Tinggal bersama mertua

1018 Kata
"Assalamualaikum..."  Aku dan mas Yoga mengucap salam bersamaan setelah mas Yoga mengetuk pintu.  "Wa'alaikumussalam... Tania, Yoga. Mama kangen banget sama kalian. Akhirnya kalian ke sini."  "Iya, ma. Mama apa kabar?"  Aku dan mas Yoga menyalami mamah Ida bergantian.  Dan saat itu, aku baru menyadari Mamah mertuaku ini tangannya sudah mulai keriput. Tak semulus sewaktu ia muda dulu. Mungkin, tenaganya juga telah banyak berkurang. Tak selincah ketika ia masih muda.  "Asma dimana, ma? Kok sepi?" Tanya mas Yoga.  "Asma lagi sekolah. Biasanya pulang jam dua belas lewat."  "Owh, iya."  "Yasudah, kalian masuk. Kamarnya sudah mama siapkan sejak kemarin. Semoga kamu betah tinggal sama mama ya, Tania."  "Iya, mah. Tania pasti bakal betah tinggal di sini." Meski bukan kali pertama aku datang dan masuk ke rumah ini, tapi rasanya masih terlalu canggung. Meski begitu, aku tidak boleh menunjukkan kecanggungan ku di hadapan mas Yoga apalagi mama Ida.  Segera kurapikan beberapa potong pakaian yang ku bawa dari rumah. Ku susun dengan rapi barang bawaan ku ke dalam lemari kayu yang sudah tersedia di dalam kamar.  "Ini kamar kamu, mas?"  Tanyaku begitu mas Yoga masuk ke dalam kamar. Sebelumnya, saat aku masuk mas Yoga izin untuk ke toilet lebih dulu.  "Iya, Tania. Ya, beginilah kamar bujangan. Nggak berbentuk."  Aku tersenyum menanggapi ucapan mas Yoga.  Ya, memang benar. Kamar berukuran 3 kali 3 meter ini memang terlihat sangat berantakan.  Poster bintang luar yang mengotori dinding, jendela kamar yang entah kapan terakhir kali dibuka, juga pakaian yang disusun tak beraturan di dalam lemari. "Nggak kaget juga, sih."  "Wah, maksudnya apa, niih kamu nggak kaget? Memang, terlihat jelas gitu di raut mukaku?"  "Bukan aku loh, yang ngomong. Mas Yoga sendiri yang ngaku," kataku sambil menahan tawa.  "Ya, ya... Mas akui, mas memang malas banget kalau disuruh mandi." "Dasar jorok!"  Kulempar sebuah handuk ke arahnya. "Eh, tapi mas pagi tadi udah mandi, kok sebelum ke sini."  "Siapa juga yang nyuruh mas Yoga buat mandi."  "Lah ini, handuk buat apa?"  "Masukin ke keranjang kotor di belakang. Baunya udah apek. Kapan sih terakhir kali dicuci?" "Kapan, yah? Mm... Bulan lalu mungkin."  "Jorok!! Amit amit!"  Mas Yoga justru tertawa melihat raut mukaku yang kegelian. "Berarti, selama satu Minggu di rumah kemarin, mas Yoga cuma akting aja gitu?"  Mas Yoga mengendikkan bahu.  "Ya, mau gimana lagi, masa mas harus ngebiarin istri dan mertua mas tahu sifat asli mas yang sebenarnya," katanya lalu tertawa.  Awalnya, aku tanggapi perkataan mas Yoga sebagai sebuah candaan. Nyatanya, setelah hampir satu bulan tinggal di sini aku baru sadar, ternyata yang mas Yoga ucapkan di awal awal kepindahan kami itu bukanlah lelucon. Melainkan sebuah kejujuran.  Satu hari berselang setelah kami pindah, handuk bercecer di atas kasur, lemari yang tak pernah rapi isinya, sandal yang berserakan tak beraturan di depan pintu, menjadi pemandangan sehari-hari yang kutemui.  Rasanya ingin sekali mengeluh. Tapi, sepertinya hampir semua penghuni di rumah ini sama sekali tidak terlihat risi dengan pemandangan yang antah berantah ini. Aku, yang sejak kecil dididik bapak untuk selalu rapi dan rajin setiap kali memakai barang, seringkali harus mengembuskan napas dan mengelus d**a saat di sini menemukan barang yang diletakkan tidak di tempat yang semestinya.  "Asma, sapu di mana, ya? Perasaan pagi tadi masih ada di sini?"  Tanyaku pada adik bungsu mas Yoga saat aku kesulitan menemukan sapu. "Oh, sapu, ya. Ada tuh mbak di depan. Tadi baru aja Asma pake." "Kenapa nggak ditaruh di tempatnya lagi sih, As? Mbak kan jadi susah nyarinya."  "Ya, maaf. Asma lupa," jawab remaja tiga belas tahun itu sambil melenggang tanpa rasa bersalah.  Entah, untuk kali ke berapa aku harus bersabar menghadapi orang orang di rumah ini. Termasuk di depan mas Yoga.  "Assalamualaikum. Mas pulang."  "Wa'alaikumussalam, mas. Tumben pulang cepat." Ku sambut mas Yoga di depan pintu. Menyalami tangannya penuh khidmat, lalu mengambil alih barang yang ia bawa.  "Iya, nih. Lagi nggak banyak kerjaan di kantor. Jadi bisa pulang lebih awal. Oh iya, mas beliin martabak kesukaan kamu tuh. Dimakan, ya."  Senyumku seketika mengembang, begitu mendengar mas Yoga membelikan sesuatu untukku.  Hal sepele, yang mampu membuat mood ku seketika membaik.  "Makasih, ya, mas," ucapku lalu mencuri cium dari lelaki ku.  Segera ku taruh tas kerja mas Yoga di kamar, kemudian menuju dapur. Hendak menghidangkan martabak yang baru saja mas Yoga beri.  Tapi sayangnya, senyum yang semula merekah, terpaksa harus ku simpan lebih awal begitu kantong kresek dengan kotak di dalamnya ku buka, ternyata tidak sesuai dengan yang kubayangkan.  "Wah, martabak manis. Kesukaan mama."  Mama Ida, entah dari mana tiba tiba saja muncul di belakang ku.  "Ini, Yoga yang bawa?" "I-iya, mah. Mas Yoga yang beli sepulang kerja."  Jawab ku agak terbata. Masih belum kembali dari ekspektasi yang terlanjur tinggi.  "Ya sudah. Tolong kamu taruh di piring, ya, Tania. Terus taruh di meja ruang tengah, biar semua bisa makan." Aku hanya mengangguk mendengar instruksi dari mama Ida.  Padahal, aku sudah membayangkan betapa lezatnya martabak telur yang renyah. Ditambah cocolan saus. Pasti enak sekali kalau dinikmati sambil nonton sinetron ataupun gosip.  Tapi, ya sudahlah. Mungkin mas Yoga lupa, kalau istrinya ini lebih suka makanan yang pedas gurih ketimbang yang manis manis.  "Mas mandi aja. Nanti baju gantinya biar aku yang siapin." Aku kembali ke kamar begitu selesai meletakkan martabak manis di ruang tengah.  "Iya, sayang. Makasih ya, udah jadi istri yang baik untuk aku." Mas Yoga mengecup keningku sebelum keluar kamar.  Hatiku kembali menghangat. Ternyata perasaan wanita se lembek ini. Rasa kecewa bisa dengan mudah di lunturkan dengan perlakuan sederhana. "Jangan, lupa martabak nya di makan, ya. Itu mas beli di tempat langganan yang terkenal paling enak di daerah sini." Ternyata mas Yoga belum benar benar pergi. Kepalanya menyembul dari tirai di depan pintu kamar, sambil memamerkan deretan giginya yang gingsul.  "Iya, mas. Sudah sana mandi. Nanti kita makan sama sama."  "I love you, istriku." "Iya, iya. Love you too. Sudah sana mandi...." Senyumku tak bisa berhenti mengembang sekarang.  Yah, mas Yoga memang terkadang melakukan kesalahan. Tapi bukankah itu menunjukkan bahwa dia masih seorang manusia biasa? Jadi, ku putuskan untuk memaafkan kesalahannya. Toh hanya hal sepele.  Lusa, atau entah kapan mungkin nanti giliran aku yang melakukan kesalahan.  Dan aku yakin, mas Yoga pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan.  Yaitu, saling memaafkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN