Bab 2

930 Kata
Jangan tanya gimana perasaan Nirana saat ini. Wajahnya memerah karena malu. Gadis itu malah mencoba bernegosiasi dengan Kaivan. “Maaf, Tuan. Saya ganti di toilet saja. Boleh saya tahu di mana toiletnya berada?” tanya Nirana dengan suara lembut dan nada yang sopan. Namun, Kaivan justru menatap gadis itu semakin tajam. Nirana merasa sangat gugup, tetapi gadis itu masih mencoba tetap menguasai keadaan. “Keluar!” teriak Kaivan menunjuk ke arah pintu keluar. Nirana sangat kaget melihat perlakuan Kaivan yang seperti itu. Dia pikir setidaknya bisa mengganti pakaiannya di toilet, tetapi laki-laki itu tidak bisa diajak kompromi dan malah menyuruhnya keluar dari ruangan ini. “Maaf, Tuan. Saya ganti di sini saja. Jangan menyuruh saya keluar dan memecat saya sekarang,” ujar Nirana mengiba. Kaivan hanya menganggukan kepalanya dan tetap saja memandangi Nirana dengan tatapan mengerikan itu. Di bawah tatapan mata yang begitu mengintimidasi, Nirana terpaksa mengganti pakaiannya. Untung saja dia memakai tanktop dan celana pendek di atas lutut, sehingga dia tidak perlu menampakkan seluruh bagian tubuhnya di hadapan laki-laki itu. Kaivan hanya menatap Nirana tanpa minat. Tidak ada yang spesial pada tubuh perempuan itu. Jadilah laki-laki itu sekarang ini lebih fokus dengan ipad-nya. Dia hanya membaca pesan yang baru saja masuk dari salah satu kliennya. Nirana sendiri merasa tidak nyaman memakai seragam yang dia kenakan saat ini. Gadis itu hanya memakai rok mini, dengan stocking jaring yang memang sudah tersedia di lemari baju khusus itu. Bajunya sendiri seperti pakain cosplayer yang memiliki kerah di leher, tetapi belahan dadanya sangat rendah. Sungguh desain pakaian teraneh yang pernah dia pakai. “Bagus sekali. Sekarang, pilih heels yang sesuai menurutmu. Aku sudah tidak sabar lagi menanti hiburan yang akan kamu sajikan untukku,” ucap Kaivan panjang lebar. Nirana menganggukkan kepalanya dengan pasrah. Gadis itu segera beranjak ke lemari padi dan mulai memilih heels yang sesuai dengan ukuran kakinya. Setelah mendapatkan heels yang sesuai, Nirana mulai berjalan menuju ke tiang khusus yang berada di sudut ruangan. Namun, gadis itu justru berjalan sempoyongan dan terjatuh sebelum mencapai ke tiang itu. Nirana mengaduh kesakitan dan Kaivan hanya melihat gadis itu dengan tatapan malas. “Aduh, sakit sekali.” Nirana mengaduh lirih. Kaivan berdecak kesal melihat drama yang ada di depan matanya. Benar-benar perempuan bodoh dan teledor. Kaivan mendengus tidak suka. “Pintu keluar terbuka lebar. Aku tidak suka perempuan yang banyak tingkah dan tidak bisa menempatkan diri, sesuai dengan pekerjaan!” Kata-kata itu terdengar tajam dan menusuk. Namun karena sudah diwanti-wanti oleh ketua HRD tadi, Nirana berusaha tidak lagi mengambil hati apapun kalimat yang terlontar dari mulut Kaivan. “Saya akan berusaha lebih keras, Tuan,” tukas Nirana dan berusaha bangkit, meskipun tertatih-tatih karena gadis itu tidak bisa memakai heels selama ini. Nirana mencoba menyeimbangkan tubuhnya, walaupun rasanya sulit. Ketika sudah di depan tiang panjang itu, gadis itu bingung harus apa. Ingin bertanya lagi pada Kaivan, tetapi Nirana tahu kalau itu hanyalah menambah masalahnya saja. Lalu tanpa dikomando, Nirana segera mengangkat kedua tangannya. Nirana lantas menyanyikan lagu kebangsaan dengan tangan yang digerakkan seperti halnya dirigen yang sedang memberikan panduan. Kaivan yang sedang minum air mineral itu, tersedak ketika melihat tingkah konyol yang dilakukan Nirana di depan tiang itu. “Stop! Apa yang sedang kau lakukan sebenarnya, Sialan!” maki Kaivan dengan menahan rasa sakit akibat tersedak air minumnya sendiri di dadanya. Nirana yang sedang asyik menyanyikan lagu kebangsaan itu, luntur semangatnya. Gadis itu berhenti dan berbalik ke arah Kaivan yang sedang menatapnya dengan tatapan yang seolah bisa membunuh. “Maaf, Tuan. Suara saya memang kurang bagus,” cicit Nirana mencoba menghilangkan rasa takut yang bersemayam di pikirannya saat ini. “Siapa yang menyuruhmu menyanyikan lagu kebangsaan sambil bergerak-gerak seperti dirigen di sini, hah?” tanya Kaivan kesal. Nirana mendesah pelan ketika mendengar pertanyaan itu. “Apa aku salah malah nyanyi lagu kebangsaan di sini? Memang sebenarnya aku harus ngapain sih?” tanya Nirana di dalam hatinya. “Maaf, Tuan. Ada tiang di sini. Tuan tidak menjelaskan apa yang harus saya lakukan pada tiang ini. Jadi, saya kepikiran buat menyanyikan lagu kebangsaan sambil menjadi dirigen sekaligus,” jawab Nirana membuat Kaivan semakin kesal dan naik darah. “Jangan sok polos di depanku, Sialan! Semua perempuan itu murahan! Aku benci melihat ketololan yang kau tampakkan barusan. Sekarang, keluar saja dari ruanganku dan aku akan meminta Seruni mencarikan sekretaris baru yang tidak bodoh dan lelet sepertimu!” titah Kaivan membuat Nirana menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tidak, Tuan. Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar membutuhkan pekerjaan ini. Tolong jangan pecat saya. Saya janji akan bekerja dengan baik dan tidak akan membuat masalah lagi. Saya hanya butuh belajar saja dan saya adalah pembelajar yang cepat. Tolong saya, Tuan,” mohon Nirana sambil berlutut tepat di hadapan Kaivan. Sementara itu, Kaivan benci sekali melihat Nirana yang seperti itu. Dia tidak suka mengasihani siapapun sebelumnya. Sekarang, Kaivan mencoba menulikan telinga dan membutakan matanya terhadap tingkah Nirana itu. “Keluarlah, aku tidak suka melihatmu. Apa lagi dengan kamu berlutut seperti itu. Kamu benar-benar tampak seperti sampah!” Kaivan berbalik dan segera melangkah pergi meninggalkan ruang kerjanya. Namun Nirana yang betul sekali pekerjaan, tidak mau menyerah dengan mudah. Gadis itu mencoba bangkit dan mengejar Kaivan sebisanya. Lantas, dia peluk laki-laki itu dari belakang. “Tuan, tolong jangan begini. Saya akan bekerja dengan baik. Tolong beri saya kesempatan,” mohon Nirana lirih. Kaivan sendiri kaget karena Nirana berani sekali menyentuhnya seperti ini. Laki-laki itu tersenyum sinis dan semakin yakin kalau Nirana adalah perempuan murahan. “Jadi seperti ini aslinya kamu, hah? Baiklah. Aku akan memberikan kamu kesempatan terakhir. Ikut saya sekarang ke sebuah tempat!” titah Kaivan tegas. Nirana hanya pasrah dan menganggukkan kepalanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN