Pagi menjelang siang pada jam istirahat, aku memutuskan untuk menghabiskan dengan berbelanja di mall. Tapi tak disangka pada saat keluar gedung, banyak sekali wartawan dengan berbagai kamera menyoroti langkah ku.
Untung saja security yang menjaga gedung dengan tegap menghadang wartawan itu.
“ PERMISI! BERIKAN JALAN UNTUK NONA FAE! “ teriak security itu sepertinya tidak di gubris oleh beberapa wartawa sehingga terjadi kericuhan disini.
“ KAK, KATANYA HUBUNGAN KALIAN AKAN BERJALAN LEBIH SERIUS APAKAH ITU BENAR?”
“ BAGAIMANA DENGAN PENYAKIT YANG DIDERITA ANGGA?”
“ APAKAH ANGGA SUDAH SEMBUH?”
Dan lain-lain. Begitulah teriakan para wartawan itu yang ingin mendesakku untuk menjawab pertanyaannya. Tapi sayangnya aku tidak memiliki cukup waktu untuk menjawab semuanya.
Aku rasa keseriusan Angga belum pantas diumbar didepan publik apalagi ditayangkan diseantero Indonesia.
Setelah menempuh lautan manusia, aku akhirnya bisa bernafas lega didalam mobil. Keringat yang mengucur dengan hawa yang begitu panas tidak membuat AC mobil kentara ditubuh.
“ Gila! Bisa-bisanya mereka dateng hari ini. “ rutukku pada semua wartawan yang datang untuk menyerbu.
“ Maklum Non, berita keseriusan Mas Angga sudah tersebar dimana-mana.” timpal Sopir pribadiku ini.
“ Aneh ya, padahal setau saya ,kami tidak membeberkan berita ini ke publik. “ heranku.
“ Ya namanya netizen Non. Bapak rasa hidup didunia entertainment sudah tidak lagi punya privasi sendiri.”
“ kenyataannya memang begitu Pak. Haduh, saya jadi pusing sendiri.”
Aku memijat pangkal pelipis yang terasa pusing memikirkan akan bagaimana hebohnya media sosial hari ini. Pasti banyak netizen yang menyerang akunku dengan berbagai pertanyaan dan komentar mereka.
Bagaimanapun itu aku harus menghubungi Angga untuk memberitahu kejadian hari ini. Mencegahnya untuk tidak mengatakan apa-apa pada wartawan. Karna aku yakin, ketika wartawan itu tidak dapat apa-apa dari ku, mereka akan siap menyerbu kantor Angga dan mencari pria itu.
Benda pipih yang berada ditanganku segera didekatkan ke telinga. Deringan memanggil membuat suara Angga tidak lama terdenga.
“Halo Sayang. Good morning.”
Sapanya terdengar lembut menyejukkan indra pendengaranku.
“ Halo Sayang. Kamu tau ga, pagi ini ada kejadian apa??”
“ hmmm apa ya.. aku gatau sayang. Emangnya kenapa?”
“ Wartawan dateng ke gedung Icont management untuk menanyai hubungan kita.”
“ Serius?? Kok mereka tau si ?”
“ Aku juga gatau mereka dapet berita dari mana. Tapi kamu engga curhat ke publik tentang keseriusan kamu kan sayang?”
“ Sama sekali engga sayang. Aku aja kaget. Mungkin karena efek kamu terlalu terkenal jadi kamu tidak memiliki privasi apapun lagi.”
“ tapi kalo wartawan ke kantor kamu, kamu jangan membeberkan pada mereka ya. “
“Tenang saja sayang.”
“ Yasudah aku matikan dulu ya. Bentar lagi nyampe mall ni. Assalammualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Setelah sambungan terputus, bertepatan dengan mobil yang berhenti didepan pintu masuk mall. Aku megucapkan terimakasih pada supir lalu berjalan masuk kedalam mall.
Walaupun keadaan tidak terlalu ramai, aku tetap memakai masker untuk mengantisipasi seseorang yang kenal dengan ku sehingga dapat membuat kericuhan disini.
Sedikit ber’resiko karna tidak ada satupun yang mendampingiku sekarang. Sedikit bersenang-senang dengan mengeluarkan ratusan juta rupiah untuk berbelanja memang menjadi kebiasaanku.
Kaki ini melangkah dan berhenti di satu toko yang menjadi langganan ku. Wajah baru menghiasi toko ini dengan berbagai produk-produk yang terlihat lebih branded.
“ Selamat datang Kakak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang pramuniaga menyambut kedatanganku.
“ Saya mau cari baju diamond wedding dress. “
“ Baik. Untuk acara pernikahan kan kakak?”
“ Tidak. Baju ini akan saya kenakan untuk lamaran beberapa minggu yang akan datang. Kalo bisa warna nya jangan terlalu mencolok ya. Cukup warna soft yang adem di pandang.” pintaku pada pramuniaga itu.
“ Baik kak. Tunggu sebentar ya, saya carikan dulu.”
Sepeninggalan pramuniaga itu, seorang anak remaja terlihat mendekat kearahku. Tangannya mendekap didepan d**a sambil meng’genggam ponsel dan terlihat malu-malu.
“ Ada apa? Mau beli baju disini juga?” tanyaku asal-asalan menbuat remaja itu menggeleng. “ Terus?”
“ Maaf. Kakak Rafaela kan? “
Tanya’nya membuat mulutku menganga membentuk huruf ‘o’. Ternyata remaja ini mengenaliku meskipun aku menutup wajah dengan masker.
“ Sebenarnya aku ingin berbohong, karna tidak ingin orang-orang berdatangan lalu menimbulkan kericuhan disini. Tapi karena menghargai mu, aku mengakuinya bahwa aku Rafaela. Tapi ingat kamu jangan membeberkan pada siapapun kalau aku ada disini. “ peringatku panjang lebar agar remaja ini mengerti bagaimana sulitnya kondisi ku saat ini.
“ Baik kak. Aku boleh minta foto ngga?”
Aku mengangguk sebagai jawaban.
“ Tentu. Sini ponselmu. Kita akan mengambil gambar dengan beberapa cekrek.”
Tangan mulusku yang di lapisi hoddie mengambil ponsel yang ada digenggamannya. Lalu tersenyum pada kamera dengan berbagai pose.
“ Selesai. Terimakasih.” ucapku padanya.
“ Terimakasih kembali kak. “
Remaja itu berlari kegirangan. Aku hanya tersenyum melihatnya. Tidak lama, pramuniaga datang dengan membawa beberapa dress yang terlihat mewah dan mengkilau.
Aku tersenyum lebar melihatnya, dress ini sangat cantik. Menyentuh beberapa sisi membuatku dapat merasakan bahannya yang cocok dikulit.
“ Berapa harganya?” tanyaku penasaran.
“ Ada yang 19 juta, 25,20 dan 15 juta.”
Aku mengangguk lalu menunjuk salah satu dress yang terlihat elegan dan simpel namun berkelas.
“ Yang ini berapa?”
“ 25 kak.”
“ Oke ambil yang ini ya. Terus ambil yang harga 19.”
“ Baik kakak. Tunggu sebentar ya kami akan mengemasnya dengan sempurna.”
Pramuniaga itu kembali masuk ke room . Aku menelisik setiap baju yang terpampang disini. Mana tau ada beberapa yang menarik perhatian.
Saat langkah kaki tiba di penghujung toko, mata ku menyipit melihat banyak nya orang-orang yang berlari kearah ku.
Sudah kupastikan mereka pasti ingin bertemu denganku. Dengan langkah yang dipercepat, aku mengetuk pintu room tempat dimana pramuniaga itu masuk kedalamnya.
Karna responnya yang terlalu lama, aku membuka pintu room itu dengan cepat. Sehingga pintu terbuka menampilkan beberapa orang didalam.
“ Saya izin ngumpet disini ya.Ada banyak penggemar saya diluar sana. Tolong katakan pada mereka bahwasannya saya sudah pulang. “
Tatapan mereka cengo kepadaku. Namun hanya beberapa detik karna teriakan-teriakan membuat mereka keluar dari room ini.
Untung saja aku bisa bernafas lega. Inilah akbiat jika menyandang status telalu terkenal. Apapun saja harus berhati-hati.