Dalam kitab suci itu, telah tertulis jauh dari waktu sebelum kami ada, tentang hubungan seorang lelaki dan perempuan dalam balutan ikatan suci pernikahan.
Tentang sebuah pengaturan dalam hidup berumah tangga.
Dalam kitab nan mulia, tertulis jelas bagaimana hak dan kewajiban seorang perempuan di depan kekasih halal, pun sebaliknya.
Dan di atas mushaf yang terbuka itu, mas Yoga mengucapkan kalimat sakral yang akan merubah jalan hidupku ke depan.
"Qabiltu Nikahaha wa Tazwijaha alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi, Wallahu Waliyuttaufiq."
Dan kalimat yang diucapkan mas Yoga dengan mantap dalam satu tarikan napas itu serupa mantra yang dengan sekejap mampu melelehkan hatiku. Membuat air mataku susul menyusul jatuh membasahi pipi.
Sebelumnya, bahkan satu detik sebelum mas Yoga menjabat tangan bapak, perasaanku biasa saja. Sedikit pun tak ada rasa cemas, gugup, atau apalah yang mereka katakan saat menjelang pernikahan.
Aku merasa biasa saja, sampai dia mengucapkan kalimat sakral itu dengan tangan yang menjabat tangan bapak, di atas mushaf Al-Qur'an yang menjadi mahar.
Aku bahkan tak mengerti dengan diriku sendiri mengapa tiba-tiba menangis.
Seperti ada perasaan ingin mengabdikan seluruh hidupku padanya.
Pada lelaki yang hari ini kucium penuh takzim tangannya.
"Alhamdulillah, sah!"
"Yeay! Sah!"
Riuh para tamu meneriaki kata 'sah!', sesaat setelah pak penghulu sampai pada penghujung do'anya.
Disusul sorakan, 'Ciyee', 'suit...suitt...' dan berbagai istilah lain yang membuat pipiku memerah dan semakin salah tingkah begitu mas Yoga mengecup puncak kepalaku dengan penuh kelembutan.
"Cium... Cium... Cium..." Salah satu dari mereka mengompori.
Membuat yang lainnya ikut berteriak. Membuatku semakin malu saja.
"Ayo dong, Ga, tunjukin taring, lo!" teriak salah satu kerabat mas Yoga.
"Jangan beraninya cuma di situ, lah! Ayo, cium bibirnya!" Yang lain menimpali.
"Ga, nggak usah takut, dia punya lo sekarang! Halal, Cuy!"
Ramai sekali mereka saling bersahutan, sebagian lagi tertawa melihat aku dan mas Yoga yang semakin salah tingkah.
Eh, apa cuma aku?
Karena sedetik kemudian, tanpa aba-aba mas Yoga meraih pinggangku, meniadakan jarak di antara kami. Benar-benar tanpa jarak.
Sorak 'hore!' makin menggema memenuhi ruangan.
Mungkin saat ini, mukaku sudah semerah tomat.
Sebal sekaligus malu bercampur menjadi satu. Berani-beraninya mas Yoga mencuri ciuman pertamaku di depan banyak orang.
Aku malu!
***
Kamar bercat biru ini dipenuhi wangian bunga. Di atas ranjang, kelopak mawar merah bertebaran. Membuat hatiku turut berbunga.
"Kamu suka?"
Mas Yoga datang dan memelukku dari belakang.
Aku mengangguk, masih memandangi kamarku yang sudah dihias sedemikian indahnya.
"Kali ini, apanya? Ruangannya atau, orangnya?"
Aku tersenyum, dia masih ingat ternyata.
"Sayangnya, aku masih menyukai tempatnya daripada orangnya," Aku jujur.
Mas Yoga melepaskan pelukan, berputar kemudian berdiri di hadapan, dengan menggenggam tanganku erat. Tidak ada raut kemarahan di wajahnya.
"Saat ini mungkin aku masih belum memasuki hati kamu, menjadi sesuatu yang kamu suka. Tapi, secepatnya aku akan buat kamu jatuh cinta setengah mati padaku."
Aku memutar bola mata, meremehkannya.
"Benarkah? Yakin, bisa?"
Mas Yoga tertawa sebentar, lalu menaikkan tangannya. Menyentuh bahu, dagu, dan beralih ke leher jenjangku.
Rasanya ada yang berdesir aneh saat dia menyentuh leherku. Rasanya geli, dan... Ah, perasaan macam apa ini?
Segera kujauhkan tangannya dari leherku, sebelum rasa aneh ini semakin menguasaiku.
"Kenapa? Takut jatuh cinta sama aku sekarang juga?"
Kali ini giliran aku yang tertawa.
"Kami nggak setampan itu untuk bisa buat aku jatuh cinta secara kilat."
"Oh, ya?"
Aku segera menutup mata ketika dengan gerakan secepat kilat mas Yoga merapatkan tubuhnya dengan tubuhku, menarik tengkukku agar lebih dekat lagi dengannya.
Dadaku berdegup kencang, rasa rasanya jantungku hendak meledak di tempat saking groginya.
Aku sering melihat adegan ini di drama-drama korea yang kutonton. Aku pikir rasanya akan mudah, tinggal kecup, lalu sudah.
Namun rupanya berciuman tidak sesederhana itu. Jantungku serasa mau copot dibuatnya. Setiap helaan napasnya menyentuh permukaan kulit, sebanyak itu pula desiran aneh serupa sengatan listrik mengalir cepat di nadiku.
Aku memang masih se polos itu. Jangankan untuk berciuman, berkontak langsung dengan lelaki tak pernah lebih dari pegangan tangan.
Jarak kamu sudah sangat dekat, hampir tak berjarak saat tiba-tiba saja ketukan pintu terdengar.
Mas Yoga melepasku cepat. Membuatku gelagapan. Rasanya, seperti ada yang masih kurang. Ekspektasi ku tak terpenuhi. Seketika ada perasaan kosong di hati.
Aku, kecewa?
Ah, tidak! Mana mungkin aku bisa kecewa hanya karena hal seperti itu? Aku bahkan tak pernah menginginkannya.
"Nia," panggilnya yang sekarang sudah berdiri di depan pintu.
"I-iya. Kenapa, mas?"
"Kamu nggak dengar? Tadi ibu ajak kita makan dulu."
Aku mengangguk, "Iya, mas."
"Ayo, dong! Iya, kok masih berdiri di situ, sih? Mereka udah nungguin, lho." Sekali lagi mas Yoga mengingatkan.
Sambil melangkah, aku menggaruk kepala yang tak gatal. Kok aku jadi linglung gini, sih?
****
"Makan yang banyak, Nak Yoga. Anggap ini rumah sendiri."
"Iya, Bu."
"Tania, ambilin dong, makanan buat suamimu," tegur ibu saat melihatku justru sibuk mengambil makanan untuk piringku sendiri.
Aku nyengir, menampilkan barisan gigiku yang putih dan rapi.
"Iya, Bu."
Seperti kebiasaan warga desa, malam ini dan untuk tujuh hari ke depan aku dan mas Yoga akan tinggal di rumah ibuku.
Bagaimanapun juga, aku anak bungsu. Pasti sulit bagi ibu melepasku begitu saja. Apalagi, aku baru tinggal di rumah satu bulan setelah lima tahun terakhir lebih banyak menghabiskan waktu di perantauan.
Mungkin ibu masih rindu denganku, itulah kenapa tadi siang selepas para tamu undangan satu persatu pulang, ibu mengajak ibu Idah, ibu mertuaku untuk berbicara perihal kepindahanku ke rumahnya.
"Tolong ya, Bu, kasih aku waktu. Aku belum siap kalau malam ini juga Tania harus pindah ke rumah Bu Idah," tawar ibu siang tadi.
"Aku terserah mereka aja. Kapanpun mereka mau pulang ke rumah, kami sekeluarga siap kok. Kamu gimana, Ga?"
tanya bu Idah pada mas Yoga.
Sementara mas Yoga justru kembali melemparnya padaku.
"Aku sih, terserah Tania aja, Bu."
Lalu ketiganya menatapku intens, menunggu jawaban.
"Bu, boleh nggak aku tinggal di sini dulu?"
Aku menatap ibu mertuaku.
Bu Idah mengangguk, menggenggam tanganku.
"Boleh dong, Sayang. Tapi jangan lama-lama, ya? Ibu juga pengen kalian tinggal sama Ibu," katanya kemudian memelukku erat.
Aku jadi lega, ibu mertuaku tak se mengerikan yang orang-orang ceritakan.
Beliau justru memperlakukanku dengan lembut, seolah aku ini anak kandungnya.
"Denger tuh, Nia, wejangan dari ibu. Kamu sekarang udah bukan anak gadis lagi, udah punya suami. Jaga sikap, perbaikan perangai burukmu." Mbak Rara mengingatkanku.
Aku mengangguk saja. Keasyikan melamun membuatku tak mendengarkan nasihat yang ibu sampaikan.
"Tahan napsu makanmu kalau sudah pindah ke rumah mertua. Jangan bikin malu!" Tambah mbak Rara yang langsung kubalas dengan pelototan tajam.
Mas Yoga tersenyum melihat aku dan mbak Rara saling beradu pandang.
"Emang, kenapa dengan napsu makan Tania, Mbak?"
"Dia tuh, kecil kecil begini, makannya banyak lho, Ga. Jangan kaget, ya?"
"Mbak Rara!" Aku merengut. Bisa-bisanya ada kakak menjatuhkan harga diri adik kandungnya sendiri di depan suami adiknya.
Sayangnya, kekesalanku justru ditanggapi dengan tawa oleh semua yang kini tengah duduk di meja makan.
Menyebalkan!
***
"Sudah tidur, ya?"
Badan yang semula menghadap jendela, ku balik begitu mas Yoga bersuara.
Agak canggung rasanya tidur pada ranjang yang sama dengan seorang lelaki. Itulah kenapa saat mas Yoga sedang menerima tamunya tadi, sengaja aku masuk kamar terlebih dahulu. Menyiapkan diri dan hati untuk hak yang mungkin akan segera mas Yoga minta.
Namun ternyata nyaliku langsung menciut begitu terdengar derap langkahnya yang kian mendekat, aku bahkan segera menutup seluruh tubuh dengan selimut tebal saat aku mendengar mas Yoga membuka pintu.
Di balik selimut yang membuatku pengap, dan dalam perasaan grogi yang menguasai, tiap detik saat itu terasa berdetak amat lama. Aku sampai mengira-ngira, sedang apakah gerangan mas Yoga di luar sana? Mengapa dia tak kunjung naik ke atas ranjang?
Aku? Menunggunya?
Ah, tidak ... tidak!
Aku tidak mungkin menunggunya melakukan hal itu padaku. Jelas aku begitu karena saking gugupnya.
Ku pejamkan mata, merasakan degup jantung yang kian kacau saat seluruh indera yang kuusahakan untuk fokus dan lebih peka, menangkap sinyal bahwa mas Yoga sudah berada di atas ranjang.
Di balik selimut tebal yang membuat keringat bercucuran, aku mendengar mas Yoga menyalakan televisi. Beberapa kali mengganti channel, mungkin masih mencari acara yang pas untuknya.
Nyaliku masih terlalu ciut untuk membuka selimut ini, walau untuk sekedar meraih gelas di atas nakas. Debaran di d**a masih sama kacaunya sejak pertama mas Yoga memasuki kamar, menyita seluruh oksigen di ruangan ini. Membuatku sulit bernapas.
"Dek," panggilnya lirih.
Aku masih bertahan dengan posisi miring, memunggunginya. Meskipun sudah mulai terasa pegal.
"Dek Tania." Sekali lagi mas Yoga memanggil.
Aku sudah tidak tahan, ingin sekali membuka kain tebal yang membungkus tubuhku mungkin sudah sejak setengah jam yang lalu.
"Sudah tidur, ya?"
Ah, sudahlah.
Akhirnya aku kalah juga. Badan yang semula menghadap jendela, ku balik menghadap ke arahnya. Sesekali menguap, seolah aku hanya menggeliat, bukan karena dia memanggilku.
Sambil mengucek mata, ku beranikan diri untuk bersuara.
"Belum tidur, mas?"
Aku tidak tahu apa yang salah, tapi tiba-tiba saja mas Yoga beranjak. Mengitari ranjang kami, kemudian mengambil air di atas meja.
"Nih, minum. Kamu haus," katanya sambil menyodorkan segelas cairan bening itu.
Membuatku melongo.
Dia yang sedang asyik duduk sambil menonton televisi, rela kenyamanannya diganggu hanya demi mengambilkan aku segelas air, yang letaknya persis ada di sebelahku.
"Makasih, mas." Segera kuteguk sampai habis cairan bening itu meskipun dalam benakku masih penuh tanda tanya. Darimana dia tahu kalau aku sedang haus?
"Suara serak mu itu menggodaku, tahu. Atau kamu sengaja?"
Hampir saja aku tersedak saat mas Yoga dengan percaya dirinya menuduhku tengah menggodanya.
"Suaraku memang begini tiap bangun tidur, jangan salah paham!"
Ku majukan bibir, sebal! Dia pikir aku w*************a apa?
Mas Yoga selalu saja terkikik geli, tiap kali aku sedang merajuk. Apanya yang lucu?
"Kamu lucu kalau sedang merajuk begini, buat aku gemas," aku mas Yoga, sambil mencubit kedua pipiku.
Wajahku memanas seketika.
Untuk beberapa saat, aku terdiam. Otakku mendadak berhenti berfungsi begitu sentuhan itu mendarat di pipi.
Baru sentuhan di pipi, dan otakku sudah di buat macet olehnya. Apalagi kalau mas Yoga meminta sesuatu yang lebih malam ini juga?
Aku menggeleng.
Ini tidak boleh terjadi.
"Nia, kamu kenapa geleng-geleng begitu?"
Ucapan mas Yoga mengembalikan kesadaran ku.
Dan saat kinerja otakku kembali, ku dapati mas Yoga menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan.
"Kamu nggak perlu takut begitu, aku nggak akan memaksamu. Akan kita lakukan kalau kamu sudah siap."
Aku masih belum mengerti dengan kalimatnya, sampai mas Yoga mengusap lembut puncak kepalaku lalu memutuskan untuk pergi keluar kamar.
Aku tercenung untuk waktu yang cukup lama. Memandangi pintu yang sudah tertutup sejak tadi.
Entah untuk ke berapa kali aku merubah posisi tidur, namun tetap tak kutemukan mas Yoga di sampingku.
Hingga pukul satu dini hari, mas Yoga tak juga kembali.
Seketika rasa sesal menggelayuti hati dan pikiranku.
Apa aku sudah keterlaluan terhadapnya?
***