Berkunjung

1006 Kata
Hai-hai jangan lupa tap love ya! Happy reading ^^ ~~~ Hari weekend telah tiba. Hari dimana semua pekerjaan ditunda untuk esok. Akhirnya setelah menghabiskan waktu satu minggu dengan kesibukan, aku bisa merasakan kenyamanan kasur empuk ini. Semoga saja tidak ada pekerjaan mendadak ya itulah harapanku. Menjadi model terkenal kerap sekali membuatku dipanggil oleh beberapa perusahaan untuk mempromosikan produk yang mereka hasilkan. Bisa dibilang, dalam satu minggu aku bisa mendapatkan uang lebih dari 30 juta. Tak jarang uang itu ku gunakan untuk sekedar berbelanja barang branded keluaran terbaru. Memang itulah hobiku, apalagi jika berdua bersama Cahya bisa saja kami menghabiskan uang beratus-ratus juta dalam sehari. Itulah enaknya hidup bergelimang harta. Dimasa sekarang ini aku tidak lagi mencari uang,namun uang lah yang tengah mencari ku. Tok tok Bunyi ketukan pintu kamar, membuatku enggan beranjak untuk membukakan pintu. Jika saja sang pengetuk pintu yang tak lain adalah Bunda. Dengan lunglai serta balusan dress sebatas paha, tangan ku meraih ganggang pintu. Menampilkan Bunda dengan pakaian gamis dan hijab nya yang panjang. “ Bunda mau kemana?” tanyaku heran. “ Bunda mau keluar sama temen bunda. Kamu tinggal dirumah ya nak.” jawab Bunda sambil mengelus rambutku. “ Temen Bunda cewe atau cowo?” tanyaku menyelidik. Aku tidak ingin Bunda dekat dengan laki-laki manapun. Walaupun kematian ayah sudah bertahun-tahun, namun aku tidak ingin ada yang menggantikan posisi ayah di hati bunda. “ Cewe Fae.. Kamu tenang aja, Bunda cuma mau membicarakan bisnis kami berdua.” “ Syukurlah. Tapi bunda berangkatnya sama supir saja. Fae tidak ingin bunda terjadi apa-apa di perjalanan. Ya??” “ Kebetulan banget temen bunda punya mobil jadi dia yang jemput deh. Kamu jangan khawatir sayang. Bunda pergi dulu ya. Jangan lupa kalau kamu mau keluar, telfon atau wa bunda dulu! Mengerti?” Aku mengangguk mengerti. Dengan bibir bunda yang sudah mendarat di puncak kepalaku. Aku tersenyum sambil menciumi punggunh tangan Bunda. “ Hati-hati ya Bunda.” “ oke sayang. “ Setelah bunda menghilang dari pandangan, langkahku kembali masuk kedalam kamar. Menaiki kasur yang bermotif kucing lalu merebahkan badan sambil bermain ponsel. Melihat beberapa berita hari ini yang sedang hangat. Saat fokus membaca semua berita, nontifikasi dari whasthap mengalihkan mataku. Mama Angga Rafaela, hari ini free kan? Kalo berkenan bekunjung lah kerumah Mama. Aku tersenyum simpul membaca setiap kalimat yang dikirimkan oleh Mama nya Angga atau tante Lidya. Tidak biasanya wanita paruh baya itu secara terang-terangan men’whasthapku. Mungkin ada hal yang ingin dibicarakan olehnya. Tanpa mengulur waktu, aku bergegas bersiap-siap tidak lupa untuk mengabarkan Angga bahwa akan berkunjung kerumah orangtuanya. Selang beberapa menit, tampilan sempurna yang membentuk semua lekuk tubuh serta polesan make up yang tidak terlalu menor. Bunyi suara perpaduan antara heels ku dengan keramik , mengisi kesunyian rumah yang terlalu besar ini padahal penghuninya cuma 3 orang termasuk supir. “ Pak. Antarkan saya kerumah Tante Lidya.” pintaku pada supir. “ Baik Non. “ Setiba digarasi, aku baru menyadari bahwa belum mengabarkan Bunda. Mungkin nanti saja ketika sampai dirumah orangtua Angga. Mobil yang dikendarai Pak Agung membelah jalanan ibu kota yang sangat padat. Tak jarang aku mengumpat karna lama menunggu macet yang tidak kunjung usai. Seharusnya perjalanan dari rumah ke sana hanya butuh 30 menitan malah menjadi 1 jam. Walaupun mengesalkan, akhirnya mobil kami berhenti di area perkarangan rumah megah yang berdiri gagah didepan. “ Bapak tidak usah menunggu saya. Mungkin saya akan pulang bersama Angga.” jelasku pada pak Agung. “ Baik non.” Langkah kecilku berjalan masuk kedalam rumah yang pintu nya sedang tidak terkunci. Mungkin mereka menyadari kedatanganku. Entah lah atau hanya kebetulan semata. “ Permisi.” ucapku saat sampai diambang pintu. Terlihat sebuah keluarga yang sangat ku kenal beberapa tahun ini, sedang duduk bercengkrama. Mereka menyuruhku untuk duduk bergabung. Aku tersenyum manis saat bokongku mendarat disofa empuk yang terlihat mewah ini. “ Bagaimana kabarnya Fae?” tanya Tante Lidya membuka obrolan pertama kami. “ Baik tan. Tante Lidya bagaimana kabarnya? tanyaku secara sopan. “ Alhamdulilah baik.” Aku tersenyum canggung setelahnya, dan baru disadari bahwa tidak ada Angga di sini. Cuma ada orangtuanya, adek perempuan serta kakaknya-Anggun. “ Maaf om dan tante, Angga nya mana ya?” tanyaku penasaran pada kedua orangtua paruh baya yang ada dihadapanku. “ Angga sedang keluar kota mengurus beberapa bisnis om disana.” jawab Om Andi. “ Angga tidak mengabari kamu?” tanya Anggun setelah wanita cantik itu terdiam sedikit lama. “ Tadi saat mengabari bahwa aku akan berkunjung kesini, Angga sedang tidak aktif. Jadi tidak ada pesan yang masuk darinya.” “ Maklumi saja nak. Dia juga baru pergi 5 menit sebelum kedatangan kamu.” Ujar tante Lidya. “ oh iya, tante mendapatkan kabar dari Angga, katanya kami disuruh untuk bersiap-siap bertemu bunda mu.” “ Bang Angga mau menikah?” tanya Audi-adik perempuan Angga yang sedang bermain ipad. “ Iya Au. Jadi setelah bang Angga menikah hanya tinggal kita berdua, kakak Anggun dan Audia.” Jelas Anggun membuat ku tersenyum geli. Sebuah kehangatan yang luar biasa terjadi didalam keluarga ini. Aku hanya bisa memperhatikan dan merasa iri melihatnya. Sedangkan dikeluarga ku, hanya ada Bunda setelah Ayah pergi. Dulu aku punya satu saudara laki-laki yang usianya 5 tahun diatasku. Tapi sayangnya saat SMA ia kecelakaan dan membuatnya harus meninggal dunia.Mungkin karena pestiwa itu Bunda tidak ingin menambah satu anak lagi. “ Rafaela.” Panggilan berat khas om Andi membuatku tersentak. “ Eh iya om?” “ Om ingin bertanya padamu. Kalau kamu sudah menikah dengan Angga, apakah kamu masih tetap menjalani karir mu yang melambung sukses ini?” Pertanyaan mendadak dari pria paruh baya ini membuatku sontak terdiam. Suatu pertanyaan yang rasanya sangat sulit dijawab dan masih belum memikirkan kedepannya bagaimana. “ Tante sarankan untuk fokus menjadi ibu rumah tangga yang baik. Agar keluarga kamu kelak menjadi keluarga yang sempurna dan bahagia. Apalagi sekarang, kamu tidak mendapatkan keluarga yang lengkap kan?” Mataku terbelalak mendengar penuturan wanita itu. “ Maksudn tante apa? Walaupun keluarga saya tidak lengkap, alhamdulilah saya masih mendapatkan kasih sayang dari Bunda saya.” Tegurku sedikit meninggikan suara. Inilah sifat asli Mamanya Angga. Angkuh dan sombong, bahkan omongannya seperti tidak disaring terlebih dahulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN