9. The Best Solution Is...

1712 Kata
-Terlambat untuk menyesali apapun yang terjadi. Memperbaiki dengan menyiapkan apapun untuk masa depan adalah sebuah solusi- * Kondisi Damar berangsur membaik. Yang dikatakan Tamara benar adanya. Mereka tidak boleh terlalu lama bersedih. Hidup harus tetap berjalan. Sudah banyak yang tertunda dan bersabar. “Ra, tolong katakan sejujurnya tentang kondisi Theodore” ucap Damar memohon. Mereka saat ini berdiri dibalik dinding kaca yang dihuni oleh Theodore. Damar memohon agar diizinkan untuk keluar dari kamar dan bisa melihat Theodore. Tamara lah yang mendorong kursi roda Damar. “Operasi Theodore berjalan lancar kak, tapi itu hanya menghentikan pendarahan di kepalanya saja. Dokter memvonis bahwa kemungkinan Theodore akan koma enam bulan atau mungkin setahun ke depan kak.” Tamara menceritakan semua kondisi Theodore. “Apakah tidak ada cara lain untuk mempercepat Theodore sadar dari komanya, Ra?” tanya Damar. “Aku sudah meminta dokter Febrian untuk berbuat yang terbaik terhadap Theodore, namun masih belum ada kemajuan kak.” jawab Tamara melirih. Dinar menghampiri sepasang anak manusia itu, “Kalian dicariin kemana-mana ternyata lagi ngunjungin Theodore disini.” “Ra, Din, ayo kita ke kamarku ada hal yang harus kita bahas.” titah Damar tiba-tiba. Kedua gadis itu mendorong kursi roda Damar, melewati lorong rumah sakit. Dan berhenti didepan pintu kamarnya. Damar dipapah oleh Dinar menuju tempat tidurnya. Sebenarnya Damar bisa berjalan sendiri, namun kepalanya beberapa kali masih terasa pusing. Luka di kakinya pun sudah mulai mengering, berjalan sendiri pun sudah bisa. Namun Dinar masih tidak memperbolehkan kakaknya itu melakukan apapun sendiri. “Dinar, aku itu nggak caacat. Masih bisa berjalan sendiri.” protes itu keluar dari mulut Damar. “Tapi kepala kakak itu masih sering pusing, ntar kalau jatuh gimana? kemungkinan cacaat ada kan?” Dinar tak mau kalah berargumen. Damar langsung menoyor kepala adiknya itu yang mulutnya tak disaring, “Kamu doain yang jeelek buat kakak, hah? Adik macam apa kamu ini?” “Yaudah sih, nggak usah protes. Terima aja diperlakukan manis begini. Lagi pula aku kan jarang kasih perhatian begini ama kakak.” “Aku tidak suka dengan penolakan!” Dinar menatap tajam ke mata Damar. Pria itu terheran sendiri, “Sejak kapan kamu jadi pemberani begini?” tanya Damar. “Sejak aku hampir kehilangan kakak” balas gadis lugas. Tamara tersenyum namun air matanya mengalir, ia teringat kepada Theodore. Mereka juga akan seperti cat and dog kalau sudah berdekatan satu sama lain. Persis yang barusan dilakukan oleh Damar dan Dinar. Sekarang gantian, kakak adik itu memperhatikan Tamara yang sedang menangis. Dinar langsung berlari ke arah Tamara. Ia membawa Tamara ke pelukannya, sekarang mereka bertiga berpelukan erat. “Udah ah, aku ngap dipeluk sama kalian berdua” kata Damar. Pria itu melerai pelukan tersebut, “Dinar, kamu udah bawain kan yang kakak pesan?” tanya Damar kepada sang adik. “Sudah dong”, Dinar mengeluarkan sebuah notebook kerja Damar, agenda kerja Damar dan alat tulis yang biasa pria itu gunakan. “Lho kak Damar mau ngapain? kerja?” tanya Tamara tak percaya. “Ya dong Ra, kita harus kerja mulai sekarang. Kita harus ngumpulin uang yang banyak buat bisa kasih perawatan terbaik untuk Theodore” balas Damar. “Tapi kondisi kakak belum sepenuhnya sehat kak, mending tunda dulu aja” saran Tamara. “Nggak bisa Ra, ini berkaitan dengan project film yang harusnya sudah mulai dikerjain.” papar Damar. “Maksud kak Damar apa?” selidik Tamara, “Kemarilah, lihat dan baca perjanjian kontrak kerja ini” Damar telah membuka perjanjian kerjasama Theodore dalam pembuatan film action. Tamara melihat dan membaca setiap kata dalam surat perjanjian kerja yang telah ditandatangani oleh Theodore. ‘Apa maksud ini semua?’ Tamara membatin. Fakta yang baru diketahuinya adalah Theodore sudah harus melaksanakan proses syuting filmnya. Kontrak kerja untuk bermain di film tersebut telah ditandatangani oleh Theodore dan salah satu isi dari perjanjian tersebut adalah ia akan mengganti rugi tiga kali lipat dari honorer yang akan didapatkan, jika tidak melaksanakan syuting tepat waktu. “Kak Damar, tolong jelasin apa maksud poin per poin dari perjanjian itu kak?” Tamara bicara dengan gelagapan dan nafasnya sesak. ‘Cobaan apalagi ini Tuhan?’ ungkapan isi hati Tamara saat ini. Damar meraih tangan Tamara, ia mengajak Tamara duduk di sisi ranjangnya. Dinar pun menenangkan Tamara, ia tak berhenti mengusap lembut pundak gadis itu. “Isi perjanjiannya memang begitu Ra, dan Theodore sudah setuju. Makanya kami ke Lembang kemarin untuk proses penandatanganan sekaligus meninjau lokasi untuk salah satu scene dalam film action.” “Kecelakaan ini memang sudah takdir dan harus terjadi. Jujur aku bingung harus gimana buat ngumpulin uang sebanyak itu. Sesuai dengan nominal yang tertulis” jari telunjuk bagian kanan Damar mengarah ke layar notebook. Wajah bule Tamara sudah basah karena air mata sendiri. Sungguh sesak didadanya sekarang ini. Dinar pun memeluknya, berharap Tamara bisa mengatur deru nafasnya. “Din, itu nominalnya banyak banget. Aku harus kerja apa buat ngumpulin uang sebanyak itu?” lirih Tamara menyayangkan nominal yang tertulis. (Tamara is crying) “Kenapa sih Theodore main setuju aja, Din?” “Kenapa meeting itu di Lembang, Din?” “Kenapa mobil laknat itu harus keluar jalur dan ngalangin mobil Theodore?” “Kenapa ini terjadi di kita Dinar?” Dinar hanya bisa diam, Tamara harus mengeluarkan semua rasa kesal dan umpatannya terhadap ujian Tuhan ini. Kalau sudah dikeluarkan maka akan terasa lega. Damar pun tak tahu harus bagaimana, ‘sudah terlambat untuk menyesali apapun yang telah terjadi. Cara memperbaikinya adalah dengan menyiapkan apapun untuk masa depan.’ * Sherry Peterson - Chief Executive Officer, begitulah block nama yang ada pada meja itu. Sudah tiga hari meja itu ditinggalkan pemiliknya. Dan diatas meja sudah ada setumpuk berkas yang harus diperiksa dan dibubuhi tanda tangannya. Sherry memasuki ruangannya, diikuti oleh Nadila dari belakang. Ia melepaskan blazer yang digunakan lalu melemparnya ke arah Nadila supaya digantung pada tempatnya. ‘Dasar, emang muka gue hanger blazer apa? Apa salahnya minta tolong baik-baik gitu. Apa gunanya mulut kalau bukan untuk bicara.’ sungut Nadila ketika menangkap blazer si nona bos. Sherry tidak memperdulikan apapun isi hati Nadila, baginya tidak penting dan bukan urusannya. Walau itu karena sikapnya sendiri. “La, pastikan semua berkas yang harus saya periksa dan harus saya tanda tangani sudah ada di atas meja sekarang.” titahnya ngebosi. “Ini sudah semua nona. Maaf memangnya nona mau pergi lagi ya?” dasar Nadila nggak pernah kapok untuk tidak kepo. “Bukan urusan kamu. Keluar dan kembali bekerja.” bukan mendapat jawaban, Nadila malah diusir oleh Sherry dari ruangannya. “Baik nona, sebelumnya nona mau dibuatkan minuman apa?” Nadila bertanya lagi. “Saya belum haus. Nanti kalau saya butuh, saya panggil kamu. Sekarang keluar!” kedua kalinya Sherry mengusir Nadila. Nadila langsung berbalik badan, melangkah keluar dari ruangan yang terasa seperti neraka. ‘Salah lagi kayaknya.’ Nadila bergumam dibalik pintu ruangan. * Malam ini Tamara memilih untuk tidak menemani Dinar di rumah sakit. Ia merasa butuh sendiri. Ia harus memutar otaknya, mencari solusi terbaik untuk ujian ini. Tamara duduk di ruang tengah rumah ini. Biasanya disini mereka habiskan untuk nonton bareng, meeting, atau sekedar bersantai di sore hari. Semua bayangan itu memutar kembali di hadapan Tamara. Hanya kesedihan yang terasa dalam hatinya. Pak Sidiq menghampiri Tamara yang termenung, “Permisi non Tamara!” yang punya nama terkejut. “Mohon maaf non, bapak ganggu ya non?” tanya Pak Sidiq. “Ahhh… tidak sama sekali pak, ada apa pak?” ucap Tamara. “Bapak cuma mau nanya, non Tamara mau balik ke rumah sakit nggak?” “Nggak pak, saya akan dirumah aja malam ini. Bapak boleh langsung balik kok. Jam kerja bapak kan udah kelar dari tadi. Maaf ya pak, saya lupa ngabarin” ucap Tamara penuh sesal. Ia telah membuat Pak Sidiq lembur, seharusnya ia memberi kabar jika dirinya tidak kemana-mana lagi, supaya Pak Sidiq bisa pulang ke rumahnya. Setelah memastikan kegiatan Tamara, Pak Sidiq pamit pulang. Jam kerja Pak Sidiq itu fleksibel mengikuti Tamara. Pokoknya ia akan datang pagi hari dan bisa langsung pulang sore hari. Ia hanya akan lembur kalau bos juga lembur. Ia memang tidak menginap dirumah ini. Karena kamar di rumah ini tidak ada yang kosong lagi. Empat kamar di rumah ini telah digunakan oleh Damar, Dinar, Theodore dan tentunya Tamara. Satu lagi kamar untuk asisten rumah tangga. Di rumah ini mempekerjakan dua orang asisten rumah tangga, Bu Yum dan Mbak Yun. Mereka masih satu keluarga. Bu Yum adalah tante dari Mbak Yun. Tidak ada satpam khusus yang menjaga rumah Tamara. Lokasi rumah itu terletak di dalam komplek perumahan yang menerapkan peraturan ketat, makanya Morrison belum mau memakai jasa security. “Non Tamara, mau disediakan makan malam sekarang?” tanya Mbak Yun. Tamara hanya menggeleng, pertanda kalau ia menolak untuk makan malam, lalu Bu Yum pun datang, “Non, ayo kita makan ntar yang jagain Den Theodore siapa non?” “Astaga…" Tamara memijat pelipisnya. "Ya sudah tolong disediain aja ya Bu. Nanti aku kesana” perintah Tamara. Para maid itu mulai menghidangkan menu makan malam di atas meja makan. Sekitar lima menit kemudian makanan siap untuk dinikmati. “Non, ayo makan” ajak Mbak Yun. Tamara melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Tamara sudah duduk, ia melihat sekitarnya sepi, ia pun memanggil para maid untuk ikut sekalian makan malam bersama. “Bu Yum, Mbak Yun, sini makan bareng aku” teriak Tamara. “Ya non Tamara” serempak para maid menjawab teriakan Tamara. Setelah selesai makan, Tamara pamit ke atas untuk langsung tidur. Sungguh Tamara hanya ingin tidur sekarang ini. Kaki Tamara sudah menginjak anak tangga rumah satu per satu. Ketika sudah sampai di depan pintu kamarnya, ia membalikkan badan menuju kamar Theodore. Tamara membuka pintu kamar itu. Perlahan masuk, ia menghidupkan lampu dan air conditioner yang ada di kamar. Tamara melangkah ke ranjang Theodore, ia menghempaskan diri ke atasnya. Sudut matanya melihat ke arah kaos kebesaran Theodore, kaos oblong warna putih tulang brand dari beruang tergantung di hanger pintu lemari. Tamara mengambil baju itu dan langsung memakainya. Kembali ke tempat tidur, dan ia mulai memejamkan matanya. Sesaat berlalu, dengkuran halus itu terdengar. Tamara tertidur dengan pulasnya. Mungkin kaos oblong Theodore memberinya kedamaian, dan membuat Tamara bisa tidur dengan nyenyak. ----------------------------- Author mau nanya nih, Apa kalian pernah merasakan kangen berat kepada saudara sendiri? Lalu kalian menggunakan baju favorit mereka supaya bisa merasakan kehadirannya bersama kalian, seperti tokoh Tamara?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN