Bujana sudah mendahului berada di ruang bawah tanah. Hanya sebuah lantai bawah dari dapur menuju halaman belakang. Sebuah ruangan seukuran kamar Karran tadi, dengan sebuah benda serupa kapsul untuk MRI di rumah sakit. Karran hendak menutup pintu ruang bawah tanah, tapi Marinka memintanya untuk tetap terbuka. “Aku selalu menutupnya bila masuk ke dalam sini. Kau akan tahu kenapa,” ucap Karran. “Kau khawatir aku akan menggodamu di ruang ini? Please, tidak ada ranjang di sini. Mana mungkin aku melakukannya di lantai yang keras.” Marinka menghunuskan pisau apelnya ke arah Karran sembari tersenyum. “Jangan berpikiran kotor. Aku tahu apa maumu.” Karran terbahak. Dia membiarkan Marinka berdiri dari kursi rodanya dan perlahan menuruni tangga menuju ruang bawah tanah. “Akan lebih mudah menggend

