20. Sang Pelindung

1163 Kata

“Ada roh baru,” ucap Ahmed pada Bujana. Bujana sedang kesal, karena kamarnya tidak lagi berdampingan dengan kamar Marinka. Meski, secara fisik, itu bukan masalah. Toh rohnya bisa berjalan ke mana saja. Masalahnya, dia khawatir Marinka akan mulai melupakannya karena tak lagi melihat badannya. “Apa urusanku dengan roh baru?” sergah Bujana tak ramah, “Setiap hari juga banyak roh baru. Datang dan pergi karena kau takut-takuti.” Ahmed yang sedang duduk santai di atas lemari tempat penyimpanan obat terkekeh. “Aku tidak punya pekerjaan yang menyenangkan. Kau masih bisa memandangi istrimu? Aku? Tidak ada yang membuat aku bersemangat di sini. Tapi, berkat kamu, Lili dan anak SMA itu sekarang mau berteman denganku. Padahal sudah lama aku ingin mengajak mereka, mengisengi manusia-manusia di sini.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN