Marinka baru saja selesai mandi. Dai sudah bisa melakukan banyak aktifitas tanpa tergantung kursi roda apalagi perawat. Meski kakinya masih terasa sakit bila dibuat melangkah, tapi tetap harus dipaksakannya. “Bujana, kau tidak mandi?” tanya Marinka sembari duduk di tepi tempat tidurnya dan mengambil dompet make upnya. “Kau harus mandi biar harum. Apa mau kumandikan?” Marinka mengeluarkan bedak sembari mematut wajahnya di cermin kecil tempat bedaknya. Wajahnya kelihatan segar. “d**a datang hari ini. Dia membawa peralatan lukisku. Aku akan mulai melukis di sini, di ruangan ini. Dan lucunya, kamu yang harus menemaniku, padahal kamu benci lukisan, ya kan?” Marinka membedaki wajahnya dan memakai lipstik tipis-tipis. Tiba-tiba timbul keisengannya, dia memakai lipstik yang berwarna menyala te

