Museum Baghdad tengah malam. Fareed seperti tumbuh jenggot lagi setelah kebakaran jenggot. Polassar tahu-tahu muncul di depan ruang kerjanya, diantar oleh security. Dia tahu, perlakuan pada Polassar, mantan anak buah yang menusuknya dari belakang itu, tak bisa dimaafkannya. Tapi berhubung Polassar mengalami amnesia dan halusinasi pasca kecelakaan yang membuatnya koma, Fareed terpaksa harus bersikap manis agar lelaki itu ingat di mana dia menyimpan batu bertuah biru. “Ke mana saja kau?” tanya Fareed sembari memberi kode pada para security untuk berjaga di depan pintu kerjanya. Dia tidak ingin Polassar kabur lagi. “Jalan-jalan.” “Oh ya? Pasti menyenangkan. Apakah kau sudah mengingat semua jalan di Baghdad? Kulihat kamu tidak kesasar ke rumah sakit jiwa, Polassar.” Ahmed nyengir. Dia tah

