Marinka merasa sekujur tubuhnya gemetar. Bukan karena Karran yang menciuminya tanpa jeda, tapi karena ucapannya bahwa Bujana ada di sini, mengamati mereka. Bahkan pisau yang dipegangnya tak sanggup dipertahankannya lagi di genggamannya. Karran mengambilnya dan melemparnya ke sudut ruangan. “Karran, hentikan!” seru Marinka sembari mendorong tubuh Karran menjauhinya. Pikirannya menjadi kalut. “Hei, kenapa?” tanya Karran dengan senyum maut menggodanya. “Kau tidak pernah menolakku sebelumnya. Apa kau takut dia melihatmu?” Marinka menggeleng, lalu merapikan baju dan rambutnya. Karran tertawa. “Dia sudah melihat kita selama ini, sayang. So what? Tidak ada yang bisa dilakukannya, kan?” “Kau bilang pintu kamar itu ….” Karran kembali mendekati Marinka. “Aku hanya bercanda.” Karran mendekati

