat Raya akan tahu. Ketika itu terjadi Samesta ingin Raya mengetahui bahwa dirinya telah berusaha menghindari Lintang dengan memindahkan putra mereka ke sekolah lain. Membiarkan Sansan di sini sampai Raya mengetahui kebohongan Samesta akan meringankan segalanya. Surat cerai yang kini dilupakan Raya bisa-bisa muncul kembali. "Hng ... salah satunya itu. Tapi lebih ke biar Sansan sekolah di deket kantorku aja. Jadi aku bisa cepat menjemputnya dan kalau aku berhalangan bisa minta karyawan jemput dia. Gitu sih." Tentunya bakal lebih aman juga untuk rumah tangganya dan Raya. Samesta tidak perlu menyembunyikan lagi siapa guru kesayangan Sansan. Pemikiran Samesta juga akan berkurang. Setidaknya lelahnya mencari nafkah, tidak dibarengan kemumetan hal lain. "Oh, iya. Padahal aku bisa nungguin Sansan sampai kamu datang menjemput kami. Eh maksudnya menjemput Sansan," sendu Lintang tersenyum pedih. Terbesik rasa tak enak hati melihat orang lain sedih karenanya. Samesta berusaha untuk tak peduli. Saat ini ia harus membuang kepekaannya. "Aku juga mau berhenti merepotkan orang lain." Sekali lagi Lintang mengangguk. Entah paham atau sekadar menjawab tanpa suara karena sedih. "Kalau gitu ..., aku pergi dulu?" "Oh, i-iya, Sam. Hati-hati di jalan." Sampai di dalam mobil, barulah Samesta menghela napas keras. Sebelum melanjutkan perjalanan, ia menyalakan layar ponsel. Ada banyak panggilan tak terjawab dan pesan masuk dari Raya. Ternyata makanan buatan Raya tertinggal. Raya akan mengantarnya nanti saat makan siang. Cekung seketika tertarik ke setiap sudut bibir Samesta. Nanti ia akan makan siang dengan Rayanya. *** "Kamu ngerepotin Septian lagi!" Raya menaruh totbag cream di atas meja tamu di ruangan kerja Samesta. Raya datang saat Samesta sedang memeriksa setumpuk laporan akibat liburnya ia selama tiga hari. Samesta melepas kacamata baca. Melihat Raya yang tampak kesal duduk di sofa sambil mengeluarkan masakan rumah. Raya menatanya di atas meja. Samesta bangkit dari kursi menghampiri istrinya. Samesta berjongkok di samping sofa membuat Raya menoleh. Langsung saja Samesta kecup dia tepat di bibir. Belalakan mata Raya ditertawakan Samesta. "Kenapa? Kayak aku lagi nyuri your first kiss kamu aja kagetnya gitu," ujar Samesta santai mengambil kotak makanan miliknya. "Kamu tuh ya!" Perkataan Raya tertahan berakhir dengan helaan napas. "Ini kan kantor. Kalau karyawan kamu lewat, atau tiba-tiba masuk, gimana? Nggak malu apa?" "Ya ampun, Ray. Kalau mereka masuk juga bakal ketuk pintu dulu. Ini jam istirahat juga, mereka lagi pada keluar nyari makan. Lagian kenapa sih? Kita kan suami istri ini. Sah dong ...." "Terserah, deh. Nih buruan makan." "Kamu tuh masih aja malu kalau berduaan sama aku di depan banyak orang. Malu ya aku udah nggak ganteng lagi? Iya sih udah bapak-bapak punya anak dua. Kerjaannya kerja lembur terus." Raya mencebik. "Lebay!" "Nggak lebay, ini kenyataannya loh. Kamu gitu." "Samesta ..., kapan coba aku malu jalan bareng kamu?" Yang ada kamu kali yang malu jalan sama istri nggak cantik, lanjut Raya dalam hati. "Nggak sih, tapi kamu banyak menghindar tiap kita tampil di depan umum. Kamunya jangan cantik-cantik dong kalau keluar rumah. Aku kan jadi khawatir kamu dipepet cowok lain." Samesta cemberut. Mendengar perkataannya, sontak Raya tertawa. Samesta ini ada-ada saja. "Mana ada aku kayak gitu, Sam." "Ada! Setiap kamu keluar pengennya aku nemenin kamu terus .... Orang-orang pada lihatin kamu tahu. Nggak suka aku lihat mereka modusin istri aku." "Jangan aneh-aneh deh. Mereka lihatin aku karena ada kamu di situ. Tambah lagi?" Tanpa diminta Raya menambahkan semur telur ke dalam kotak nasi Samesta. Samesta mengunyah makanan malas-malasan. Raya masih tidak menyadari bahwa orang-orang memperhatikan dirinya. "Kamu kalau jalan sama aku kayak aku tuh bukan suami kamu. Aku cepet tua banget ya? Sampai nggak dianggap suami sama mereka. " "Haduh, Sam ...." Raya merotasi mata. "Kamu sensitif banget. Lagi kenapa sih?" Lagi bingung harus gimana bilang Sansan harus segera pindah sekolah, atau kalau nggak aku bisa gila, batin Samesta. Ia hanya bisa melampiaskan kekesalannya lewat gigitan pada daging ayam. Tatapannya lurus pada Raya. Di seberangnya, Raya balik menatap penuh selidik. Mengira-ngira ada apa dengan suaminya. Dia baru saja sembuh dan kembali bekerja. Sepertinya perasaan Samesta turun karena banyak pekerjaan menyambutnya sekarang. Raya melirik meja kerja Samesta di dekat jendela gedung. Tak heran, tumpukan berkas di sana pasti belum selesai dikerjakan. Mendadak Raya khawatir Samesta kembali sakit. "Nggak usah dipaksakan kerja, Sam. Baru aja sembuh. Jangan capek-capek. Kalau ada orang yang bisa membantu, lebih baik minta bantuan orang lain. Maaf ya aku nggak bisa bantu kamu. Padahal setiap aku butuh bantuan kamu selalu bantu sebisanya. Untuk urusan kantor, kayaknya aku nggak mampu," ringis Raya diselipi rasa sesal lumayan besar. Pasalnya Samesta selalu membantu Raya meski sebetulnya tak mengerti apa-apa. Sekarang Raya tak bisa melakukan apa-apa untuk membalasnya. Andai saja dulu kuliah, sedikitnya pasti ia mengerti dan bisa membantu pekerjaan suami. Sekarang Raya hanya bisa mencari uang dari kemampuannya yang tak seberapa. Ini pula penyebab mindernya muncul di depan umum bersama Samesta. Sejak dulu Samesta bagai bintang tidak pernah redup. Raya selalu merasa kurang berada di sisinya. "Aku bisa mengerjakan itu sendiri, Ray. Masih terkendali." Raya kembali merasa dirinya rendah. Pikiran dia selalu sulit Samesta tebak. Padahal bukan ini yang Samesta maksudkan. "Cuma ..., sepertinya kita harus mulai memikirkan masa depan Sansan." Kening Raya mengkerut. "Masa depan Sansan?" "Iya, di dekat kantorku ada kindergarten bagus. Salah satu karyawanku anaknya sekolah di sana. Katanya lebih bagus dari sekolah Sansan sekarang. Aku mau mindahin Sansan ke sekolah ini. Gimana menurut kamu?" Raya diam sebentar. Merasa bingung tiba-tiba Samesta membahas pemindahan sekolahan Sansan. "Tapi kenapa tiba-tiba pindah? Sekolah Sansan yang sekarang bagus menurut aku." "Sekolah ini dekat sama kantorku, Ray. Aku bisa jemput Sansan dengan leluasa, maksudnya nggak perlu waktu lama sampai sana. Kalau akunya lagi ada halangan bisa minta salah satu karyawanku jemput Sansan--" "Tapi aku bisa--" Samesta memotong, "dan ..., kamu jadi nggak usah khawatir lagi Sansan udah pulang atau belum. Kan dekat sama aku .... Tentunya alasan utamanya karena sekolah ini kualitasnya lebih bagus." Raya belum paham arah pembicaraan ini dan alasan Samesta sangat aneh. "Sam? Kamu nggak lupa kan Sansan belum masuk SD? Kindergarten yang kualitasnya lebih pasti mahal. Perjalanan kita mengurus anak-anak masih panjang, Sam .... Kita cari sekolah Sansan yang kualitas bagus nanti saja." --Sweet Delusion-- Duh, gimana ya bikin Raya percaya? Makasii tap love dan dukungannya See you..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN