Detik waktu seakan berjalan melambat. Setiap dentingan serasa mencekik.
Pukul delapan malam, selepas bersantap malam dan menghabiskan waktu untuk mengobrol di teras rumah sebentar, aku menunggu di sisi ranjang dengan perasaan cemas.
Menuruti ucapan mbak Rara siang tadi, aku mengenakan mengenakan lingerie yang kudapat saat pernikahan kemarin, dan ternyata itu adalah pemberian mbak Rara.
Juga mengenakan wewangian yang lembut dan tidak terlalu menyengat.
Rambut yang sehari hari ku ikat asal, malam ini kubiarkan tergerai.
Anehnya, tanganku tak hentinya mengeluarkan keringat meski kipas di dalam kamar tak pernah mati sejak saat pertama kali aku memasuki ruangan.
Perasaan gugup membuat jantung ku bekerja lebih keras. Memompa darah ke otak lebih cepat dari biasanya.
Dan akhirnya, setelah hampir setengah jam aku menunggu dengan was was, Pintu kamar berderit. Pertanda seseorang telah membuka kenop nya.
"Ternyata kamu sudah di kamar, Dek? Mas kira kamu kemana tadi kok buru buru masuk ke dalam."
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan mas Yoga.
Sengaja aku masuk terlebih dahulu untuk mempersiapkan diri. Mengganti pakaian, memakai wewangian, juga berdandan dengan riasan yang ringan namun tidak terlalu mencolok.
Dan tentu saja, susah payah ku atur mental ku agar bersiap untuk sesuatu yang besar ini.
"Rambut kamu bagus banget kalau digerai kayak gini."
Mas Yoga mulai duduk di sebelah ku. Mengusap rambutku yang hitam panjang.
"Iya, mas. Memang dari dulu rambutku ini yang paling lebat dan hitam dibanding sama mbak Rara," jawabku berusaha mencairkan suasana.
"Makasih, ya. Sudah mau menjaga keindahannya cuma buat mas," katanya sambil mencium beberapa helai rambut.
Tarikan napasnya mendalam. Lalu embusan nya mengenai kulit di area sensitif ku, membuat bulu kuduk ku seketika meremang.
"Dek."
Mas Yoga memegang pundak ku. Membalikkan tubuh ku, membuat kami saling bertatapan.
"Kamu sudah siap?"
Tatapannya begitu hangat dan dalam.
Membuatku terbuai, terseret arusnya yang melenakan. Membuat kepalaku mengangguk tanpa diperintah.
Mas Yoga tersenyum sekilas. Lalu seketika, ia meniadakan jarak di antara kami.
Bibirnya dengan lembut menempel lalu menekan bibirku begitu dalam.
Aku terbuai.
Ciuman pertamaku membuatku menutup mata.
Dan perasaan kosong itu, seketika hilang saat mas Yoga tiba tiba menjauh.
Membuat mataku kembali terbuka. Mencari kehangatan yang baru saja kurasakan.
"Kamu sudah siap untuk lebih dari sekedar itu?"
Dan entah mendapat keberanian dari mana, tanganku meraih leher jenjang milik mas Yoga dan kembali merapatkan tubuh.
Mencumbu lebih intens dari sebelumnya.
Kulihat sekilas mas Yoga tersenyum di antara ciuman kami.
Lalu kurasakan lidahnya bermain main diantara kedua bibirku, seakan meminta ku untuk membukanya.
Aku menurut.
Tubuhku seakan menginginkan lebih dari ini.
Dan entah sejak kapan, kini aku telah terlentang di atas ranjang dengan mas Yoga yang masih menempel di atasku.
Ciumannya terlepas.
Kemudian beralih ke leherku yang sedari tadi sepertinya sudah menarik perhatiannya.
Aku menggelinjang geli saat lidahnya bermain di sana. Beberapa kali mengecup, hingga menyesap di beberapa bagian.
Sungguh perasaan apa ini yang membuatku menjadi tak berdaya.
Aku seakan menikmati setiap permainan yang mas Yoga lakukan di atas tubuhku. Setiap sentuhan demi sentuhan, membuat perasaan ku melayang.
Perasaan mendamba dan selalu ingin lebih lagi.
"Mas,"
Aku mendesah pelan saat kedua tangannya bermain di area dadaku.
Memutar mutar di bagian kiri, dan menyesap di bagian lainnya.
Rasanya begitu nikmat.
Belum pernah kurasakan kenikmatan serupa sebelumnya.
"Aaah...."
Desahan itu lagi lagi lolos dari bibirku tanpa ku sengaja.
"Iya, sayang. Mendesah lah, aku senang mendengarmu mendesah."
Ku turuti keinginan mas Yoga. Melepaskan desahan desahan yang sedari tadi sekuat tenaga ku tahan.
Tubuh kami mulai panas.
Keringat bercucuran seiring gerakan yang semakin liar.
"AKh!"
Jeritanku lolos saat mas Yoga tiba tiba memasukkan miliknya ke dalam milikku.
"Maaf, sayang. Mungkin ini akan sedikit sakit. Tapi ku yakin hanya sebentar, dan seterusnya kamu akan merasa lebih enakan."
"I-iya, mas. Te..eh,ruskkaa..aan."
Dan benar saja rasa sakit yang aku rasakan di awal tak sebanding dengan kenikmatan demi kenikmatan yang aku rasakan setelah nya.
Mas Yoga memperlakukan ku begitu lembut dengan gerakan berirama.
Kemudian mempercepat gerakan saat ia semakin dekat dengan klimaks nya.
Aku hanya bisa menutup mata, merasakan betapa nikmatnya malam ini.
"Sayang, aku sudah tak ta..haann.... Aakkh."
Mas Yoga ambruk di atasku sesaat setelah ia berhasil menyelesaikan misinya.
Memelukku dengan sayang, yang langsung ku balas dengan pelukan hangat.
"Terima kasih, untuk malam pertama yang begitu indah, sayang," ucap mas Yoga lalu mengecup keningku dengan penuh cinta.
Kami saling berbagi kehangatan melalui sebuah pelukan dengan masih tanpa mengenakan sehelai benangpun menutupi tubuh kami.
Lalu susah payah ku raih selimut yang sudah teronggok di bawah kakiku, untuk menutupi tubuh polos kami.
Dan siapa sangka, kami bertahan pada posisi ini hingga menjelang subuh.
Saat kurasa dingin udara pagi menyentuh kulit yang tak tertutup selimut, baru kusadari tubuhku masih terbuka.
"Mau kemana, sayang?"
Mas Yoga menahan gerakan ku yang hendak turun dari ranjang.
Rupanya ia begitu sensitif, hanya dengan sedikit gerakan yang ku hasilkan, ia bisa dengan mudah merasakan.
"Mau ke kamar mandi, mas. Sebentar lagi adzan subuh."
Mas Yoga meletakkan kepalanya di atas paha ku.
Menatapku dengan wajah polos sehabis bangun tidur miliknya.
"Satu permainan lagi, boleh?"
Tanyanya dengan tatapan polosnya.
"Tapi, mas..."
"Ayolah..." Rengek nya sembari memainkan jemarinya di atas kulitku yang masih tak tertutupi
Aku tersenyum malu, lalu dengan pelan menganggukkan kepala.
"Yes!"
Dan tanpa menunggu lama lagi ia melancarkan aksinya untuk yang kedua kalinya.
Ia menutupi seluruh tubuh kami dengan selimut, lalu kembali memulai permainan panas kami.
Saat itu, udara pagi yang biasanya terasa begitu dingin hingga menusuk tulang, kurasakan justru kehangatan yang sebelumnya tak pernah ku rasakan.
Sungguh, pengalaman indah yang mungkin tak akan pernah lupakan.
****
Aku duduk di depan cermin. Menatap wajahku yang sepagi ini tak hentinya mengulum senyum.
Baru kusadari, mas Yoga meninggalkan kiss Mark di beberapa bagian di tubuhku.
Salah satunya yang mencolok adalah di bagian leher.
Sekarang, setelah permainan semalam berakhir aku harus memikirkan bagaimana caranya menutupi penanda ini?
Melalui pantulan kaca, ku lirik mas Yoga yang memilih untuk kembali tidur setelah kami selesai melakukan ibadah sholat subuh.
Hari ini ia libur kerja. Menggantikan hari kemarin yang terpaksa ia harus berangkat untuk mengisi kehadiran rekan kerjanya yang tiba-tiba cuti akibat mengalami kecelakaan.
"Masih ada banyak waktu untuk bersantai seharian ini," ucapnya tadi sebelum kembali menutup mata.
Aku? Mana bisa aku tidur lagi setelah dinginnya air pagi mengguyur seluruh tubuh.
Dan juga, aku menghindari bersentuhan fisik dengan mas Yoga atau, kami akan berakhir dengan ronde yang ketiga.
Ah, memikirkan nya saja membuatku tersenyum sendiri.
Lebih baik aku keluar kamar dan bersiap menyiapkan makanan, dari pada di dalam kamar pikiran ku hanya tertuju pada adegan adegan itu.
Tania, tolong. Kembali waras!!