“Maaf, kami tidak mengenalmu.” Dadda langsung menarik Marinka yang memeluk erat lengannya. Tangan gadis itu terasa begitu dingin, dan dia gemetar. Sudah jelas Marinka ketakutan dengan kehadiran lelaki bertopeng yang mengaku bernama Monroe itu. “Tunggu!” Dadda terus menarik Marinka menjauh, dan dia mendengar langkah kaki lelaki itu mengejarnya. Dadda sontak berbalik dan menarik Marinka ke belakang punggungnya. “Jangan ganggu kami,” perintah Dadda, seperti biasa dia selalu tegas demi melindungi majikannya. “Aku tidak akan mengganggu Marinka,” ucap lelaki itu dengan wajah memelas. “Aku hanya ingin berteman dengannya.” Dadda mendengus. “Tidak ada teman yang mengintip-intip temannya. Apa maumu, katakan saja. Bila memang tidak ada urusan, sebaiknya jangan lagi mendekat. Atau aku laporkan

