58. Ke Istana

1048 Kata

Kereta kuda sudah siap, Bujana dan Agga pun menaikinya menuju istana. Humbab dan Gilga melepas mereka sembari tersenyum bangga. Sementara itu, tetangga mereka benar-benar tak habis pikir, bagaimana mungkin Nebuz akan menjadi pengawal kerajaan. “Humbab, kau tidak salah mengirim dia ke istana?” tanya si tetangga sembari melirik Gilga. Gadis itu bersembunyi di belakang ibunya. Dia tidak ingin bertatapan dengan lelaki yang anaknya bermain bersamanya, di belakang punggungnya. Terlebih status sosial mereka yang berbeda jauh, akan membuat lelaki itu murka. Semua orang sudah paham wataknya, sebagai orang kaya di kawasan ini. “Aku ingin dia punya pekerjaan yang lebih baik.” Si tetangga mendecih. “Seharusnya kalian berkaca diri. Apa kalian lupa kalau Nebuz itu terbelakang sejak lahir. Dia bahkan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN