Bercerita di atas ranjang

1521 Kata
Terdengar sepele.  Keinginan ku untuk menyempatkan waktu untuk mengobrol dan saling bertukar cerita tentang apa yang kami alami seharian ini sebelum kami terlelap dalam mimpi, nyatanya di mata mas Yoga dianggap sebagai hal yang tak penting.  Ia lebih suka untuk segera memejamkan mata setelah selesai bebersih.  Mungkin mas Yoga lelah dengan segala aktivitas nya di luar rumah. Tapi, apakah benar tak ada waktu barang sepuluh menit untuk mendengarkan aku bercerita?  "Kenapa? Kok diem gitu?"  Mas Yoga meletakkan ponselnya, lalu mengalihkan perhatiannya padaku. "Nggak apa-apa, mas. Cuma lagi pengen diem aja."  "Ada yang dipikirkan? Capek ya, di rumah? Sini tak pijitin."  Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan mas Yoga. Membiarkan ia memijit lembut pundak ku.  Ya, tentu saja lebih lelah mas Yoga dengan segala aktivitas nya demi mencari nafkah. Sedangkan aku, seharian hanya berdiam diri di dalam rumah.  Hanya pekerjaan pekerjaan ringan seperti menyapu atau mengepel yang bisa kulakukan.  Soal masak memasak, mama Ida lebih dulu mengerjakannya bahkan sebelum kami bangun.  Pukul tiga pagi, hampir setiap hari sejak pertama aku tinggal di sini, aku sering kali mendengar suara di dapur.  Dan benar saja, saat pagi kami terbangun rumah sudah rapi. Sarapan sudah tersaji di meja makan.  Sementara saat siang, menunya tak berubah.  Makan seadanya dengan sisa lauk sarapan.  Dan saat malam hari, mama biasanya meminta mas Yoga membeli makan di luar.  Aku hampir nggak pernah menyentuh dapur kecuali untuk membuat kan mas Yoga kopi, atau mi instan saat tengah malam ia kelaparan.  Jangan berpikir, aktivitas rumah yang begitu ringan ini membuat aku jadi nyaman dan berleha-leha.  Big NO!  Aku justru merasa sangat bosan. Hari terasa lebih lambat dari saat saat aku bekerja dulu.  "Udah, mas. Sini, biar aku yang gantian mijit."  Aku membalikkan badan, kemudian mulai memijit bagian kaki mas Yoga.  "Makasih ya, sayang." "Iya, mas. Sudah tugas aku buat berbakti sama kamu."  "Kamu memang istri idaman," kata mas Yoga lalu mengecup dahi ku.  "Coba ceritakan apa yang terjadi hari ini? Mas mau denger."  Akhirnya, mas Yoga mengutarakan pertanyaan yang beberapa hari terakhir aku ingin dengar.  Namun sayangnya, saat kalimat itu keluar dari mulut mas Yoga, hatiku justru mulai memikirkan hal lain.  "Nggak ada yang spesial mas. Biasa aja."  Pada akhirnya jawaban itu yang kuberikan.  "Bosan ya, di rumah terus seharian?" ### Terdengar sepele. Keinginan ku untuk menyempatkan waktu untuk mengobrol dan saling bertukar cerita tentang apa yang kami alami seharian ini sebelum kami terlelap dalam mimpi, nyatanya di mata mas Yoga dianggap sebagai hal yang tak penting. Ia lebih suka untuk segera memejamkan mata setelah selesai bebersih. Mungkin mas Yoga lelah dengan segala aktivitas nya di luar rumah. Tapi, apakah benar tak ada waktu barang sepuluh menit untuk mendengarkan aku bercerita? "Kenapa? Kok diem gitu?" Mas Yoga meletakkan ponselnya, lalu mengalihkan perhatiannya padaku. "Nggak apa-apa, mas. Cuma lagi pengen diem aja." "Ada yang dipikirkan? Capek ya, di rumah? Sini tak pijitin." Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan mas Yoga. Membiarkan ia memijit lembut pundak ku. Ya, tentu saja lebih lelah mas Yoga dengan segala aktivitas nya demi mencari nafkah. Sedangkan aku, seharian hanya berdiam diri di dalam rumah. Hanya pekerjaan pekerjaan ringan seperti menyapu atau mengepel yang bisa kulakukan. Soal masak memasak, mama Ida lebih dulu mengerjakannya bahkan sebelum kami bangun. Pukul tiga pagi, hampir setiap hari sejak pertama aku tinggal di sini, aku sering kali mendengar suara di dapur. Dan benar saja, saat pagi kami terbangun rumah sudah rapi. Sarapan sudah tersaji di meja makan. Sementara saat siang, menunya tak berubah.  Makan seadanya dengan sisa lauk sarapan. Dan saat malam hari, mama biasanya meminta mas Yoga membeli makan di luar. Aku hampir nggak pernah menyentuh dapur kecuali untuk membuat kan mas Yoga kopi, atau mi instan saat tengah malam ia kelaparan. Jangan berpikir, aktivitas rumah yang begitu ringan ini membuat aku jadi nyaman dan berleha-leha. Big NO! Aku justru merasa sangat bosan. Hari terasa lebih lambat dari saat saat aku bekerja dulu. "Udah, mas. Sini, biar aku yang gantian mijit." Aku membalikkan badan, kemudian mulai memijit bagian kaki mas Yoga. "Makasih ya, sayang." "Iya, mas. Sudah tugas aku buat berbakti sama kamu." "Kamu memang istri idaman," kata mas Yoga lalu mengecup dahi ku. "Coba ceritakan apa yang terjadi hari ini? Mas mau denger." Akhirnya, mas Yoga mengutarakan pertanyaan yang beberapa hari terakhir aku ingin dengar. Namun sayangnya, saat kalimat itu keluar dari mulut mas Yoga, hatiku justru mulai memikirkan hal lain. "Nggak ada yang spesial mas. Biasa aja." Pada akhirnya jawaban itu yang kuberikan. "Bosan ya, di rumah terus seharian?" "Mm... Begitulah." "Mau aku bawain temen?" "Temen siapa? Aku nggak ada temen akrab di sini." Mas Yoga terlihat berpikir sejenak. Ku pandangi wajahnya yang nampak kelelahan. "Ya sudah, mas. Tidur, yuk. Mungkin karena aku belum terlalu terbiasa di sini. Nanti kelamaan juga bakal bisa enjoy." Aku menyudahi percakapan kami agar mas Yoga bisa segera beristirahat. Aku tahu, mas Yoga pasti sedari tadi menahan lelah dan kantuk hanya karena melihat gerak-gerik ku yang sejak sore tadi lebih banyak diam. Kutarik selimut kemudian memposisikan diri membelakangi posisi duduk mas Yoga. Suasana hening beberapa saat. Sampai beberapa waktu berlalu, kurasakan mas Yoga membelai rambut ku. "Maaf ya, sayang. Mas belum bisa berikan kebahagiaan buat kamu. Dan terima kasih, untuk tidak mengeluh di depanku. Aku tahu, kamu merasa jenuh menjalani hari hari di sini. Tapi kamu memilih untuk diam dan tetap tersenyum di hadapanku. Mas merasa sangat beruntung memiliki kamu sebagai istriku. Terima kasih Tania." Tanpa terasa air mataku menetes mendengar rentetan kalimat yang mas Yoga ucapkan. Terdengar begitu tulus. Juga hangat. Aku masih pura pura terlelap saat mas Yoga membenahi selimut yang menutupi tubuhku. "Tidur nyenyak istriku," ucapnya kemudian mengecup keningku. Sungguh, rasanya begitu menenangkan diperlakukan begitu hangat oleh seorang suami. Tidak ada kebahagiaan yang lebih aku inginkan selain perhatian dan kasih sayang dari pasangan hidup. Terima kasih, Bu. Untuk lelaki terakhir yang Engkau pilihkan untukku.. ### Aku beringsut, merapatkan tubuh dan membenahi selimut yang tersingkap saat udara pagi menyapa kulitku yang terbuka. Dan saat itu juga, aku menyadari mas Yoga sudah tak ada lagi di sisiku. "Mas?" Ku lirik jam di nakas. Masih pukul 6 pagi. Tumben sekali mas Yoga sudah bangun sepagi ini. "Mah, mas Yoga tumben pagi pagi begini udah nggak ada di kamar. Mama liat nggak?" Aku menghampiri mama Ida yang sedang duduk di samping rumah sambil menikmati secangkir teh hangat. Kebiasaannya di pagi hari yang belakangan ini mulai bisa ku mengerti. "Kamu itu, loh. Suami bangun kok bisa nggak sadar gitu?" "Hehe, iya. Maaf ma. Pagi ini udah dingin banget, jadi aku ngerasa masih males buat bangun. Lagian kan hari ini hari Jum'at ya. Mas Yoga libur kerja." "Sini, duduk di samping mama. Tania sudah bikin teh?" "Sudah, ma. Itu, di dapur. Nunggu agak dingin dulu baru nanti diminum." "Duduk sini. Nikmati udara yang masih segar belum tercampur polusi." Aku mengikuti pandangan mama Ida yang menatap siluet pegunungan yang nampak membiru di antara langit pagi. "Ternyata, pemandangan di pagi hari dari sini bagus banget ya, Ma. Pantes aja mama suka banget duduk di sini." "Iya, kan. Apalagi kalau pagi gini, saat awan belum menutupi gambar gunung Slamet, itu." Mama Ida menatap penuh khidmat. Seolah ada banyak cerita yang tersimpan dari lukisan alam nan indah itu. "Oh iya, berapa usia kamu sekarang, Tania?" "25 mah." "25? Dulu, di usia itu, mama sama almarhum papanya Yoga masih senang senangnya karena baru punya Yoga." "Wah, Jadi, Mama sudah punya mas Yoga saat mama masih berusia 25 tahun." "Iya. Waktu itu, Yoga baru dua tahun. Masih aktif aktifnya. Masih suka main. Lari karuan ngejar temannya yang usianya jauh di atas dia." "Pasti lucu banget mas Yoga kecil." "Iya. Lucu banget. Tapi karena keuangan, masa kecil Yoga jadi kurang perhatian dari papanya. Almarhum papanya begitu sibuk banting tulang cari uang. Pergi kemana aja demi saat pulang, bisa bawa rupiah. Termasuk pergi ke sana." Mama Ida menunjuk ke arah siluet gunung di hadapan kami. "Bekerja di gunung?" "Iya. Nggak seperti sekarang yang apa apa serba dipermudah, dulu papanya Yoga pergi ke sana naik sepeda onthel. Sesekali nebeng truk atau mobil pick up kalau kalau di jalan ketemu kenalan yang jadi supir." "Almarhum papa, tangguh banget ya, ma." "Itulah makanya Yoga kekurangan kasih sayang sosok seorang ayah meski waktu itu papanya masih hidup. Karena seumur hidupnya almarhum habiskan waktu untuk bekerja. Pergi pagi pagi sekali, demi mengejar agar bisa sampai di tempat ia bekerja tepat waktu. Kemudian pulang hampir setiap hari menjelang Isya. Lalu tidur karena sudah sangat kelelahan." Aku mendengarkan dengan khidmat kisah masa muda mama Ida dan mas Yoga. Tak berniat untuk menyela. "Yoga kecil, seringkali merengek minta di gendong papa nya kalau lagi nggak enak badan. Tapi mau gimana, papanya bukan pegawai kantor yang punya hari libur. Bukan juga orang kaya, yang kalau libur kerja sehari saja, nggak akan jadi masalah." "Pasti sulit banget ya, ma. Jadi Mama." "Tapi hidup harus berjalan, Tania. Mau bagaimana lagi, kalau bisa milih pasti papanya lebih milih ada di samping Yoga." "Iya, ma. Pastinya seorang ayah ingin selalu mendampingi tumbuh kembang anak nya." "Jadi, Tania. Tolong kamu jangan cemburu kalau Yoga begitu terikat sama Mama. Karena, dari bayi sampai Segede sekarang dia selalu bareng sama mama. Mama adalah cinta pertama Yoga." "Iya, ma. Tania nggak akan cemburu, kok." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN