Bab 1
Seorang pria berusia tiga puluh lima tahun tampak tengah menyusuri jalanan kota Klaten dengan mengendarai motor di bawah teriknya matahari siang hari.
Arman Rahadian,seorang suami dan juga ayah dari dua orang anak dalam keluarga kecilnya yang jauh dari kata mapan.
Kondisi ekonomi keluarganya yang jauh dari kata berkecukupan membuatnya harus bekerja keras.Arman bahkan rela hanya bekerja serabutan, salah satunya dengan menjadi seorang kurir pengantar paket,yang harus rela di jalaninya demi dapat mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.
Sama seperti hari ini, Arman tampaknya tengah terburu-buru saat ia mendapatkan sebuah tugas untuk mengantarkan sebuah paket khusus.
Arman memacu laju motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dengan harapan mendapatkan upah yang cukup besar, Arman mengantarkan sebuah dokumen yang harus sampai di pabrik konveksi secepatnya.
Namun,kali ini rupanya Arman harus mendapatkan nasib sial. Saat ia kurang fokus dalam berkendara karena terlalu memikirkan dengan besarnya upah yang sedang menantinya, dan tepat saat melewati perempatan besar yang tidak ada lampu lalu lintasnya, Arman tidak menyadari adanya sebuah mobil mewah yang melaju ke arahnya dengan cukup kencang.Dan saat ia menyadari keadaan itu, semuanya sudah sangat terlambat.
Braaaakkkk
Sebuah benturan yang sangat keras terdengar,seiring dengan terlemparnya tubuh Arman dan motornya hingga belasan meter.
Bruggghhhh
Tubuh Arman terpelanting dengan cukup keras di atas aspal.
"uhuk,,,uhuk,,,uhuk,,!
Arman terbatuk-batuk dengan keras. Dadanya terasa sesak, kepalanya terasa pusing. Ia memaksakan diri untuk dapat berdiri meski harus dengan susah payah. Sekujur tubuhnya terasa sakit semua, wajahnya memucat saat ia merasakan sendiri tulang di dalam tubuhnya terasa ngilu.
" Apakah kamu buta,? kalau kamu mau mati,mati saja sendiri dan jangan menyusahkan orang lain,!" Gertak seorang pria yang seusia dengannya begitu pria itu turun dari mobil dan berjalan menghampirinya. Wajah pria itu mengeras , matanya menatap Arman dengan tatapan penuh permusuhan, tangannya yang kekar terulur kedepan untuk mencengkeram kerah baju Arman yang masih saja meringis kesakitan.
"Maafkan saya tuan,! saya kurang hati-hati dalam berkendara," ucap Arman dengan terbata-bata.Dalam hatinya di selimuti rasa ketakutan jika sampai pemilik mobil tersebut menuntut ganti rugi padanya.
Bughhhh
" Uhuk,,,,uhuk,,,,!"
Arman kembali terbatuk-batuk saat pukulan keras pria asing itu mendarat tepat mengenai rusuknya. Tubuhnya terhuyung ke belakang dan kembali jatuh terjerembab setelah kedua kakinya yang masih gemetar tidak mampu menahan berat beban tubuhnya.
Bruggghhh
"Joni,,,,sudahlah,,,jangan marah lagi,! lebih baik kita segera pergi sebelum polisi datang,"
Arman yang sedang meringkuk dengan kedua tangan yang tengah memegangi perutnya mencoba mengangkat wajahnya, saat ia mendengar suara seorang wanita yang terdengar tidak asing di telinganya. Namun, saat itu juga wajahnya mematung.
"Karina,?" gumamnya lirih saat ia melihat wajah wanita yang kini sudah berdiri disamping pria yang sebelumnya sudah memukulnya itu.
"Karina,,,kudengar pria itu tadi menyebut namamu. Katakan padaku,apakah kamu mengenalnya,?" tanya Joni menatap Karina dengan penuh rasa curiga.
Karina menoleh ke arah Arman yang tengah melihatnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Arman,? kamu,,,,,!" gumam Karina membeku di tempatnya.
"Arman,? jadi dia adalah suami bodohmu yang selama ini sudah dengan sabar merawat dan berkorban melakukan pekerjaan apapun demi untuk bisa membesarkan anak-anak kita,Karina,? Hemmmppp,,, sepertinya aku memang harus segera mengucapkan banyak terimakasih kepadanya."
Arman terperangah, matanya yang sebelumnya tampak teduh berkilat tajam, kemudian menatap nyalang ke arah Joni dan Karina. Ia merasa seperti sedang disambar petir saat mendengar pria bernama Joni itu menyebutnya sebagai sosok laki-laki bodoh.
"Sepertinya aku tidak perlu lagi menyembunyikan semuanya darimu,Arman," ucap Karina sambil berjalan menghampiri Arman.
" Apa maksudmu,? "tanya Arman,suaranya terdengar berat dan agak serak.
Namun, sekujur tubuhnya yang terasa sakit membuatnya sama sekali tidak mampu memberikan perlawanan saat untuk kali kedua Joni meraih kerah bajunya dan menariknya hingga membuatnya berdiri kembali.
" Seperti yang baru saja di katakan oleh oleh Joni, Selama ini, aku setuju menikah denganmu hanya karena menuruti keinginan orang tuaku saja. Sebagai anak yang berbakti,aku tentu tidak ingin mengecewakan perasaan ayah ibuku yang ingin membalas budi atas pertolongan darimu, jadi aku mengiyakan permintaan kedua orang tuaku untuk menikah denganmu." ucap Karina dengan tenang, ia sama sekali tidak memperdulikan perasaan Arman yang berkecamuk tidak karuan.
"Jadi selama ini kamu rela hidup dengan aku selama ini hanya karena alasan itu,?"
Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Arman, Karina bukannya menjadi marah. Wanita itu saling melempar tatapan mata dengan Joni sebelum terkekeh bersama-sama.
" Apakah menurutmu wanita yang setiap hari tidur bersamamu itu benar-benar Karina,?"
Arman mengernyitkan keningnya, merasa kebingungan dengan pertanyaan dari Joni.
" Arman,,,Arman,,,,aku benar-benar kasihan sama kamu," ucap Joni sambil menepuk pelan bahu Arman.
" Ini,,,kamu bisa lihat sendiri,siapa wanita yang kamu tiduri setiap hari."
Arman merasakan dadanya bergemuruh, lalu dengan hati-hati di ambilnya ponsel dari tangan Joni.
Dengan hati yang di penuhi oleh rasa penasaran yang mengusik, Arman membuka rekaman vidio yang membuat matanya seketika langsung terbelalak.
"Amanda,,,??? jadi yang selama ini tidur denganku adalah Amanda,? putri mak Sari," gumamnya pelan,merasa tak percaya. Dadanya bergemuruh saat mendapati kenyataan yang tidak pernah sekalipun terbayangkan akan di alaminya.
Arman merasa d**a bagian kirinya terasa sangat sakit. Nafasnya mendadak tersengal-sengal, pandangan matanya perlahan mulai kabur. Namun, kondisi itu tak menyebutkan semangat Arman agar ia tetap mampu bertahan.Ia harus segera menceraikan istrinya itu dan mempertanggungjawabkan apa yang sudah diperbuatnya kepada Amanda.
" Karina, tolong antarkan aku pergi ke rumah sakit," pinta Arman penuh harap." Setelah ini,aku akan setuju untuk menceraikanmu, agar kamu bisa segera hidup bersama Joni dengan bebas."
Namun, tanggapan yang di tunjukkan oleh Karina dan Joni selanjutnya benar-benar membuat darah Arman semakin mendidih.
" Kamu tidak perlu lagi bersusah payah pergi ke rumah sakit ," ucap Karina dengan tenang.
Bughhhh
Bughhhh
"aaargghhh,,!"
Bruggghhh
Dua pukulan beruntun yang di lepaskan Joni mendarat tepat di perut Arman, membuat Arman kembali jatuh terduduk. Wajahnya terlihat semakin pucat, dari sudut bibirnya mengalir lelehan darah segar.
Dan sepertinya kali ini luka dalam yang di alami oleh Arman benar-bernar cukup parah.
"Tetaplah berdiam diri di sini, karena
kamu sebentar lagi pasti akan mati."
ucap Joni dengan perai wajah yang terlihat sinis.
Joni kemudian berbalik badan dan meraih pinggang Karina sebelum keduanya masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Arman yang tak berdaya dengan begitu saja.
"Akan aku balas perbuatan kalian berdua,!" geram Arman berusaha bangkit. Namun rasa sakit di dadanya justru terasa,membuat pandangan matanya berkunang-kunang sebelum akhirnya hanya kegelapan yang dapat di lihatnya. Tubuhnya kembali jatuh terkapar,dengan nafas yang terlihat semakin melemah.