Jangan lupa tap love ya ^^
Happy Reading~
_________________________________________________________
Angga POV
Berkutat dilayar komputer selama berjam-jam membuat kantung mata memberat, jari telunjuk bagian kanan ku memijat pangkal alis dengan pelan.
Akhir-akhir ini Pekerjaan kantor menumpuk dan semakin banyak pula perusahaan yang ingin bekerja sama untuk menjalin sebuah bisnis.
Hampir tidak ada waktu untuk aku ber’leha-leha untuk hanya sekedar bersantai sambil menikmati secangkir kopi.
Entah harus bagaimana aku menanggapi keadaan ini. Apakah harus bahagia atau malah sebaliknya. Entahlah yang pasti aku hanya ingin yang terbaik.
“ Permisi pak. Bu Lidya sedang menggu di ruang tamu. “ Ucap seorang sekretaris membuat ku tersentak.
Aku hanya mengangguk kemudian menyuruhnya untuk kembali bekerja. Lalu langkah kaki membawaku bertemu Mama. Sangat tumben Mama pergi ke kantor jika tidak ada hal yang ingin wanita itu bicarakan.
“ Ada apa Ma?” tanyaku to the point pada wanita berumur yang sedang duduk manis di sofa.
“ Duduklah dulu nak. Ada yang ingin mama bicarakan padamu.” perintahnya tidak mampu membuatku menolak.
Aku duduk disebelah mama sambil menatap manik matanya yang gelap.
“ Mama mau bicara apa?”
“ heum.. sebenarnya ini menyangkut tentang Rafaela. “ Jawab mama membuatku menyerngit.
“ Fae? Memangnya kenapa dia ma?” tanyaku heran karna tiba-tiba saja mama membahas kekasih pujaan hatiku.
“ Mama rasa Rafaela terlalu bebas nak. “ ujar Mama semakin membuatku menautkan alis, tidak paham atas perkataan yang disampaikan mama.
“ Bebas dalam hal apa? Angga rasa Fae tidak melakukan hal yang tidak wajar.” bela ku.
“ Maksud mama , seharusnya di masa ia akan dilamar, Fae tidak perlu ke luar negeri seperti itu sampai menghabiskan biaya besar. Apalagi ia membawa mamanya. Alangkah baiknya Rafaela menabung untuk masa depan kalian” jelas mama.
Aku mengangguk paham kemana maksud dari perbincangan mama ini. Pasti mama sudah melihat struk transfer ku pada rekening Rafaela.Sayang sekali struk itu tidak sempat ku buang.
“ Angga tidak ingin memberatkan Fae ma. Mau kemana pun Rafaela pergi, selagi itu masih dalam jangkauan bundanya, tidak peduli berapa biaya yang akan dikeluarkan. Yang penting kekasih Angga bahagia dan dapat menikmati masa-masa terakhir lajangnya.”
“ justru dia lah yang memberatkan kamu nak. Lihat badanmu, sudah kurus dan kantung matamu juga sudah menghitam karena sibuk mengurusi kerjaan kantor. Sementara calon mu sibuk menghabiskan duit kamu.”
Aku menggeleng pelan mendengar penuturan dari mama. Jika saja mengabaikan orangtua tidak berdosa pasti aku akan melakukannya.
“ 100 juta itu tidak seberapa dibanding duit Fae yang beratus-ratus juta ma. Maaf, jika kedatangan mama ke kantor hanya untuk membahas perihal duit, Angga sepertinya harus kembali bekerja.” jelasku sambil berdiri.
Mama menahan tangan ku, lalu wanita paruh baya itu ikut berdiri menjadikan kami saling berhadap-hadapan.
“ Angga. Mama rasa jika perbuatan Rafaela yang tidak memikirkan keadaan kamu bagaimana, pertimbangkan lagi lamaranmu untuk perempuan seperti dia. “
Setelah berucap seperti itu, Mama pergi meninggalkan kantor. Aku hanya bisa menggeleng tidak habis pikir dengan nya.
Lalu memutuskan untuk kembali berkutat pada layar komputer.
Selang beberapa menit ponsel yang berada di sebelah mouse bergetar. Melihat nama panggilan yang tertera dilayar ponsel, membuatku mengembangkan senyum.
“ Halo assalammualaikum sayang.” sapa ku pada Fae diseberang sana.
“ waalaikumsalam sayang. Kamu disana apa kabar?”
“ Alhamdulilah baik. Kamu sendiri gimana? Liburannya menyenangkan?”
“ Sangat menyenangkan. Tapi sayang kamu gada disini. Padahal hari ini aku sama mama mau ke universal studios.”
Aku tersenyum mendengar nada bicara Fae yang terdengar bahagia.
“ Maaf sayang, tapi pekerjaan sedang menumpuk. Mungkin kalau kita bulan madu, kita akan kesana berdua.” goda ku menahan geli.
“ih apa si. Bulan madu itu bagusnya pergi ke negara-negara dingin.”
“ Biar apa sayang?” pancingku pada Fae.
“ Ya biar bisa bulan madu.” ucapnya polos.
“ Andaikan saja kamu disini , sudah pasti aku akan men’cubit pipi mu gemas sayang.”
“ Oh sayang sekali kita berjauhan.” gelak tawa Fae terdengar nyaring.
Aku sampai kepikiran tentang apa yang sudah mama ucapkan pada ku.
‘ pertimbangkan lagi lamaranmu untuk perempuan seperti dia’
Sebenarnya, apa yang membuat mama berbicara seperti itu? Kenapa mama terlihat seperti tidak menyukai Rafaela.
Apakah gadis yang ku cintai itu membuat masalah saat mama mengundangnya kerumah? Sayang sekali hari itu aku harus mengurus bisnis keluar kota.
“ Halo? Sayang?”
Panggilan dari Fae membuat lamunan ku buyar.
“ Eh kenapa sayang?”
“ Kamu kenapa diem aja? Ada masalah di kantor apa gimana?“
“ eng-engga kok..” jawabku gelagapan.
“ Kamu ga usah bohong. Kalo ada apa-apa cerita ke aku. Kenapa malah di pendem. Jawab, ada apa?” tanya Fae lagi.
“ Dibilangin gapapa sayang. “
“ Udah lah. Males banget sama kamu. Bye”
Aku menatap nanar ponsel yang berada di genggaman. Dengan menyanderkan punggung pada kursi kantor, mataku menatap langit-langit sambil menghembuskan nafas gusar.
Sudah dipastikan Fae marah padaku. Hari ini menjadi beban pikiran yang sangat berat. Mendengar perkataan mama tadi sudah membuat kepala ku pusing ditambah lagi amarah Fae yang berada jauh disana.
Dapat ku pastikan bahwa gadis itu tidak akan menelfon ku beberapa hari ini. Mau tidak mau esok atau lusa aku harus mendatangi nya.
Aku tidak betah Fae marah padaku sampai berhari-hari, karena sangat sulit rasanya hidup tanpa mendengar suaranya yang khas itu. Lebay memang, tapi nyatanya seperti itu.
Dengan rasa malas yang meregoki , terpaksa harus lembur untuk besok berangkat ke singapura menyusul pujaan hati.
“ Ayo semangat, demi gadis yang dicinta.” ucapku menyemangati diri sendiri.
Terlihat sedih dimata orang-orang, seolah-olah manusia ringkih yang siap kapanpun akan tumbang. Tapi aku tidak seperti itu, walaupun penyakit ini tidak akan sembuh bagaimanapun itu harus terlihat bahagia didepan orang-orang yang disayangi.
Menikmati masa-masa kehidupan yang entah sampai kapan akan berakhir. Sebelum semuanya berakhir, bahagia harus tercipta. Hidup bersama Rafaela menikmati setiap inci matanya yang indah. Bergandeng tangan memegang tangannya yang lembut serta mencium bibirnya yang ranum adalah salah satu impian terbesar yang ada di list hidupku.
Tidak terasa, bulir air mata meluruh ikut merasakan bagaimana beratnya hidup ini. Aku menyeka air mata itu dengan sekuat tenaga harus tersenyum seolah-olah tegar walaupun kenyataannya gagal.