Fareed Shahram, lelaki berperawakan tinggi dengan kumis dan cambang menyatu. Keningnya berkerut, nyaris menyatu. Dia baru lima menit meninggalkan ruangan tempat dia meletakkan artefak yang baru ditemukannya, ketika mendapati laci mejanya sudah porak poranda. The Iraq Museum, tempatnya bekerja sebagai seorang Arkeolog paruh waktu, memiliki pengamanan yang cukup baik. Meski barang-barang arkeologi yang dipajang, bukan yang bernilai mahal, namun Fareed merasa nyaman dengan sistem keamanannya. Para security tidak akan mengijinkan seorang pun masuk tanpa melalui deteksi sidik jari dan melewati kamera perekam wajah. Untuk itu, dia kadang merasa ruangannya lebih aman dari rumahnya sendiri, yang hanya berjarak lima kilometer dari museum. Dan rasa aman itu, membuatnya ceroboh malam ini. Seseorang

