Sensasi berumah tangga

998 Kata
Ketika kita menemukan pasangan yang pas dengan diri kita, maka percayalah, hal hal yang semula terasa membosankan atau bahkan yang paling tidak kamu sukai dalam hidupmu sebelumnya, akan jadi sesuatu yang ingin sekali kamu lakukan hanya demi menarik perhatiannya. Mengharap pujiannya. Seperti yang tengah aku lakukan sekarang. Yap, memasak. Jaman gadis, mana pernah aku berkutat dengan hawa panas dan menghabis waktu di depan kompor menunggu masakan matang. Tapi sekarang, setelah resmi menyandang gelar istri aku bahkan lebih memilih untuk bersepeda setelah sholat subuh menuju pasar, ketimbang kembali bergumul dengan selimut yang hangat. Rutin setiap hari semenjak aku menikah, aku sendiri yang pergi ke pasar tradisional untuk belanja berbagai kebutuhan dapur. Untuk memastikan setiap sayuran yang aku masak, selalu fresh setiap hari. Komentar ibu? Ya, pastilah pangling dengan perubahan drastis dari putri bungsunya ini. "Kalau gitu, kenapa nggak ibu nikahi kamu dari dulu aja, ya.." Kata ibu waktu melihat ku begitu serius bermain pisau di dapur. Dan mbak Rara? Tentu saja dia yang paling semangat meledekku. Tapi kubiarkan saja. Suasana hatiku sedang bahagia. Aku hanya menanggapi ledekan mereka dengan tawa. Sesekali menyeletuk demi membela diri kalau ucapan mbak Rara sudah menyerempet harga diriku yang setinggi langit. "Rajin banget sih, istriku." Sepasang tangan kekar memelukku dari belakang. Membuyarkan lamunanku. "Mas, apaan ini. Kalau ada yang lihat gimana?" "Ya memang kenapa? Kita kan udah sah jadi suami istri. Udah halal." Mas Yoga malah semakin mengeratkan pelukannya. "Iya, tapi kan sekarang kita masih di rumah ibu. Nanti kalau ibu atau tiba tiba mbak Rara Dateng terus liat kita lagi begini, gimana?" "Biarin aja." Tepat saat mas Yoga mengecup pipi, terdengar suara seseorang yang tengah terbatuk-batuk, seolah baru saja tersedak. "Aduh! Kayaknya aku salah timing deh, ini." Baru saja dibicarakan, mbak Rara kini tengah berdiri di ambang pintu. Rumah mbak Rara memang berada persis di sebelah rumah ibu. Tujuannya, agar bisa selalu dekat dengan Ibu dan bisa menjaga ibu setiap saat. "Mbak Rara." Aku dan mas Yoga dengan spontan melepas pelukan kami. "Yaudah, yaudah... Lanjutin aja kalian mesra mesraanya. Mbak mending pulang aja. Nggak bagus emang, masuk ke rumah orang yang ada pengantin barunya. Bikin mual!." Mbak Rara mengatakan itu sambil memutar badan dan melambaikan tangan. Lalu berjalan menjauh. "Kamu, sih!" kataku sambil menepuk pundak mas Yoga. "Apa? Mau peluk lagi? Sini." Dan bukannya memeluk, namun lebih dari itu. Mas Yoga justru menggendong ku dengan gaya ala ala Bridesmaids. "Biarin aja seluruh dunia lihat adegan ini. Biar mereka iri, berapa romantisnya kita berdua." Aku dan mas Yoga saling bertatapan kemudian tertawa bersama. Menertawakan tingkah kami yang konyol dan tak tahu malu. **** "Bu, Pak, besok Tania sama mas Yoga mau ke rumah Mama Ida." Ibu menatap kami lekat. Sementara bapak mulai memperbaiki posisi duduknya. "Bapak sama ibu nggak mempermasalahkan kalian mau tinggal dimana. Senyaman nya kalian aja. Tapi, kalian juga harus sering sering main ke sini. Ngunjungi kami." "Iya, pak. Kalau sempat dan ada waktu luang aku sama mas Yoga pasti bakal ke sini. Iya, kan, mas?" "Iya, Pak. Bapak sama Ibu nggak usah kuatir. Kami pasti akan sering berkunjung." "Tania, kamu di sana jangan bikin ulah, ya. Nurut sama mama mertua kamu. Jangan suka membangkang, kayak kalau sama ibu." "Ibu... Apa, sih?" Aku memajukan bibir. Memasang ekspresi merajuk. Sementara yang lainnya justru tertawa melihat ekspresi ku. "Bangun pagi. Tidurnya jangan kayak kebo, susah bener dibangunin." Mbak Rara menyahuti, lalu ikut duduk di ruang keluarga. "Iya, mbakku yang bawel!" Aku menjulurkan lidah tanda sebal. Heran, nggak ada habis habisnya ibu sama mbak Rara meledekku. "Sudah sudah. Berhenti meledeki Tania. Kasihan itu mukanya udah merah kayak tomat mau busuk." Aku hampir saja bahagia mendengar bapak yang membelaku. Tapi perkataan di ujung kalimatnya membuat aku semakin merengut. "Dih, bapak!" Semua yang ada di ruangan tertawa. Ya tentu saja, terkecuali aku yang jadi korban bullying di sini. "Tania, ibu harap kamu bisa memperlakukan ibu mertuamu seperti kamu menyayangi ibu. Insyaallah, surga untukmu, sayang kalau kamu mampu berbakti kepada suami dan ibu mertuamu." Ibu menasehati ku dengan serius. Beliau memang sosok yang seperti itu. Di setiap candaan kami, selalu ia selipkan nasihat yang berguna bagi kami anak anaknya. "Jangan berebut perhatian dengan ibu mertuamu. Jangan merasa cemburu kalau Yoga lebih mementingkan ibunya dari pada kamu," imbuhnya. "Iya ibuku sayang. Jangan khawatir. Tania udah ngerti, kok." Kataku meyakinkan. "Baguslah kalau Tania yang manja sekarang udah mulai ngerti soal per-rumah-tanggaan. Awas, ya. Mbak nggak terima telepon tengah malam." Ancam mbak Rara diselingi tawa. "Siapa juga yang mau nelpon mbak Rara. Nggak penting!" Aku balas meledek. "Ya sudah, sudah. Hentikan ledek ledekannya. Kalian itu, sudah besar tapi kelakuan nggak pernah berubah. Masih saja suka berdebat kayak kucing sama tikus." Bapak menengahi kami yang mulai adu pelototan. "Ya, sama kayak bapaknya ini. Kalau adu argumen nggak mau kalah. Pokoknya, pantang diam sebelum menang." "Hah? Emang iya, Bu?" Aku beringsut. Menajamkan pendengaran siap untuk mendengarkan kisah klasik kedua orangtuaku. "Iya, Nia. Persis kalian. Dulu, ibu sama bapak kalau debat nggak kenal waktu. Pokoknya lanjut terus sampai satu di antara kami ada yang ngalah." "Terus, akhirnya siapa dong yang ngalah, Bu?" Tanya mbak Rara tak kalah antusias. "Terpaksa ibu yang ngalah. Daripada ngeladenin bapak kalian. Bisa sampai subuh nggak berhenti ngoceh." "Ngalah apa kehabisan amunisi, hayoo?" Ledek bapak. "Enak aja kehabisan amunisi. Ibu tuh males kalau debat sama bapak. Bawaannya ngotot terus." Bapak melirik aku dan mbak Rara bergantian. "Kalian lihat, kan. Siapa di antara ibu sama bapak yang suka ngotot kalau lagi ngomong? Biar fakta yang berbicara." Aku, mas Yoga dan mbak Rara tertawa serentak. Tentu saja kami tahu siapa di antara kami sekeluarga yang paling tidak bisa dibantah saat berbicara. "Kalian kok gitu? Malah belain bapak? Nggak percaya sama cerita ibu? Yasudah, bapak malam ini tidur di luar!" Ibu memalingkan wajahnya. Membelakangi bapak yang duduk di sebelahnya. "Yah, bapak sih. Ibu marah kan jadinya." "Iya, deh iya. Bapak yang salah. Maaf ya, Bu." Ibu masih bertahan pada posisinya meskipun bapak berusaha merayu. Kami semua tahu, ibu hanya berpura-pura merajuk. Karena ibu adalah wanita paling penyabar yang pernah aku temui di dunia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN