Malam merayap semakin pekat. Bujana merebahkan punggung di tempat tidurnya. Dia benar-benar kehabisan energi malam ini. Sembari memejam mata, dia mengingat seharin ini benar-benar menyenangkan bersama Ur Kanaa. Gadis itu, menyukainya. Dia sendiri yang menyatakannya dengan malu-malu. Dan Bujana merasakan debaran di dadanya terasa begitu nikmat. Bahkan meski lelahnya membuatnya tak berenergi lagi, otaknya serasa dipenuhi daya listrik ribuan watt. Voltagenya tak meredup sama sekali, bahkan semakin kuat saat memejam mata dan menghadirkan wajah Ur Kanaa. “Ur Kanaa, aku yakin bahwa meski kamu adalah kembaran identik Marinka, tapi bagiku kamu berbeda. Kamu, membuat aku hidup. Meski jasadku sebenarnya sudah mati suri.” Semalaman, Bujana tak henti memikirkan Ur Kanaa. Selama hidupnya, baru kali

